Sastra, Keluarga, dan Kehilangan

mahasiswa ilmu komunikasi UNS
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Adinda Mahira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Resensi Novel: Tulisan Sastra

Kamu pernah nggak, baca novel yang awalnya bikin kamu senyum senyum sendiri, eh tiba-tiba di akhir bikin dada sesak? Nah, itu yang aku rasakan waktu baca Tulisan Sastra karya Tenderlova. Makanya aku mau cerita ke kamu, siapa tahu kamu pernasaran dan mau baca juga.
Novel ini tentang seorang cowok bernama Andhika Sastra Gautama, tapi semua orang manggil dia Sastra. Dia anak tengah dari tujuh bersaudara di keluarga Suyadi. Bapaknya sudah meninggal karena sakit, jadi Mama yang membesarkan anak-anaknya sendirian. Kakak sulungnya, Bang Tama, kerja jauh di Balikpapan dan jarang pulang, tapi dia rajin kirim uang buat kebutuhan rumah dan sekolah adik-adiknya. Bayangin, keluarga sebesar itu dan semuanya saling jaga.
Yang bikin rumah mereka tetap hidup itu ya Sastra. Anaknya jahil banget, apalagi ke Mas Jovan, kakaknya. Ada saja ulahnya yang bikin kakaknya kesal tapi ujungnya semua tertawa. Ke mana-mana dia bawa gitar, dan diam-diam dia punya mimpi besar: tampil di panggung sebagai pianis. Kuliahnya pun di jurusan Sastra Indonesia. Jadi kalau kamu lagi cari tokoh yang bikin betah dibaca, Sastra ini orangnya. Aku sendiri jadi sayang banget sama dia sejak awal, dan menurutku di situlah kekuatan novel ini. Penulisnya bikin kita lebih dulu jatuh sayang pada Sastra lewat adegan-adegan receh yang hangat.
Sastra juga sangat mengagumi Bapaknya. Ada satu bagian yang menurutku paling nempel di kepala, yaitu obrolan Sastra dengan Bapak soal "jejak wangi" dan "jejak busuk". Intinya, setiap orang pasti meninggalkan jejak di hidup orang lain, dan kita sendiri yang memilih mau dikenang sebagai kebaikan atau keburukan. Waktu baca bagian ini, rasanya kayak ikut duduk ngobrol sama seorang ayah. Dan jujur, akku belum sadar betapa pentingnya kalimat ini sampai alau tiba di bagian akhir.
Lalu ada Sahara, cewek yang dicintai Sastra. Sayangnya, di awal Sahara cuma menjadikan Sastra tempat pelarian karena hatinya masih tertuju pada orang lain. Kalau aku jadi Sastra, mungkin sudah menyerah dari dulu. Tapi dia tidak. Dia sabar, rela berkorban, dan terus berjuang walaupun usahanya sering tidak dihargai, sampai akhirnya Sahara pelan-pelan luluh dan benar-benar jatuh cinta. Di sini aku kagum sama kesetiaannya, tapi di sisi lain aku juga sempat gemas dan berpikir, "Sas, kamu juga harus sayang sama diri sendiri." Menurutku itu pelajaran tersendiri: berjuang boleh, tapi jangan sampai lupa menjaga diri.
Nah, di saat hubungan mereka akhirnya terasa indah, ceritanya berbelok. Sastra mengantar Sahara pulang di tengah hujan deras, lalu mengalami kecelakaan hebat di perjalanan. Dia dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis dan tidak tertolong. Aku sampai berhenti membaca beberapa saat karena nggak siap. Rumah yang tadinya ramai oleh tawa dan kejahilannya mendadak sepi. Mama dan saudara-saudaranya hancur, dan Sahara dihantui penyesalan karena baru menyadari ketulusan Sastra setelah semuanya terlambat.
Setelah selesai membaca, aku baru paham maksud "jejak wangi" tadi. Sastra memang pergi cepat, tapi yang tertinggal darinya adalah tawa, kebaikan, dan ketulusan. Itu jejak wangi yang terus dikenang oleh keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan Sahara. Dari situ aku mengambil beberapa pesan. Pertama, kita yang menentukan jejak apa yang kita tinggalkan, jadi berbuatlah baik selagi sempat. Kedua, kebersamaan tidak berlangsung selamanya, jadi hargai orang-orang yang kita sayang selagi mereka masih ada di dekat kita. Ketiga, jangan menyia-nyiakan orang yang tulus, karena penyesalan Sahara membuktikan bahwa menyadari sesuatu setelah kehilangan sudah tidak bisa memperbaiki apa pun.
Ada satu hal lagi yang menurutku berkesan. Walaupun cerita ini sedih, keluarga Suyadi menunjukkan bahwa keluarga yang saling menguatkan bisa bertahan menghadapi kehilangan. Lihat saja Bang Tama yang menopang adik-adiknya dari jauh, dan Mama yang tetap berdiri untuk anak-anaknya. Itu bikir ku merasa novel ini bukan sekadar kisah cinta, tapi juga tentang keluarga, tanggung jawab, dan mimpi.
Soal gaya bahasanya, ringan dan santai banget, seperti obrolan anak muda, jadi gampang diikuti. Hanya saja ada beberapa kata kasar yang mungkin kurang nyaman buat sebagian pembaca. Kekurangan lain menurutku, beberapa bagian yang emosional membuat alurnya agak lambat, dan tokoh dalam keluarga Sastra yang banyak itu butuh waktu untuk dihafal satu per satu
Jadi kesimpulanku, Tulisan Sastra layak kamu baca, apalagi kalau kamu suka cerita keluarga dan percintaan yang menyentuh tapi penuh pesan hidup. Siapkan tisu, ya. Dan setelah menutup bukunya, aku jadi bertanya pada diriku sendiri: nanti kalau aku pergi, jejak apa yang akan orang kenang dariku? Semoga jejak wangi, seperti Sastra.
