Konten dari Pengguna

Gelar Akademik: Jalan Sukses atau Ilusi Sosial

Nova Dwiaryanti
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Prodi Pendidikan Matematika
7 Januari 2026 13:36 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Gelar Akademik: Jalan Sukses atau Ilusi Sosial
​​​​​Gelar akademik tidak selalu menjamin sukses; wacana “anak kuliah itu scam” menantang mitos tersebut.
Nova Dwiaryanti
Tulisan dari Nova Dwiaryanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi wisuda. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wisuda. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Gelar akademik selama bertahun-tahun dipandang sebagai simbol keberhasilan dan jaminan masa depan yang lebih baik. Dalam konstruksi sosial masyarakat Indonesia, pendidikan tinggi sering dianggap sebagai jalan utama—bahkan satu-satunya—menuju kesuksesan ekonomi, status sosial, dan pengakuan publik. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul wacana kritis di ruang digital dengan istilah provokatif “anak kuliah itu scam”. Ungkapan ini menjadi refleksi kekecewaan generasi muda terhadap realitas pascakampus yang tidak sejalan dengan janji manis pendidikan tinggi. Esai ini berargumen bahwa gelar akademik tidak selalu menjamin kesuksesan, dan dalam konteks tertentu, telah menjadi ilusi sosial yang dibentuk oleh narasi kolektif dan sistem yang belum sepenuhnya adil.
ADVERTISEMENT
Secara historis, pendidikan tinggi memang berperan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Gelar akademik menjadi indikator kompetensi intelektual dan profesional seseorang. Namun, makna gelar tersebut mengalami pergeseran ketika pendidikan tinggi diposisikan bukan lagi sebagai proses pembelajaran kritis, melainkan sebagai komoditas sosial. Perguruan tinggi berlomba-lomba menawarkan janji kesuksesan, sementara masyarakat memperkuat anggapan bahwa tanpa gelar akademik, seseorang akan tertinggal secara sosial dan ekonomi.
Wacana “anak kuliah itu scam” tidak muncul tanpa sebab. Banyak lulusan perguruan tinggi menghadapi kenyataan pahit berupa sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak, rendahnya upah, serta ketidaksesuaian antara bidang studi dan kebutuhan dunia kerja. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah gelar akademik masih relevan sebagai penentu kesuksesan, ataukah ia hanya simbol sosial yang nilainya semakin terdegradasi?
ADVERTISEMENT
Salah satu faktor utama yang memicu anggapan tersebut adalah ketimpangan antara biaya pendidikan dan hasil yang diperoleh. Biaya kuliah yang tinggi sering kali tidak sebanding dengan peluang kerja setelah lulus. Banyak lulusan harus menerima pekerjaan di luar bidang keahliannya atau dengan penghasilan yang tidak mencerminkan tingkat pendidikan yang telah ditempuh. Dalam konteks ini, gelar akademik kehilangan daya tawarnya sebagai modal ekonomi, sehingga memunculkan kesan bahwa kuliah adalah investasi yang merugikan.
Selain itu, relevansi kurikulum pendidikan tinggi juga menjadi sorotan. Dunia kerja berkembang dengan cepat, sementara sebagian institusi pendidikan masih terjebak dalam pendekatan teoritis yang minim keterampilan praktis. Akibatnya, lulusan dianggap kurang siap menghadapi tantangan profesional. Fenomena ini memperkuat narasi bahwa kuliah tidak memberikan bekal nyata, sehingga muncul anggapan bahwa sistem pendidikan tinggi “menipu” ekspektasi mahasiswa.
ADVERTISEMENT
Namun, menyimpulkan bahwa kuliah sepenuhnya merupakan penipuan adalah pandangan yang terlalu simplistis. Permasalahan utamanya terletak pada konstruksi sosial yang menempatkan gelar akademik sebagai jaminan absolut kesuksesan. Narasi ini diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat luas. Anak muda didorong untuk kuliah bukan karena kesiapan atau minat, melainkan karena tekanan sosial dan rasa takut dianggap gagal.
Dalam perspektif sosiologis, gelar akademik telah berfungsi sebagai simbol status. Kepemilikan gelar tertentu sering kali lebih dihargai daripada kompetensi nyata. Akibatnya, pendidikan tinggi tidak lagi sepenuhnya berorientasi pada pengembangan kemampuan, melainkan pada perolehan legitimasi sosial. Ketika realitas tidak sesuai dengan simbol yang dijanjikan, kekecewaan pun muncul dan diekspresikan melalui istilah seperti “anak kuliah itu scam”.
ADVERTISEMENT
Dari sudut pandang psikologis, ekspektasi berlebihan terhadap gelar akademik dapat berdampak negatif pada kesehatan mental lulusan. Banyak individu mengalami krisis identitas ketika menyadari bahwa gelar yang dimiliki tidak serta-merta membuka pintu kesuksesan. Perasaan gagal, cemas, dan rendah diri muncul bukan karena ketidakmampuan personal, melainkan karena standar sosial yang tidak realistis. Dalam konteks ini, ilusi sosial tentang gelar akademik justru menjadi beban psikologis.
Meski demikian, gelar akademik tetap memiliki nilai jika dipahami secara proporsional. Pendidikan tinggi dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan etis yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Masalahnya bukan pada pendidikan itu sendiri, melainkan pada cara masyarakat memaknainya. Ketika gelar dijadikan tujuan akhir, bukan sarana pembelajaran, maka esensi pendidikan pun hilang.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, penting untuk menempatkan wacana “anak kuliah itu scam” sebagai kritik sosial, bukan penolakan mutlak terhadap pendidikan tinggi. Kritik ini seharusnya mendorong evaluasi sistemik terhadap kurikulum, biaya pendidikan, serta keterkaitan antara perguruan tinggi dan dunia kerja. Pendidikan tinggi perlu bertransformasi agar lebih adaptif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Selain itu, masyarakat perlu membuka ruang bagi berbagai jalur kesuksesan di luar pendidikan formal. Pendidikan vokasi, kewirausahaan, dan pengembangan keterampilan mandiri harus dipandang setara dan bermartabat. Dengan demikian, gelar akademik tidak lagi menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan, melainkan salah satu dari sekian banyak pilihan pengembangan diri.
Sebagai kesimpulan, gelar akademik berada di persimpangan antara jalan menuju kesuksesan dan ilusi sosial yang dibentuk oleh narasi kolektif. Fenomena “anak kuliah itu scam” mencerminkan kekecewaan terhadap sistem pendidikan tinggi yang tidak selaras dengan realitas sosial dan ekonomi. Esai ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi perlu dimaknai secara kritis dan realistis. Gelar akademik bukanlah jaminan mutlak kesuksesan, tetapi dapat menjadi alat yang bernilai apabila didukung oleh kompetensi, pengalaman, dan sistem sosial yang adil. Dengan menggeser cara pandang tersebut, pendidikan tinggi dapat kembali pada tujuan utamanya: memberdayakan manusia, bukan menjual ilusi.
ADVERTISEMENT