Konten dari Pengguna

HyTrack, Inovasi Mahasiswa UM: Hidroponik Cerdas yang Bisa Baca Kondisi Tanaman

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Noval Adi Candra Universitas Negeri Malang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto Dokumentasi alat Hytrack PKM KC Universitas Negeri Malang
zoom-in-whitePerbesar
foto Dokumentasi alat Hytrack PKM KC Universitas Negeri Malang

Mahasiswa UM Ciptakan HyTrack, Alat Hidroponik Pintar yang Bisa Hidup Tanpa Listrik PLN

Di tengah kekhawatiran soal masa depan pangan di kota-kota besar, lima mahasiswa Universitas Negeri Malang justru menawarkan solusi yang tidak biasa: sistem hidroponik yang bisa menghasilkan listriknya sendiri.

Namanya HyTrack, singkatan dari Hydroponic Rracking System sebuah alat hidroponik berbasis metode Nutrient Film Technique (NFT) yang digagas oleh Shofa An Amta Al Mubaroq bersama empat rekannya, Siti Aisyah, Dea Mawar Saharani, Noval Adi Candra, dan Rendra Utama Zelga Dinata, di bawah bimbingan dosen Soraya Norma Mustika. Proyek ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2026.

Bermula dari Masalah Lahan dan Listrik

Ide HyTrack lahir dari kegelisahan yang sederhana namun mendesak: kota semakin padat, lahan pertanian semakin menyempit, sementara kebutuhan pangan terus naik. Hidroponik sering disebut sebagai jawaban, karena bisa diterapkan di ruang sempit seperti atap atau balkon rumah. Tapi sistem hidroponik pintar yang sudah ada di pasaran, menurut tim ini, masih punya kelemahan mendasar — semuanya masih sangat bergantung pada listrik dari jaringan PLN, dan pemantauan kondisi nutrisi tanaman kerap dilakukan manual.

"Kalau listrik padam atau jaringan bermasalah, otomatis sistem ikut lumpuh," begitu kira-kira masalah yang coba dijawab tim ini.

Dari sanalah HyTrack dirancang: bukan sekadar hidroponik otomatis, tapi hidroponik yang mandiri energi.

Memanen Listrik dari Aliran Air dan Sinar Matahari

Yang membuat HyTrack berbeda adalah kombinasi dua sumber energi terbarukan sekaligus — pikohidro dan panel surya — dalam satu sistem yang disebut hybrid energy harvesting.

Pikohidro bekerja memanfaatkan sesuatu yang selama ini terbuang percuma: aliran larutan nutrisi yang terus bersirkulasi dalam sistem NFT. Empat unit pikohidro dipasang pada jalur sirkulasi ini, masing-masing menghasilkan daya kecil sekitar 1,5 watt, cukup untuk menjadi "energi dasar" yang menyuplai sensor-sensor di sistem.

Sementara itu, panel surya berkapasitas 100 watt-peak berperan sebagai sumber energi pendukung pada siang hari, sekaligus mengisi baterai penyimpanan. Panel ini bahkan dilengkapi solar tracker berbasis sensor cahaya (LDR) yang membuatnya otomatis mengikuti arah matahari sepanjang hari, mirip bunga matahari versi elektronik.

Menurut perhitungan tim, kombinasi kedua sumber energi ini mampu menghasilkan sekitar 395 watt-jam listrik per hari — lebih besar dari kebutuhan sistem yang hanya sekitar 299 watt-jam per hari. Bahkan dalam kondisi tanpa sinar matahari sama sekali, sistem diperkirakan masih bisa bertahan sekitar 2-3 hari berkat cadangan energi di baterai.

Bukan Cuma Otomatis, Tapi Juga "Berpikir"

Selain urusan energi, HyTrack juga dibekali kecerdasan buatan untuk membaca kondisi tanaman. Sensor pH, TDS (kepekatan larutan nutrisi), suhu, dan kelembapan bekerja mengumpulkan data secara real-time, yang kemudian diproses oleh dua model machine learning: ARIMA untuk memprediksi perubahan kondisi nutrisi ke depan, dan Random Forest untuk mengolah prediksi tersebut menjadi rekomendasi tindakan konkret — misalnya kapan larutan nutrisi AB mix perlu ditambahkan.

Semua ini bisa dipantau lewat aplikasi pendamping bernama HyTrack, yang punya beberapa fitur menarik:

• Dashboard Monitoring — menampilkan data sensor secara real-time dalam satu layar.

• Garda Tumbuh — asisten cerdas berbasis machine learning yang mendiagnosis masalah tanaman (misalnya mendeteksi kekurangan kalium) dan memberi rekomendasi penanganan.

• Akademi HyTrack — modul edukasi seputar hidroponik dan perawatan tanaman, ditujukan untuk meningkatkan kemandirian penggunanya.

Selain lewat aplikasi, sistem juga bisa dikendalikan langsung dari panel kontrol fisik yang dilengkapi LCD dan tombol, sehingga tetap bisa dioperasikan secara lokal tanpa harus bergantung pada koneksi internet.

Menyasar Selada, Sayuran Favorit Urban Farming

Tanaman yang dipilih sebagai fokus awal HyTrack adalah selada (Lactuca sativa L.) — sayuran yang kaya mineral dan vitamin, punya masa panen singkat, serta cocok dibudidayakan tanpa media tanah. Kombinasi ini membuat selada jadi kandidat ideal untuk pertanian perkotaan skala rumah tangga.

foto Dokumentasi alat HyTrack PKM KC Universitas Negeri Malang

Harapan di Balik Prototipe

Bagi tim pengembang, HyTrack bukan sekadar proyek akademik. Mereka berharap alat ini bisa membantu masyarakat perkotaan berkebun secara mandiri tanpa harus khawatir soal biaya listrik yang membengkak, sekaligus menjadi bahan kajian bagi kalangan akademisi soal integrasi energi terbarukan dengan sistem pertanian cerdas. Ke depan, prototipe ini bahkan berpotensi dikembangkan menjadi model urban farming yang bisa diterapkan lebih luas.

Sebagai bagian dari luaran program PKM-KC, tim juga berencana mempublikasikan hasil risetnya dalam artikel ilmiah, mengurus hak kekayaan intelektual (HKI), serta membagikan proses pengembangan HyTrack lewat akun Instagram @hytrack_pkmkc_um.

Di tengah isu ketahanan pangan dan krisis energi yang makin sering dibicarakan, proyek sederhana dari kampus ini menunjukkan bahwa solusi keduanya bisa datang dari satu alat yang sama cukup dengan memanfaatkan apa yang sudah mengalir di depan mata: air dan matahari.