Pentingnya Strategi Belajar yang Hargai Tipe Kecerdasan Anak

Novarty Eka Putriana
Istri sekaligus ibu dari dua jagoan kecil. Menulis menjadi hobi baru yang memberi bermacam pelajaran menarik. Banyak cerita yang layak dibagi, yang pastinya bernilai manfaat untuk pembaca. Percayalah, berbagi itu membahagiakan dan bikin candu.
Konten dari Pengguna
15 April 2023 15:51 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Novarty Eka Putriana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ilustrasi kebahagiaan anak yang bebas belajar sesuai kecerdasannya (Sumber foto: unspalsh.com)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi kebahagiaan anak yang bebas belajar sesuai kecerdasannya (Sumber foto: unspalsh.com)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Sadar atau tidak, kemampuan anak mengolah angka dengan deretan rumus—yang umum tertuang dalam mata pelajaran matematika, fisika atau kimia—seolah menjadi pengukur satu-satunya kecerdasan anak. Fakta yang hingga saat ini menimbulkan pertentangan dalam diri saya.
ADVERTISEMENT
Sangat tidak adil bila hanya melihat kecerdasan anak dari kemampuan matematis saja. Sedangkan banyak kecerdasan lain yang seakan tersingkirkan, seperti anak yang mahir menari, istimewa dalam bernyanyi, atau begitu lihai mengimajinasikan apa yang ia lihat dalam sebuah karya visual.
Mari kita lihat dari sudut pandang yang lebih menyeluruh. Ketika anak dengan kecerdasan matematis bisa dengan mudahnya mengolah persoalan angka hanya dengan satu kali penjelasan, bukan berarti seluruh anak akan mengalami hal serupa.
Mungkin akan ada yang perlu menganalogikannya untuk diingat dulu, baru perlahan menerapkannya dalam soal-soal. Begitu pula ketika guru olahraga mengajarkan cara rolling yang benar misalnya, pasti akan ada anak yang butuh waktu lebih lama untuk berlatih. Bisa jadi perlu memperhitungkan dan menguji dulu seberapa dalam condongan tubuh ke depan dan kecepatan gerakan yang paling pas agar dapat melakukan rolling dengan sempurna.
ADVERTISEMENT
Ini membuktikan bahwa untuk mempelajari sesuatu, anak butuh metode yang berbeda sesuai dengan kecerdasan masing-masing. Sayangnya, sejak anak berusia prasekolah, masih dihadapkan dengan standar kecerdasan yang tidak memihak kemerdekaan belajar mereka. Bila sedari awal pendidikan sudah dipaksa belajar tanpa memedulikan minat dan bakat anak, kecerdasan yang beragam itu akan terpatahkan tanpa diberi kesempatan berkembang.
Padahal melansir dari website UNICEF, di usia dini yang berlangsung hingga umur 8 tahun, perkembangan kognitif, sosial, emosional dan fisik anak adalah yang paling penting. Di mana dibutuhkan lingkungan yang mendukung, nutrisi yang cukup, dan pengasuhan yang penuh perhatian.
Ketika anak usia ini dihadapkan dengan sesuatu yang membuatnya sangat kesulitan di jenjang awal pendidikan, seperti pelajaran di luar ketertarikan, bukankah berpeluang menggores trauma dan mengganggu masa emas pertumbuhan mereka? Mirisnya, dampak tersebut sudah terjadi pada beberapa anak teman saya, yang pada akhirnya enggan berhadapan lagi dengan huruf dan angka.
ADVERTISEMENT

Anak Punya Kecerdasan yang Berbeda

Fenomena ini sebenarnya sudah dijawab oleh Howard Gardner, Ph.D., John H. dan Elisabeth A. Hobbs, Research Professor of Cognition and Education, Harvard Graduate School of Education di Harvard University, dengan teori Multiple Intelligences yang fenomenal.
Menurut teori tersebut, manusia dikelompokkan ke dalam sembilan tipe kecerdasan, yaitu kecerdasan verbal-linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial.
Teori Multiple Intelligences (Inforgrafis: Dokumentasi Pribadi)
Ketika anak dengan tipe kecerdasan musikal, dipaksa belajar dengan cara yang dipakai oleh anak bertipe kecerdasan logis-matematis, apakah hasilnya akan maksimal? Saya yakin tidak.
Tapi ketika anak berjalan pada “rute” atau caranya masing-masing, mereka akan berlari kencang dan berkembang dengan sangat pesat. Itu bidang mereka, mereka tertarik dan sangat menyukainya. Sehingga belajar bukan lagi menjadi momok dan sumber kejenuhan.
ADVERTISEMENT

Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya Kembangkan Anak Sesuai Kecerdasannya

Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya, program dalam rangkaian penerapan Kurikulum Merdeka yang ditargetkan akan menjadi kurikulum nasional baru di tahun 2024 mendatang, membawa harapan besar untuk kesetaraan yang menghargai seluruh tipe kecerdasan anak.
Tertulis jelas dalam Buku Saku Tanya-Jawab Kurikulum Merdeka, pembelajaran yang sesuai tahap capaian peserta didik merupakan salah satu semangat dalam Merdeka Belajar, di mana pengajaran pada peserta didik disesuaikan dengan tingkat capaian dan kemampuan awal mereka.
Layaknya ketika kita sedang berkendara, Merdeka Belajar memberi kebebasan kepada pengemudi untuk memilih jalur, cara, alat dan strategi agar dapat menempuh perjalanan hingga mencapai tujuan. Sesuai pula dengan titik keberangkatan, kondisi, kemampuan dan kecepatan masing-masing.
ADVERTISEMENT
Jadi, setiap sekolah atau satuan pendidikan, dapat mengatur strategi yang paling efektif agar peserta didik dapat mencapai Capaian Pembelajaran (CP) sebagai kompetensi yang dituju.
Misalnya ketika anak A dengan tipe kecerdasan visual-spasial perlu mempelajari perkalian, maka tenaga pendidik atau guru dapat menggunakan gambar-gambar dan objek tertentu untuk menjelaskan. Atau anak B dengan kecerdasan naturalis, bisa dibawa ke alam terbuka agar pelajaran lebih cepat dicerna.
Guru pun dapat mencari referensi, inspirasi, serta berbagi ide satu sama lain dalam platform Merdeka Belajar. Bukan berarti beda kecerdasan, tidak bisa mempelajari hal yang sama dan meraih CP yang sama. Tapi, cara meraihnya yang perlu disesuaikan.
Kemudian dilengkapi juga dengan Merdeka Berbudaya, di mana tidak ada lagi batasan untuk berekspresi dalam budaya, mencakup seni, bahasa dan adat istiadat yang nantinya akan meningkatkan rasa toleransi, sikap dan etika, serta memperkuat karakter sebagai bangsa Indonesia yang berbudaya.
ADVERTISEMENT
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) juga telah menghadirkan kanal media khusus budaya yang dinamakan Indonesiana untuk mewadahi, mengintegrasikan, serta mempromosikan karya dan ekspresi budaya masyarakat Indonesia, agar dapat menjadi referensi bersama untuk diterapkan dalam satuan pendidikan.
Diharapkan ke depannya, lulusan pendidikan Indonesia dengan Kurikulum Merdeka dapat meraih Profil Pelajar Pancasila yang memiliki enam dimensi, sebagaimana dikutip dari laman kemdikbud.go.id.
Keenamnya yaitu Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia, Berkebinekaan Global, Mandiri, Gotong royong, Bernalar kritis, serta Kreatif. Belum cukup hanya mengandalkan kegiatan pembelajaran saja, tapi juga diperlukan budaya satuan pendidikan dan kegiatan kokurikuler berupa pembelajaran melalui projek.
Dimensi Profil Pelajar Pancasila sebagai tujuan Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya (Infografis: Dokumentasi Pribadi)
Menariknya, pembelajaran projek ini akan mengangkat isu-isu terkini dengan tema tertentu yang mengusung Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya. Berkonsep kolaborasi yang bukan hanya melibatkan guru-guru lintas ilmu, tapi juga beragam kecerdasan peserta didik yang akan berkontribusi berdasarkan ketertarikan mereka.
ADVERTISEMENT
Kenapa demikian? Karena dalam projek pengembangan Profil Pelajar Pancasila, yang diajarkan adalah ilmu yang bersifat umum. Sehingga anak bisa mengekplorasi ilmu dan keterampilan dalam projek dengan lebih bebas.

Dibutuhkan Dukungan Orang Tua

Strategi dalam Merdeka Belajar yang disesuaikan dengan kecerdasan anak, serta Merdeka Berbudaya yang membangun sikap baik bertenggang rasa, pasti membutuhkan peran orang tua untuk bekerja sama dengan satuan pendidikan.
Hadir para Ibu Penggerak yang dibekali pengetahuan untuk membersamai anak di rumah, menyuarakan pendapat, dan turut menyosialisasikan kebijakan, agar dapat jalan beriringan dengan sekolah, serta pihak terkait lainnya.
Ibu Penggerak inilah yang selangkah lebih dekat dengan pola pengasuhan langsung dalam keluarga, serta dapat menguatkan literasi pada lebih banyak orang tua untuk dapat menyadari peran besar mereka dalam kesuksesan sistem pendidikan.
ADVERTISEMENT

Kesimpulan

Bila Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya dapat dipraktikkan dengan baik dan merata di seluruh Indonesia, tentunya dengan kesiapan infrastruktur dan satuan pendidikannya, akan menjadi gerbang kebebasan bagi anak-anak generasi penerus bangsa untuk dapat berkembang sesuai dengan kecerdasannya masing-masing.
Keunikan kecerdasan mereka dihargai dengan strategi pembelajaran yang tepat dan efektif. Bersekolah dan belajar akan menjadi hal menyenangkan, dalam upaya mencetak generasi hebat dan berkarakter Pancasila.