Perempuan dan Kebiasaan Minta Maaf yang Sering Tidak Disadari

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas sebelas Maret
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari noveltysimarmata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada satu kalimat yang sering keluar begitu saja dari mulut perempuan: “Maaf ya.”
Maaf karena telat membalas pesan.
Maaf karena bertanya terlalu banyak.
Maaf karena menolak.
Bahkan, maaf karena merasa lelah.
Menariknya, permintaan maaf ini sering muncul bukan karena kesalahan nyata, melainkan karena rasa tidak enak perasaan bahwa keberadaan diri sendiri mungkin merepotkan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak perempuan tumbuh dengan nilai untuk menjadi sosok yang menyenangkan, menjaga perasaan orang lain, dan tidak menimbulkan konflik. Tanpa disadari, nilai ini membentuk kebiasaan berbahasa: meminta maaf bahkan ketika tidak melakukan kesalahan apa pun.
Permintaan maaf kemudian menjadi semacam alat sosial. Ia digunakan untuk melunakkan penolakan, menenangkan suasana, atau sekadar memastikan bahwa orang lain tetap merasa nyaman. Sayangnya, kebiasaan ini juga bisa menggerus batas personal perempuan itu sendiri.
Di ruang kerja, misalnya, perempuan kerap mendahului pendapatnya dengan kalimat seperti, “Maaf kalau pendapatku salah,” meskipun argumennya valid. Di ruang personal, perempuan sering merasa bersalah saat memilih waktu untuk diri sendiri, seolah istirahat adalah bentuk keegoisan yang perlu ditebus dengan permintaan maaf.
Budaya populer dan lingkungan sosial turut memperkuat pola ini. Perempuan yang tegas sering kali diberi label “terlalu emosional” atau “tidak ramah,” sementara perempuan yang terlalu akomodatif dianggap ideal. Akibatnya, meminta maaf menjadi jalan tengah agar tetap diterima.
Padahal, tidak semua situasi membutuhkan kata maaf. Menolak ajakan, menetapkan batas, atau menyampaikan pendapat bukanlah kesalahan. Ketika perempuan terus-menerus meminta maaf atas hal-hal yang wajar, pesan yang tersirat adalah bahwa kebutuhan dan suara mereka berada di posisi kedua.
Menyadari kebiasaan ini bukan berarti perempuan harus berhenti bersikap empatik atau sopan. Namun, ada perbedaan antara empati dan menghapus diri sendiri. Mengganti kata “maaf” dengan “terima kasih sudah menunggu” atau “aku memilih begini” bisa menjadi langkah kecil untuk membangun relasi yang lebih setara.
Pada akhirnya, perempuan berhak hadir tanpa merasa bersalah. Berhak berbicara tanpa merasa mengganggu. Dan tentu saja, berhak menyimpan kata maaf hanya untuk kesalahan yang benar-benar terjadi.
