Manajemen Sederhana, Dampak Besar: Kunci UMKM Naik Kelas

Mahasiswa manajemen universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari November Simanjuntak tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tulang punggung yang rapuh di dalam
UMKM sering disebut penopang ekonomi Indonesia, dan angkanya mendukung klaim itu. Kementerian UMKM menyebut 65,5 juta UMKM menyerap 119 juta tenaga kerja, sekitar 97 persen dari total tenaga kerja nasional. Data Kemenko Perekonomian yang dikutip media menunjukkan kontribusi UMKM terhadap PDB sebesar 61 persen, setara Rp9.580 triliun. Catatan terbaru juga konsisten: pada Maret 2026, lebih dari 64 juta UMKM tercatat berkontribusi di atas 60 persen terhadap PDNamun besarnya jumlah tidak otomatis berarti kuatnya fondasi. Sebagian besar UMKM masih dikelola secara informal, dan di situlah persoalan manajemen bermula.

Masalah klasik: usaha jalan, catatan tidak ada
Data BPS dari Sensus Ekonomi 2016 yang dikutip peneliti menunjukkan hanya 6,55 persen UMKM yang berbadan usaha, dan hanya 7,52 persen yang menyusun laporan keuangan. Angka ini sudah lama, tetapi gambaran besarnya masih relevan. Berbagai kegiatan pengabdian masyarakat perguruan tinggi menemukan pola serupa, yaitu banyak pelaku usaha mikro belum melakukan pencatatan dan pelaporan keuangan, karena prosesnya dianggap rumit.
Akibatnya terasa saat krisis. Survei BPS pada September 2020 yang melibatkan 34.558 pelaku usaha menemukan bahwa pendapatan 84 persen UMKM menurun akibat pandemi. Usaha tanpa catatan keuangan dan cadangan kas hampir pasti kesulitan membaca situasi dan mengambil keputusan cepat.
Empat fondasi manajemen yang realistis
1.Pisahkan uang pribadi dan uang usaha. Tanpa pemisahan, pemilik tidak pernah tahu apakah usahanya untung atau hanya berputar.
2. Catat setiap transaksi. Buku kas sederhana atau aplikasi gratis sudah cukup. Untuk tahap lanjut, tersedia SAK EMKM, standar akuntansi yang memang disusun untuk entitas mikro, kecil, dan menengah.
3.Hitung harga pokok dan margin. Harga yang hanya meniru pesaing sering menutup mata terhadap biaya sebenarnya.
4. Manfaatkan kanal digital dengan perhitungan. Kementerian UMKM mencatat sekitar 27 juta UMKM telah masuk ekosistem digital lewat media sosial dan marketplace. Jumlah itu baru sebagian dari total pelaku usaha, sehingga ruang tumbuhnya masih besar.
Peran ekosistem
Pemerintah terus mendorong pembiayaan. Menteri UMKM, misalnya, menyatakan UMKM menyumbang 60 persen PDB dan menyerap 96 persen tenaga kerja saat membahas percepatan penyaluran KUR. Akses modal memang penting, tetapi kredit tanpa kemampuan mengelola usaha berisiko menjadi beban. Karena itu, pendampingan manajemen, pelatihan pembukuan, dan literasi keuangan perlu berjalan seiring dengan penyaluran pembiayaan. Perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan perbankan dapat berbagi peran, mulai dari pelatihan hingga mentoring berkelanjutan
tulisan ini di tulis oleh Nopember Simanjuntak mahasiswa universitas Pamulang prodi manajemen
