Konten dari Pengguna

Bagaimana CoreTax Memengaruhi Kepatuhan UMKM dan Biaya Kepatuhan?

Novita Sari

Novita Sari

Mahasiswi Universitas Pamulang Prodi Akuntansi Perpajakan.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Novita Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Coretax. Foto: M.Gunsyah/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Coretax. Foto: M.Gunsyah/Shutterstock

Sebagai mahasiswa perpajakan yang belajar dari potongan kebijakan, saya melihat CoreTax bukan sekadar inisiatif teknis di atas layar komputer. Ia adalah ujian terhadap bagaimana negara, melalui sistem pajak yang lebih digital, mampu mengubah perilaku kepatuhan UMKM tanpa membebani mereka di luar batas kemampuan. Pertanyaan utama yang terus muncul di kelas kami adalah: apakah CoreTax bisa memangkas biaya kepatuhan sambil meningkatkan kepatuhan, atau justru melipatgandakan beban bagi pelaku usaha kecil yang sudah berjuang untuk bertahan?

CoreTax sebagai peluang nyata bagi efisiensi biaya kepatuhan

Bayangkan CoreTax sebagai “mesin” yang menghubungkan data usaha secara terpusat: data usaha terintegrasi, pelaporan yang bisa terisi otomatis berkat sinkronisasi data dari berbagai sumber, serta verifikasi berbasis risiko yang menghindarkan UMKM dari penouchian berulang. Dalam skenario ideal, manfaat utamanya adalah pengurangan waktu dan tenaga yang biasanya dihabiskan untuk menginput data, mengecek kembali angka-angka, dan menunggu verifikasi yang berlarut-larut. Pelaku UMKM bisa menghemat biaya administrasi karena:

  • Formulir pelaporan menjadi lebih sederhana: data yang sudah ada di basis sistem bisa terisi otomatis, sehingga pelaporan tidak lagi memulai dari nol.

  • Akurasi pelaporan meningkat: ketika data terintegrasi, risiko kesalahan rendah, sehingga sanksi karena pelaporan keliru bisa diminimalkan.

  • Proses verifikasi berjalan lebih efisien: data yang konsisten mempercepat penerbitan nomor identifikasi dan validasi data usaha.

  • Akses lintas instansi menjadi lebih transparan: potensi duplikasi entri data berkurang, sehingga beban administrasi menurun secara berkelanjutan.

Tantangan biaya awal dan transisi yang perlu diakui

Namun, kita tidak bisa menutup mata pada biaya transisi yang mungkin muncul pada tahap awal implementasi CoreTax. UMKM mikro, khususnya yang beroperasi di daerah dengan akses internet terbatas, bisa menghadapi:

  • Kebutuhan perangkat digital dan koneksi internet yang lebih stabil.

  • Biaya pelatihan untuk memahami tata kelola sistem baru dan cara memanfaatkannya secara efektif.

  • Waktu belajar yang dibutuhkan selama migrasi data, yang bisa mengganggu aliran operasional harian.

Masalah ini tidak bisa dipotong dengan slogan efisiensi semata. Implementasi yang tidak disertai dukungan dapat memperlambat kepatuhan jangka pendek, sehingga siklusnya terasa seperti beban biaya kepatuhan yang justru membengkak sebelum manfaat jangka panjang terasa.

Kepatuhan sebagai budaya, bukan sekadar regulasi teknis

Inti dari desain kebijakan digital pajak adalah bagaimana CoreTax membentuk budaya kepatuhan di kalangan UMKM. Jika pemerintah ingin CoreTax benar-benar efektif, desainnya perlu ramah pengguna, inklusif, dan adil. Beberapa aspek yang krusial:

  • Pelatihan berkelanjutan: modul singkat, panduan langkah demi langkah, dan bantuan langsung dari mitra UMKM (koperasi, asosiasi pengusaha, layanan pendampingan daerah) bisa mengubah hambatan literasi digital menjadi peluang untuk belajar.

  • Akses alternatif: opsi offline atau manual selama periode transisi, dengan target migrasi penuh dalam waktu realistis, membantu UMKM mikro yang belum siap.

  • Dukungan berkelanjutan: layanan dukungan teknis yang responsif, helpsdesk dengan bahasa sederhana, serta komunitas pembelajaran yang saling berbagi tips praktis.

  • Persebaran manfaat yang adil: kebijakan perlu dirancang agar UMKM mikro merasakan manfaat biaya kepatuhan yang lebih rendah secara proporsional, bukan hanya menguntungkan pelaku usaha besar yang sudah memiliki infrastruktur serupa.

Kekhawatiran yang perlu dijawab secara transparan

Di sisi lain, kita tidak bisa mengabaikan risiko yang melekat pada digitalisasi pajak. Beberapa pertanyaan penting yang mesti dijawab secara publik:

  • Privasi dan keamanan data: bagaimana data usaha dilindungi? apakah ada audit keamanan berkala dan mekanisme kontrol access yang ketat?

  • Keadilan fiskal: apakah CoreTax memberikan manfaat biaya kepatuhan yang proporsional bagi UMKM kecil, tanpa mengorbankan pelaku usaha besar yang juga wajib patuh?

  • Diversifikasi wilayah: bagaimana kebijakan mengatasi jurang digital antara kota besar dan daerah tertinggal yang berpotensi memperlebar ketimpangan kepatuhan?

  • Konteks kebijakan: transisi yang perlu dirancang dengan hati-hati

Digitalisasi pajak memang menawarkan peluang besar untuk meningkatkan kepatuhan melalui akurasi data, efisiensi, dan transparansi. Namun transisi tidak bisa dipandang sebagai sekadar migrasi teknologi. Ia adalah perubahan ekosistem:

  • Investasi publik: infrastruktur digital, akses internet yang lebih luas, serta fasilitas pendukung untuk UMKM yang lemah digital.

  • Opsi fallback yang jelas: kerangka kerja yang mengakui kenyataan operasional UMKM di lapangan, dengan timeline migrasi yang realistis.

  • Validasi dan evaluasi berkelanjutan: publikasi berkala tentang dampak CoreTax terhadap kepatuhan, biaya, dan inklusi digital, sehingga kebijakan bisa disesuaikan secara responsif.

Contoh ilustratif (kasus fiktif)

Bayangkan Toko Sari, UMKM mikro di kota kecil, yang sebelumnya menghabiskan dua hari kerja setiap bulan hanya untuk pelaporan pajak manual. Dalam skenario CoreTax, data yang sudah ada di sistem daerah bisa dipadukan dengan basis data nasional, sehingga Sari hanya perlu verifikasi singkat dan konfirmasi data yang telah terisi otomatis. Proses ini menghemat beberapa jam kerja sebulan yang dulu dialokasikan untuk administrasi. Namun di permulaan, Sari perlu pelatihan singkat tentang cara mengakses platform dan mengisi beberapa kolom yang spesifik. Toko Sari pun mendapatkan akses offline untuk beberapa tugas penting saat koneksi sedang tidak stabil. Dalam beberapa bulan, biaya kepatuhan yang sebelumnya signifikan berkurang secara nyata, sementara kepraktisan operasional pun meningkat.

Penutup: jalan menuju CoreTax yang adil dan efektif

CoreTax memiliki potensi besar untuk mengubah permainan kepatuhan UMKM jika dirancang dan dijalankan dengan pertimbangan matang terhadap biaya transisi, inklusivitas, dan perlindungan data. Dari sudut pandang seorang mahasiswa perpajakan, inti pesannya sederhana: kebijakan digital seharusnya menghapus jarak antara hukum dan praktik di lapangan, bukan menambah jarak itu. Kita perlu transisi yang bertahap, dukungan yang konsisten, serta mekanisme evaluasi yang transparan. Hanya dengan begitu CoreTax bisa menjadi mesin pendorong kepatuhan pajak yang lebih murah, lebih efisien, dan lebih adil bagi semua pelaku usaha, terutama UMKM mikro yang menjadi denyut nadi perekonomian kita.