News
·
20 Februari 2021 15:23

Mempertahankan Bahasa Ibu

Konten ini diproduksi oleh Noviani Mariyatul
Mempertahankan Bahasa Ibu (91264)
Penari membawakan tarian dengan bendera merah putih pada aksi 17 Jam Menari Untuk Indonesia di Bongkeng Art Space, Bandung, Jawa Barat, Senin (17/8/2020). Foto: Novrian Arbi/ANTARA FOTO
Isu mengenai bahasa ibu di dunia selalu menarik untuk diperbincangkan. Pasalnya eksistensi dari bahasa ibu atau (mother language) terus mengalami kemunduran, bahkan di abad ke-21 ini diperkirakan terdapat 3.000 bahasa lokal yang terancam punah. Pihak UNESCO pun menanggapi situasi darurat ini dengan serius yang kemudian dibuktikan pada tahun 1999, tepatnya tanggal 21 Februari dijadikan sebagai momen hari bahasa Ibu Internasional.
ADVERTISEMENT
Organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya perserikatan bangsa-bangsa ini telah mendeklarasikan bahwa bahasa merupakan komponen penting dalam suatu peradaban, Berkaca pada fakta di Indonesia, menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dari tahun 2011-2019 terdapat 11 bahasa daerah yang telah punah dan 9 di antaranya berasal dari Maluku.
Sementara 2 yang lain berasal dari Papua dan Papua Barat. Data ini tidak akan stagnan, dan akan terus mengalami pembaruan seiring dengan kajian yang dilakukan.
Status kritis ini merupakan alarm kemanusiaan, jika suatu bahasa telah punah maka peradaban tersebut juga otomatis akan ikut hilang. Oleh karena itu, kekayaan bahasa yang dimiliki tiap negara harus tetap dijaga, meski tengah dihantam arus modernisasi, Penetapan hari bahasa ibu selain menjadi media pengingat, juga menjadi tonggak kesadaran bagi masing-masing negara agar lebih memerhatikan sekaligus melestarikan bahasa ibunya pada generasi berikutnya.
ADVERTISEMENT
Dandang Sunendar selaku Kepala Badan Bahasa pernah mengatakan pada Konfrensi pers tahun lalu di Jakarta, bahwa bahasa adalah produk besar negara Indonesia yang mana harus dijaga keutuhannya dan harus tetap mempertahankan kebinekaan. Namun pemaknaan bahasa ibu di Indonesia ini rupanya masih beragam, karena banyak warga yang acapkali mengartikan bahwa bahasa ibu adalah bahasa Indonesia.
Padahal sebenarnya bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa pemersatu bangsa (sesuai dengan amanat di sumpah pemuda) yang di dalamnya tetap mempertahankan bahasa lokal dari setiap daerah. Pemahaman terkait bahasa ibu biasanya dikenal sebagai bahasa lokal, yakni bahasa yang pertama kali dipelajari oleh seseorang sejak kecil dan telah menjadi bagian dari budaya untuk memahami lingkungannya. Pembelajaran bahasa ini ditanamkan oleh keluarga yang berasal dari daerahnya masing-masing.
ADVERTISEMENT
Tantangan dan Ancaman
Di Indonesia sendiri, merawat dan melindungi bahasa ibu dalam pelaksanaannya tentu bukan perkara yang mudah. Hilangnya bahasa di suatu daerah juga disebabkan banyak hal, yang di antaranya terjadi karena pernikahan silang (campur), perang, bencana alam, dan berkurangnya para penutur yang menggunakan bahasa ibu.
Perkembangan zaman yang terus melaju, secara tidak langsung menuntut agar setiap negara dan para warga di dalamnya harus bisa menguasai bahasa asing. Kemampuan tersebut diperlukan dalam menghadapi arus modernisasi dan memudahkan proses berinteraksi antar negara. Namun hal itu tentunya menjadi sebuah tantangan sekaligus dapat berubah menjadi ancaman jika suatu bangsa tidak mampu menjaga bahasa ibunya sendiri. Tak jarang saat ini dapat dijumpai anak-anak yang membalikkan diri—bahasa asing sebagai bahasa utama yang dikuasainya, sedangkan bahasa ibu menjadi bahasa kedua yang dikuasai.
ADVERTISEMENT
Hal ini tentunya tidak terjadi secara tiba-tiba, karena semua bergantung pada entitas terkecil yakni keluarga yang turut andil dalam pembentukan karakter si anak, terutama dalam bahasa. Bahasa daerah (lokal) yang sering kali ter(di)lupakan baik sengaja maupun tidak, akan tergerus zaman karena tidak mampu dipertahankan lagi. Padahal dalam segi penyampaiannya, bahasa ibu memiliki daya kekuatan dan kekayaan batin yang lebih luas untuk membangun komunikasi antar manusia.
Sebagai contoh orang Jawa yang menggunakan bahasa ibunya—bahasa Jawa. Dalam pengungkapan Bahasa Jawa terdiri beragam tingkatan mulai dari ngoko alus, krama inggil, krama alus, dan ngoko lugu. Semuanya memiliki level sendiri yang harus digunakan pada saat tertentu dan disesuaikan dengan kondisi lawan bicaranya. Kekayaan bahasa ibu, khususnya bahasa daerah telah menunjukkan kekuatan bahwa di dalam bahasa tersebut juga terdapat ruh, pelajaran penting tentang kehidupan untuk memahami adat-istiadat, budi pekerti, norma atau nilai-nilai yang harus dijunjung oleh suatu masyarakat.
ADVERTISEMENT
Pelestarian Bahasa
Indonesia menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menempati urutan kedua sebagai negara yang memiliki bahasa terbanyak di dunia. Tentunya hal itu menjadi tanggung jawab semua komponen untuk saling bergerak melindungi bahasa daerah yang tengah terancam punah ini. Mengutip dari Joshua Fishman (1991) yang merupakan seorang ahli sosiolinguistik dari Amerika membuat skala untuk meneliti tingkat kepunahan suatu bahasa. Skala tersebut dibuat dari angka 1-10.
Angka 1 menunjukkan kategori bahasa yang kuat (memiliki penutur yang banyak) sedangkan di skala tertinggi 10 ialah kategori bahasa yang telah punah. Punahnya suatu bahasa bukan hanya karena nir penutur, melainkan juga disebabkan kurangnya kepekaan masyarakat atas identitas dari bahasa tersebut. Pada konteks ini, dapat dicapai bahwa bahasa yang punah akan berimplikasi pada hilangnya suatu budaya, dan kehilangan budaya maka bermakna pada hilangnya peradaban itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Lingkungan pertama seperti rumah, pihak keluarga yang menjadi teladan utama (role model) harus bisa bersinergi untuk mengajarkan ke anak-anak bahasa ibu mereka. Keterlibatan sekolah dalam menerapkan pendidikan bahasa daerah juga harus diperkuat agar pemakaian bahasa daerah dapat terbiasa digunakan dalam lingkungan sehari-hari.
Bahasa pemersatu ialah bahasa Indonesia, tapi sebagai warga negara yang baik tentu kita tidak boleh melupakan sejarah yang telah merekatkan pluralitas itu. Bagaimanapun bahasa daerah inilah yang telah menciptakan keberagaman di Indonesia. Ia adalah anugrah, hadiah, rahmat sekaligus kekayaan yang menjadi bagian dari Indonesia yang harus dijaga tanpa menanggalkan rasa nasionalisme kita.
Ibarat makanan rujak, yang disajikan dalam beragam rupa. Di dalamnya ada cabai, petis, aneka buah dan bumbu dapur lainnya. Rasa yang fantastis dan nikmat itu dapat terwujud dari berbagai macam jenis yang dipadu menjadi satu, dan seperti itulah cermin yang pas untuk membahas Indonesia. Dengan keberagaman bahasa, budaya yang dimiliki tentu menjadi pelengkap satu sama lain untuk menciptakan warna yang indah.
ADVERTISEMENT
Memang, beragam bahasa ibu di Nusantara kini sedang berada pada ujung tanduk kematiannya. Di antaranya ada yang mengalami kondisi kritis, sakaratul maut, hingga ada yang telah almarhum alias punah. Jika kita sebagai bangsa Indonesia terus terlena dan pelan-pelan justru meninggalkan warisan kekayaan budaya tak benda ini. Lantas apa yang bisa kita wariskan pada generasi penerus kita kelak? Tentu kita tak ingin bahasa ibu hanya menjadi sebuah “kenangan” yang bersemayam dalam memori nenek moyang.
Sudah saatnya kita merawat dan meruwat bersama-sama, menjaga keutuhan NKRI melalui kebudayan multikultural yang kita miliki. Dengan merawat bahasa, maka kita menjaga kebudayaan dari kepunahan. Dan itu artinya, kita menyelamatkan negara Indonesia.