Bagaimana Peran Quality Control (QC) Logistik di Rumah Potong Ayam (RPA) ?

Dosen dan Peneliti Senior Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Novi Mayasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Novi Mayasari dan Laela Tien Nurjanah
Rumah Potong Ayam (RPA) atau Rumah Potong Unggas (RPU) merupakan industri pengolahan unggas yang memiliki peran strategis dalam memastikan ketersediaan dan kelayakan daging ayam di pasaran. Menurut SNI 01-6160-1999, RPA/RPU adalah suatu kompleks bangunan dengan desain dan konstruksi khusus yang memenuhi persyaratan teknis dan higiene tertentu, serta digunakan sebagai tempat memotong unggas bagi konsumsi masyarakat umum. Menurut Disnakeswan (2017), RPU memegang peranan yang sangat penting dan dapat dikatakan sebagai barrier atau pertahanan terhadap penyebaran penyakit yang bersifat zoonosis dan menjadi tempat penghasil dan penjamin daging ayam yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh, Halal). Berdasarkan penjelasan tersebut, RPU memerlukan tenaga ahli yang dapat menjamin kualitas atau mutu dari produk yang dihasilkan.

Quality Control (QC) atau pengendalian mutu merupakan bagian penting dalam manajemen mutu yang berfungsi untuk memastikan bahwa produk atau layanan yang dihasilkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sesuai dengan penjelasan dari BPSDMI (2022) bahwa Quality Control adalah salah satu bagian dari manajemen produksi yang memiliki peran dan juga aturan hukum tertentu dalam pengontrolan pada proses pengemasan hingga mengeluarkan produk-produk tersebut untuk dapat dipasarkan dengan menjamin kualitas dari produk tersebut.
Tugas Quality Control salah satunya adalah melakukan inspeksi terhadap produk. Adapun serangkaian kegiatan inspeksi dan uji yang dilakukan Quality Control diantaranya ialah in-coming, in-process, outgoing. Quality Control melaksanakan tugasnya ketika proses produksi berlangsung dan memastikan bahwa produk diinspeksi dan jika terindikasi adanya ketidasesuaian, maka akan ditindaklanjuti dan dibuatkan laporan.
Menurut Christopher (2016), logistik adalah bagian dari manajemen rantai pasok (supply chain management) yang berfokus pada efisiensi dan efektivitas aliran barang, informasi, dan layanan dari titik asal ke titik konsumsi. Dari penjelasan tersebut, pengendalian kualitas logistik menjadi sangat krusial untuk menjaga integritas produk selama proses perpindahan dan penyimpanan.
QC logistik bertujuan untuk memastikan bahwa produk yang dikirim atau diterima tetap dalam kondisi optimal, tidak rusak, tidak kadaluwarsa, dan memenuhi spesifikasi teknis maupun administratif. Selanjutnya, dalam konteks logistik di RPA, peran QC memiliki posisi yang sangat strategis. QC tidak hanya memastikan mutu produk tetap sesuai standar, tetapi juga mengawal setiap tahapan distribusi agar aman, efisien, dan bebas dari risiko kontaminasi. Mengingat daging ayam merupakan produk yang mudah rusak, pengendalian suhu, sanitasi, serta kondisi pengemasan selama transportasi menjadi perhatian utama. Di sinilah QC berperan melakukan pengawasan, pencatatan, hingga tindakan korektif ketika terjadi penyimpangan. Dengan adanya QC yang terintegrasi dalam sistem logistik, jaminan kualitas dan keamanan pangan dapat lebih terukur, sekaligus mendukung kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku serta menjaga kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan RPA. Berikut adalah beberapa peran QC Logistik di RPA :
• Menjamin Kualitas & Keamanan Produk
QC memastikan produk yang didistribusikan tetap segar, higienis, dan bebas dari kontaminasi melalui pengawasan sepanjang proses logistik. Ini dilakukan dengan pengujian berkala, pemeriksaan suhu selama transportasi, dan pengecekan kondisi kemasan sebelum dikirim.
• Mencegah Kerusakan & Penyakit
Dalam proses logistik RPA, kontrol terhadap suhu, handling, dan sanitasi sangat penting karena daging ayam mudah rusak secara mikrobiologis, kimia, atau fisik. QC bertanggung jawab mengambil tindakan segera jika ditemukan penyimpangan mutu, seperti membuat laporan dan menarik produk reject atau tidak layak konsumsi sebelum sampai ke pasar.
• Kepatuhan Terhadap Standar & Regulasi
QC di RPA wajib memastikan operasional sesuai dengan standar nasional (misal, SNI Rumah Pemotongan Unggas dan SNI Mutu Karkas & Daging Ayam). Misalnya, suhu distribusi untuk daging segar tidak boleh di atas 4°C, dan fasilitas transportasi harus memenuhi syarat sanitasi.
• Pencatatan & Evaluasi Proses
QC melakukan dokumentasi seluruh proses pengemasan hingga pengiriman. Setiap temuan, inspeksi, dan tindakan korektif dicatat dan digunakan untuk evaluasi berkelanjutan serta peningkatan sistem logistik.
• Pelatihan & Pembagian Tugas
Kompetensi QC dijaga melalui pelatihan rutin dan pembagian tugas spesifik (QC produksi, QC gudang, QC distribusi). Tenaga QC wajib memahami teknik inspeksi, penggunaan alat ukur (misal termometer), hingga analisis risiko guna menekan peluang kegagalan logistik.
Peran QC dalam logistik tidak berhenti hanya pada aspek pengawasan mutu. Lebih dari itu, QC juga memiliki sejumlah tanggung jawab teknis yang harus dijalankan secara konsisten. Tugas-tugas inilah yang menjadi kunci keberhasilan distribusi, memastikan setiap produk sampai ke tangan konsumen dalam kondisi terbaik. Dalam rantai pasok Rumah Potong Ayam (RPA), tahap logistik sering kali menjadi titik rawan yang menentukan mutu akhir produk sebelum sampai ke tangan konsumen. Karena itu, Quality Control (QC) memiliki sejumlah tugas utama yang wajib dilaksanakan dengan ketelitian tinggi. Mulai dari pengendalian suhu, pemeriksaan kondisi kemasan, hingga pencatatan dokumen distribusi, setiap tugas QC logistik berperan penting menjaga kualitas sekaligus menjamin keamanan pangan. Tugas utama QC Logistik di RPA meliputi:
• Memastikan Kemasan dan Labeling Sesuai Standar
Kemasan harus memenuhi standar kebersihan, keamanan, dan daya tahan untuk menjaga kualitas daging selama distribusi. Labeling wajib mencantumkan informasi penting seperti tanggal produksi, tanggal kadaluwarsa, nomor batch, sertifikasi halal, serta nomor kontrol veteriner (NKV). Hal ini penting agar konsumen mendapatkan informasi yang transparan dan produk dapat dilacak bila ada masalah.
• Mengontrol Suhu Produk yang Akan Didistribusikan
Suhu produk harus tetap dijaga pada rentang yang telah ditentukan, biasanya di bawah 4°C agar pertumbuhan mikroorganisme berbahaya dapat dicegah. Kontrol suhu ini meliputi pengecekan menggunakan alat pengukur suhu (thermometer) secara berkala tepat sebelum daging didistribusikan, memastikan produk yang dikirim masih dalam kondisi aman dan segar. Produk yang dikirim biasanya dalam dua kondisi yaitu Fresh dan Frozen. Ketentuan suhu untuk produk dalam kondisi Fresh yaitu 0-4oC dan untuk produk Frozen yaitu minimal -10oC.
• Mengontrol Suhu Penyimpanan dan Kendaraan Pendingin Sebelum Pengiriman
Mengontrol suhu penyimpanan dan kendaraan pendingin sebelum pengiriman merupakan langkah krusial dalam menjaga keamanan dan mutu produk daging ayam. Suhu penyimpanan harus dipertahankan pada kisaran 0-4°C untuk produk fresh dan minimal -10°C untuk produk frozen, sesuai standar cold chain. Sesuai dengan pernyataan dari Admin Sukahati (2024) bahwa rantai terakhir dari sistem cold chain rumah potong ayam adalah pengiriman dengan menggunakan container box atau refer truk. Pemilihan kendaraan untuk distribusi juga tak boleh sembarangan, harus menggunakan kendaraan dengan suhu yang sesuai dengan standar cold chain. Suhu yang lebih tinggi tidak disarankan karena akan merusak kualitas daging. Kendaraan pendingin yang digunakan untuk distribusi diperiksa secara rutin untuk memastikan sistem pendingin berfungsi optimal dan suhu tetap stabil selama pengiriman, sehingga produk sampai ke konsumen dalam kondisi aman dan segar.
• Melakukan Sampling dan Pencatatan Distribusi
Melakukan sampling dan pencatatan distribusi dilakukan secara rutin untuk memastikan kualitas produk selama tahap distribusi. Sampling acak dilakukan pada produk untuk pengujian fisik, sementara hasil pengujian tersebut serta kondisi produk dan proses distribusi dicatat dengan rinci.
• Memonitor serta Mengelola Dokumen QC dan Log Pengiriman
Dokumen QC mencakup data hasil sampling, catatan suhu, dan tindakan korektif yang telah diambil. Log pengiriman mendokumentasikan rincian setiap batch produk yang dikirim, termasuk tujuan dan waktu pengiriman. Sistem dokumentasi ini memudahkan traceability produk dan menjadi dasar pengambilan keputusan serta audit kualitas berkala.
• Melakukan Tindakan Korektif jika Ditemukan Non-Conformity
Jika ditemukan adanya non-conformity, misal produk cacat atau suhu distribusi tidak sesuai, dilakukan tindakan korektif dengan menyisihkan batch yang bermasalah dan melakukan investigasi sumber masalah untuk memperbaiki proses. Seluruh tindakan ini tercatat dan dievaluasi secara berkala guna meningkatkan sistem pengendalian mutu.
• Evaluasi Berkala dan Pelatihan Tim QC
Pelatihan mencakup standar hygiene, penggunaan alat kontrol mutu, serta penanganan non-conformity sesuai perkembangan regulasi industri makanan. Seluruh langkah ini mengacu pada praktik terbaik pengelolaan cold storage, standar HACCP, serta pedoman penyimpanan dan distribusi daging ayam oleh industri pangan di Indonesia dan internasional, sehingga daging ayam yang didistribusikan benar-benar aman dan bermutu tinggi.
Setelah memahami peran strategis QC dalam logistik serta berbagai tugas utamanya, penting juga untuk melihat sisi lain, apa yang terjadi jika fungsi QC tersebut diabaikan? Rantai pasok di Rumah Potong Ayam (RPA) sangat bergantung pada ketelitian QC dalam menjaga mutu dan keamanan produk. Ketidakhadiran kontrol yang memadai bukan hanya menurunkan kualitas daging ayam, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko serius bagi kesehatan konsumen, keberlangsungan bisnis, hingga reputasi perusahaan. Dampak yang muncul tidak sekadar berupa kerugian materi, melainkan juga dapat menjalar pada aspek hukum, regulasi, bahkan kepercayaan publik. Dampak jika Quality Control diabaikan dalam aspek logistik di Rumah Potong Ayam bisa menyebabkan beberapa hal seperti :
• Kontaminasi mikrobiologis yang berbahaya bagi kesehatan konsumen, termasuk risiko keracunan makanan akibat bakteri seperti Salmonella atau E. coli yang dapat berkembang jika suhu penyimpanan tidak dikontrol dengan baik.
• Kerusakan fisik produk, seperti daging ayam yang rusak, kemasan sobek, atau produk yang cacat, yang dapat mengurangi kualitas dan kepercayaan konsumen.
• Penurunan kualitas dan keamanan produk secara keseluruhan, yang berujung pada produk tidak memenuhi standar nasional dan regulasi keamanan pangan.
• Penolakan produk oleh pasar dan regulator, yang menyebabkan kerugian ekonomi dan cacat reputasi bagi RPA.
• Potensi penutupan usaha, serta risiko hukum akibat produk yang tidak aman atau tidak sesuai ketentuan halal, yang sangat penting dalam konteks Rumah Potong Ayam di Indonesia.
Daftar Pustaka
BPSDMI (Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri), Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin). 2022
BSN (Badan Standardisasi Nasional). Standard Nasional Indonesia (SNI) 01-6160-1999 tentang Persyaratan Rumah Pemotongan Unggas. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Christopher, M. (2016). Logistics & Supply Chain Management (5th ed.). Pearson Education Limited.
Sukahati, Admin. (2024). Apa Itu Cold Chain Management dalam Rumah Potong Ayam. Diakses secara online pada https://www.rpasukahati.com/2024/05/23/apa-itu-cold-chain-management-dalam-rumah-potong-ayam.
