Rp100 Ribu Masih Rp100 Ribu, Tapi Kenapa Belanjanya Makin Sedikit?

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Novia Dhita Rahmayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu momen yang mungkin terasa familiar bagi banyak orang: tanggal gajian datang, saldo rekening terlihat cukup menyenangkan. Beberapa hari kemudian, mulai ada uang yang keluar untuk makan, transportasi, listrik, pulsa, cicilan, belanja rumah, sampai kebutuhan-kebutuhan kecil yang awalnya terasa tidak seberapa.
Lalu tanpa terasa, pertengahan bulan sudah tiba.
Kita membuka rekening dan bertanya dalam hati, “Uang saya ke mana?”
Menariknya, pertanyaan itu tidak selalu muncul karena seseorang tiba-tiba menjadi lebih boros. Kadang pendapatan memang bertambah, tetapi kebutuhan dan harga barang juga ikut bergerak. Akibatnya, kenaikan pendapatan yang seharusnya membuat kehidupan terasa lebih longgar justru hanya membuat kita sedikit lebih mampu bertahan.
Di sinilah teori ekonomi makro sebenarnya terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Selama ini ekonomi makro sering dibayangkan sebagai urusan pemerintah, Bank Indonesia, inflasi, pertumbuhan ekonomi, atau angka Produk Domestik Bruto (PDB) yang muncul di berita. Padahal, dampaknya bisa terasa sederhana: berapa banyak uang yang masih tersisa setelah semua kebutuhan dibayar.
Pendapatan Naik Belum Tentu Membuat Kita Lebih Sejahtera
Dalam teori ekonomi makro, konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen penting dalam perekonomian. Ketika masyarakat memiliki pendapatan, sebagian digunakan untuk konsumsi dan sebagian lainnya bisa ditabung.
Secara sederhana:
Pendapatan = Konsumsi + Tabungan
Masalahnya, dalam kehidupan nyata, konsumsi tidak selalu berhenti pada kebutuhan pokok. Ketika pendapatan meningkat, pola konsumsi juga bisa berubah.
Misalnya, seseorang yang sebelumnya selalu membawa bekal mulai sesekali membeli makanan di luar. Yang sebelumnya menggunakan transportasi paling murah mulai memilih layanan yang lebih praktis. Bukan karena tiba-tiba menjadi boros, tetapi karena ada sedikit ruang dalam pendapatannya.
Ini berkaitan dengan konsep Marginal Propensity to Consume (MPC), yaitu kecenderungan seseorang untuk menggunakan tambahan pendapatan untuk konsumsi.
Kalau pendapatan bertambah Rp1 juta dan Rp700 ribu dari tambahan tersebut digunakan untuk belanja, berarti MPC-nya sebesar 0,7.
Secara teori, ketika pendapatan meningkat, konsumsi juga cenderung meningkat. Namun, bukan berarti seluruh tambahan pendapatan akan menjadi tabungan.
Jadi, jangan heran jika seseorang mendapat kenaikan gaji tetapi merasa kondisi keuangannya tidak berubah drastis.
Ada Masalah Lain: Harga Barang Tidak Diam
Kita sering berpikir sederhana:
“Gaji naik berarti daya beli naik.”
Padahal, ada satu hal yang harus ikut diperhatikan: harga.
Misalnya, pendapatan seseorang naik 5 persen dalam setahun. Sekilas terdengar bagus. Tetapi jika harga berbagai kebutuhan juga meningkat, kenaikan pendapatan tersebut belum tentu menghasilkan peningkatan daya beli sebesar 5 persen.
Inilah mengapa inflasi penting dalam ekonomi makro.
Inflasi bukan sekadar angka yang diumumkan setiap bulan. Inflasi menentukan seberapa banyak barang dan jasa yang bisa kita beli dengan uang yang kita miliki.
Bayangkan dulu uang Rp50 ribu cukup untuk membeli beberapa kebutuhan. Sekarang, dengan jumlah uang yang sama, mungkin hanya mendapatkan sebagian dari barang yang biasanya dibeli.
Uangnya tetap Rp50 ribu.
Yang berubah adalah kemampuan uang tersebut untuk membeli barang.
Karena itu, menurut saya, masyarakat tidak seharusnya hanya melihat apakah pendapatan meningkat atau tidak. Yang lebih penting adalah melihat pendapatan riil, yaitu pendapatan setelah mempertimbangkan perubahan harga.
Kenaikan gaji tanpa peningkatan daya beli yang berarti bisa terasa seperti berjalan di treadmill: kita bergerak, tetapi tidak benar-benar maju.
Kenapa Promo Justru Bisa Membuat Kita Lebih Banyak Belanja?
Ada fenomena lain yang menarik.
Ketika membuka aplikasi belanja, kita menemukan tulisan seperti “gratis ongkir”, “diskon 50 persen”, atau “potongan harga hanya hari ini”.
Awalnya kita tidak berniat membeli.
Namun setelah melihat promo, kita mulai berpikir:
“Lumayan murah.”
Akhirnya barang yang tidak ada dalam daftar kebutuhan masuk ke keranjang.
Ini menunjukkan bahwa keputusan konsumsi tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan, tetapi juga oleh ekspektasi dan kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Dalam teori ekonomi makro, konsumsi tidak hanya bergantung pada pendapatan saat ini. Ekspektasi terhadap pendapatan dan kondisi ekonomi masa depan juga dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk berbelanja atau menabung.
Kalau masyarakat merasa kondisi ekonomi ke depan aman, mereka cenderung lebih percaya diri melakukan konsumsi.
Sebaliknya, ketika merasa pekerjaan tidak aman atau harga-harga akan semakin tinggi, orang bisa menahan belanja dan memilih menyimpan uang.
Menariknya, dua orang dengan pendapatan yang sama bisa mempunyai perilaku konsumsi yang berbeda hanya karena mereka memiliki ekspektasi yang berbeda terhadap masa depan.
Kalau Semua Orang Menahan Belanja, Apa yang Terjadi?
Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar saldo rekening pribadi.
Dalam ekonomi makro terdapat konsep multiplier effect atau efek pengganda.
Ketika masyarakat meningkatkan konsumsi, pengeluaran tersebut menjadi pendapatan bagi pihak lain. Kita membeli makanan dari pedagang. Pedagang memperoleh pendapatan. Pendapatan itu kemudian digunakan untuk membeli bahan baku, membayar pekerja, atau memenuhi kebutuhan lainnya.
Uang yang kita keluarkan tidak berhenti pada satu orang.
Sebaliknya, jika masyarakat secara bersamaan mengurangi konsumsi karena khawatir terhadap kondisi ekonomi, pendapatan pelaku usaha juga dapat menurun. Jika penjualan turun, perusahaan bisa mengurangi produksi. Dalam kondisi tertentu, aktivitas ekonomi ikut melambat.
Artinya, keputusan yang terlihat sangat pribadi seperti membeli atau tidak membeli bisa memiliki dampak yang lebih luas ketika dilakukan oleh jutaan rumah tangga secara bersamaan.
Inilah salah satu alasan mengapa konsumsi rumah tangga menjadi perhatian penting dalam ekonomi makro.
Jadi, Apakah Kita Memang Boros?
Menurut saya, terlalu mudah menyimpulkan bahwa masalah keuangan rumah tangga hanya disebabkan oleh perilaku boros.
Tentu saja, kemampuan mengatur keuangan tetap penting. Tetapi kita juga perlu melihat lingkungan ekonomi yang membentuk keputusan tersebut.
Harga kebutuhan berubah. Pendapatan berubah. Biaya tempat tinggal berubah. Transportasi berubah. Pola pekerjaan berubah. Bahkan cara kita berbelanja berubah karena teknologi.
Masyarakat sekarang juga hidup dalam ekonomi yang membuat konsumsi menjadi sangat mudah. Untuk membeli sesuatu, kita tidak perlu lagi pergi ke toko. Cukup membuka ponsel, memilih barang, lalu melakukan pembayaran.
Jarak antara “ingin membeli” dan “benar-benar membeli” menjadi semakin pendek.
Karena itu, persoalan konsumsi rumah tangga sebenarnya berada di persimpangan antara teori ekonomi dan perilaku manusia.
Kita bukan sekadar angka dalam statistik konsumsi. Kita adalah orang-orang yang membuat keputusan ekonomi setiap hari.
Ekonomi Makro Ternyata Ada di Dalam Dompet Kita
Pada akhirnya, ekonomi makro bukan hanya tentang grafik pertumbuhan ekonomi atau angka inflasi yang terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari.
Ekonomi makro ada ketika harga makanan naik dan kita mengganti menu makan siang.
Ada ketika ongkos transportasi meningkat dan kita mulai mencari alternatif.
Ada ketika pendapatan bertambah tetapi tabungan tidak ikut bertambah.
Ada ketika masyarakat memilih menahan belanja karena merasa masa depan ekonomi belum pasti.
Dan ada ketika jutaan keputusan kecil tersebut akhirnya membentuk angka konsumsi, pertumbuhan ekonomi, dan aktivitas perekonomian suatu negara.
Mungkin karena itu, pertanyaan “uang saya ke mana?” sebenarnya bukan hanya pertanyaan tentang pengelolaan keuangan pribadi.
Ada pertanyaan ekonomi yang lebih besar di belakangnya:
Apakah pendapatan kita benar-benar bertambah, atau kita hanya sedang berlari mengejar kenaikan harga?
Sebab pada akhirnya, ukuran kesejahteraan bukan sekadar berapa besar angka yang masuk ke rekening. Yang lebih penting adalah seberapa jauh pendapatan tersebut mampu memberikan ruang bagi kita untuk hidup, memenuhi kebutuhan, dan menyisakan sesuatu untuk masa depan.
Dan mungkin, di situlah teori ekonomi makro menjadi terasa paling nyata: bukan di dalam buku teks, melainkan ketika kita menghitung sisa uang di dompet sebelum akhir bulan.
