Bentuk Kritik Sosial pada Puisi Asep Sambodja danTaufiq Ismail Tema Palestina

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Novia Fitri Zahroh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sering dikatakan bahwa sastra muncul sebagai refleksi dari kondisi sosial budaya, dengan kata lain sastra mencerminkan realitas sosial yang terikat erat dengan situasi sosial tersebut. Fenomena kehidupan mengandung berbagai aspek seperti aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, kemanusiaan, agama, dan moral. Pengarang dalam berkarya menggunakan daya imajinasinya untuk menyeleksi, mengkaji, merenungkan, mengolah, dan mengungkapkan realitas kehidupan ke dalam karya yang biasanya menggunakan media bahasa (Setiawaty et al., 2022). Hal itu membuat banyak puisi yang mengandung kritik sosial. Bahkan tak sedikit penyair yang membuat rangkaian kata dalam puisinya menjadi alat dalam mengungkapkan pandangan terhadap isu-isu sosial, politik, ekonomi, dan budaya dalam masyarakat.
Puisi kritik sosial yang ditulis oleh penyair diharapkan mampu menyentuh kesadaran pembaca terhadap ketidakadilan, penindasan, ketimpangan, dan masalah-masalah lain yang ada dalam kehidupan sosial. Kritik sosial ini dapat disampaikan melalui simbol, metafora, ironi, dan gaya bahasa lainnya yang menggugah pembaca untuk berpikir dan merenungkan kondisi sosial yang ada. Kritik sosial dalam puisi tidak hanya bertujuan untuk menyampaikan protes, tetapi juga untuk memberikan refleksi dan pemahaman lebih dalam kepada pembaca mengenai kondisi sosial yang terjadi di sekitarnya. Menurut Idal dalam (Krisna et al., 2021) menjelaskan bahwa kritik sosial merupakan sindiran, kecaman atau tanggapan terhadap suatu kelompok atau individu tertentu yang berkaitan dengan kepincangan yang terjadi di lingkungan masyarakat.
Seperti dalam puisi Asep Sambodja “Palestina! Palestina” dengan puisi Taufiq Ismail “palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu”. Kedua puisi ini merupakan puisi kritik sosial yang mengangkat isu mengenai kondisi Palestina saat ini. Jika dilihat dari isi puisinya, penulis ingin menggambarkan akan penderitaan serta ketidakadilan yang dialami oleh rakyar Palestina akibat konflik dengan Israel yang sudah berlangsung lama. Penyair menggunakan kata-kata dan gaya bahasa yang kuat, untuk menyampaikan empati dan ptotes terhadap keadaan yang menimpa rakyat palestina. Hal ini lah yang membuat kedua puisi ini sangat menarik utnuk dibandingkan, karena meskipun keduanya mengangkat tema yang sama, yaitu keadaan Palestina, masing-masing puisi tersebut tentunya memiliki pendekatan dan gaya penyampaian yang berbeda. Terdapat 5 bentuk permasalahan sosial yang ditemukan di dalam puisi Asep Sambodja “Palestina! Palestina” dengan puisi Taufiq Ismail “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu”, yaitu: 1) Kritik sosial ekonomi; 2) Kritik sosial moral; dan 3) Kritik sosial politik. Kritik sosial dalam puisi "Palestina! Palestina" karya Asep Sambodja dan "Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu" karya Taufiq Ismail disampaikan melalui dua pendekatan, yaitu langsung dan tidak langsung.
1) Kritik sosial ekonomi
Kritik sosial ekonomi adalah ketimpangan sosial pada masyarakat dalam bidang perekonomian. Hal ini mencakup permasalahan seperti kemiskinan, ketidakmerataan distribusi kekayaan, eksploitasi tenaga kerja, dan ketidakadilan dalam akses ke sumber daya ekonomi seperti pendidikan, pekerjaan, dan layanan kesehatan. Jika dilihat dari puisi “Palestina! Palestina” karya Asep Sambodja dan puiai “Palestina Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu’ karya Taufiq Ismail, digambarkan akan permaslaahan sosial dalam bidang ekonomi, sebagai berikut:
Dalam puisi “Palestina Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu’ karya Taufiq Ismail
Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan
apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu
di Tel Aviv dimasukkan dalam file lemari kantor
agraria, serasa kebun kelapa dan pohon manggaku
di kawasan khatulistiwa, yang dirampas mereka
Dalam kutipan di atas, Taufiq Ismail menggambarkan akan kritik sosial bidang prekonomian. Hal ini digambarkan dengan kata “perekebunan jeruk dan pepohonan apel, dilipat-lipat sebesar saputangan”. Jika dilihat dari fakta yang ada, meski daerah jazirah Arab banyak akan wilayah gurun pasir, tetapi daerah Gaza termasuk daerah yang subur dan sangat bagus untuk daerah pertanian. Misalnya, di Khan Younis, wilayah di tengah jalur Gaza di antara pesisir laut tengah dan dinding perbatasan Israel, terdapat ladang jeruk berhektare-hektare. Kutipan di atas menggambarkan bahwa komoditi utama yang dimiliki oleh Palestina seperti jeruk dan apel yang sangat luas, dilipat seperti saputangan oleh pihak Israel. Hal ini Taufiq Ismail juga memberikan perbandingan dengan hasil pertanian kebun kelapa dan pohon mangga yang menjadi komoditi utama di kawasan khatulistiwa. Dalam puisi tersebut, Taufiq Ismail mengkritik tindakan Israel yang mengambil alih lahan pertanian milik Palestina, dengan tujuan agar pembaca dapat memahami dan menyadari ketidakadilan yang terjadi. Puisi ini menggambarkan penderitaan yang dialami rakyat Palestina, yang tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga sumber penghidupan mereka dari sektor pertanian.
Dalam puisi “Palestina! Palestina” karya Asep Sambodja
Jika dilihat dari puisi “Palestina! Palestina” karya Asep Sambodja, tidak ada kata-kata yang menggambarkan akan kritik sosial dalam bidang pertanian. Kritik dalam puisi ini lebih banyak tertuju pada penderitaan akibat konflik, penindasan, dan ketidakadilan yang terjadi di Palestina, tanpa menyentuh secara spesifik isu pertanian atau perampasan sumber daya alam.
2) Kritik sosial moral
Kritik sosial moral adalah jenis kritik yang berfokus pada tindakan baik atau buruk perilaku yang dilakukan individu atau kelompok dalam menilai karakter, moralitas, dan keputusan yang diambil dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mencakup permaslaahan akan tindakan yang dapat mempengaruhi individu lainnya bahkan lingkungan sekitar. Dalam kritik sosial moral juga tidak melihat norma-norma yang ada di masyarakat. Jika dilihat dari puisi “Palestina! Palestina” karya Asep Sambodja dan puiai “Palestina Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu’ karya Taufiq Ismail, digambarkan akan permaslahan sosial dalam bidang moral, sebagai berikut:
Dalam puisi “Palestina Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu’ karya Taufiq Ismail
Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan
umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma,
lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya,
siapakah yang tak menjerit serasa anak-anak kami
Indonesia jua yang dizalimi mereka tapi saksikan tulang muda mereka yang patah
Dalam kutipan di atas, Taufiq Ismail menggambarkan akan kritik sosial bidang moral. Dilihat dalam kutipan puisi di atas, menggambarkan akan penderitaan anak-anak yang menjadi korban dari kekejaman Israel. Akibat agresi militer Israel dan Palestina, menyebabkan terjadi kritik sosial bidang moral, karena pada permasalahan ini, anak-anak yang tidak tahu akan permasalahan yang terjadi, harus ikut merasakan dampak dari agresi militer yang dilakukan Israel. Mereka, yang seharusnya menikmati masa kecil yang aman, justru harus menanggung penderitaan yang disebabkan oleh tindakan kekejaman dan ketidakadilan yang tidak ada kaitannya dengan mereka.
Taufiq Ismail mengangkat kritik sosial terhadap moral dengan menggambarkan dampak yang dirasakan anak-anak akibat agresi militer yang dilakukan Israel. Penyair berharap masyarakat bisa menyadari penderitaan yang dialami oleh rakyat Palestina. Bahkan, Taufiq Ismail menggambarkan anak-anak Indonesia dengan tulang muda mereka yang dipatahkan sebagai simbol penderitaan yang tak seharusnya mereka alami. Melalui gambaran ini, Taufiq Ismail berupaya membuka mata pembaca tentang ketidakadilan yang dirasakan oleh pihak yang paling tidak bersalah dalam perang, yaitu anak-anak. Puisi ini berfungsi untuk menyadarkan pembaca akan pentingnya menghentikan kekerasan dan melindungi hak-hak dasar anak-anak di tengah konflik yang berkepanjangan.
Dalam puisi “Palestina! Palestina” karya Asep Sambodja
Aku melihat Palestina yang terluka dan berdarah lagi Israel baru saja mengirim pesawat pembom F16 yang berisi malaikat pencabut nyawa ke jalur gaza hingga 870 orang mati di Gaza, aku melihat Palestina terluka teramat dalam oleh tentara-tentara Ehud Olmert, Ehud Barak, dan Tzipi Livni dan 3.000 orang terluka lagi bermandi darah
Dalam kutipan di atas, Asep Sambodja menggambarkan akan kritik sosial bidang moral. Dilihat dalam kutipan puisi di atas, menggambarkan penderitaan yang dialami oleh masyarakat Palestina, akibat agresi militer yang dilakukan oleh Israel. Dalam puisi ini digambarkan akan tindakan buruk yang dilakukan oleh tentara Isarel yang menyebabkan penderitaan yang dialami oleh masyarakat Palestina. Dampak kematian dan luka-luka di Gaza menyoroti akan pengaruh negatif dari tindakan kekerasan yang berdampak pada lingkungan sekitar, khsusunya masyarakat Palestina yang berada pada daerah konflik. Tindakan tersebut menjadi kritik moral karena menggambarkan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Dalam puisi Asep Sambodja, kekejaman yang dilakukan oleh tentara Israel, yang menyebabkan banyak korban jiwa dan penderitaan di Gaza, mencerminkan tindakan yang bertentangan dengan prinsip moral yang menghargai hak hidup dan martabat manusia.
3) Kritik sosial politik
Kritik sosial politik adalah jenis kritik yang berfokus pada ketimpangan yang terjadi dalam ranah politik, termasuk dalam hal pengaruh, kekuasaan, dan kewenangan. Dalam konteks ini, kritik sosial sering diarahkan pada kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil, sistem pemilihan yang tidak transparan atau merugikan, serta perilaku politisi yang menyalahgunakan kekuasaan atau bertindak demi kepentingan pribadi, bukan untuk kepentingan masyarakat. Tujuan dari kritik sosial politik adalah untuk memperbaiki sistem politik yang ada, memastikan keadilan, dan mendorong terciptanya kebijakan yang berpihak pada rakyat banyak. Jika dilihat dari puisi “Palestina! Palestina” karya Asep Sambodja dan puisi “Palestina Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu’ karya Taufiq Ismail, digambarkan akan permaslahan sosial dalam bidang politik, sebagai berikut:
Dalam puisi “Palestina Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu’ karya Taufiq Ismail
Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi
dusta, menebarkannya ke media cetak dan elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi
di padang pasir belantara, membangkangit resolusi-resolusi
majelis terhormat di dunia, membantai
di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser Arafat dan semua pejuang negeri anda,
Dalam kutipan di atas, Taufiq Ismail menggambarkan akan kritik sosial bidang politik. Kutipan di atas ini menggambarkan akan ketidakadilan pada penyebaran informasi tentang agresi militer Israel dengan Palestina. Banyak media yang dusta menyebarkan berita hoaks akan agresi militer tersebut. Dalam hal ini, penyair menyoroti bagaimana media yang seharusnya menyebarkan berita kebenaran, justru menyebarkan berita palsu, bahkan menyebutkan pihak Israel yang benyak mengalami dampak dari agresi tersebut. Tentunya pembohongan ini, akan menciptakan persepsi publik tentang kebenaran yang terjadi, serta mengabaikan realitas penderitaan yang dialami oleh masyarakat Palestina. Kritik ini juga menyinggung bagaimana resolusi internasional dan upaya perdamaian sering kali dilanggar atau diabaikan oleh pihak-pihak yang berkuasa, sementara korban terus menderita.
Dalam puisi “Palestina! Palestina” karya Asep Sambodja
Yasir Arafat dan Isaac Rabin pernah bersalaman di depan bill clinton di tahun 1993 tapi apa arti salam-salaman simbolik itu? apa arti senyum simbolik Amerika itu? …
aku tak habis pikir kenapa PBB tak mengirimkan pasukan perdamaian di Jalur Gaza, tepi barat, dan Yerusalem? Kenapa?
Dalam kutipan di atas, Asep Sambodja menggambarkan akan kritik sosial bidang moral. Puisi ini mempertanyakan makna dari peristiwa-peristiwa simbolik seperti pertemuan antara Yasir Arafat dan Isaac Rabin di depan Bill Clinton pada tahun 1993, serta senyum yang diberikan oleh Amerika. Pertanyaan tersebut menunjukkan kekecewaan terhadap tindakan yang tampaknya hanya bersifat simbolis dan tidak diikuti oleh perubahan nyata dalam upaya perdamaian. Selain itu, puisi ini juga mengkritik ketidakadilan yang terjadi dengan mempertanyakan mengapa PBB tidak mengirimkan pasukan perdamaian ke wilayah-wilayah yang dilanda konflik, seperti Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem. Dengan pertanyaan-pertanyaan ini, Asep Sambodja menyoroti kegagalan organisasi internasional dalam melindungi hak asasi manusia dan mencapai perdamaian yang sejati di Palestina.
Perbandingan Bentuk Kritik Sosial pada Puisi Asep Sambodja “Palestina! Palestina” dengan Puisi Taufiq Ismail “palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu”
Dalam puisi “Palestina Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu” karya Taufiq Ismail dan “Palestina! Palestina” karya Asep Sambodja, keduanya mengangkat kritik sosial dalam berbagai bidang, namun dengan fokus yang berbeda. Kritik sosial ekonomi dalam puisi Taufiq Ismail terlihat jelas dalam gambaran tentang perampasan lahan pertanian Palestina, seperti kebun jeruk dan apel yang "dilipat-lipat sebesar saputangan", simbol dari pengambilalihan sumber daya alam oleh Israel yang merugikan ekonomi rakyat Palestina. Hal ini bertentangan dengan puisi Asep Sambodja yang lebih mengarah pada kritik sosial moral, menggambarkan penderitaan rakyat Palestina akibat agresi militer Israel, khususnya terhadap anak-anak yang menjadi korban.
Di sisi lain, kritik sosial politik dalam puisi Taufiq Ismail menyoroti manipulasi media dan pelanggaran resolusi internasional yang tidak diperdulikan oleh pihak yang berkuasa, sementara Asep Sambodja mengkritik kegagalan internasional, terutama PBB, dalam mengirimkan pasukan perdamaian ke Palestina, mempertanyakan makna simbolisme dalam pertemuan-pertemuan perdamaian yang tidak menghasilkan perubahan nyata. Dengan demikian, kedua puisi ini menggambarkan penderitaan rakyat Palestina dengan pendekatan yang berbeda, mencakup bidang ekonomi, moral, dan politik, namun keduanya menyoroti ketidakadilan yang terjadi akibat kekuasaan dan konflik.
DAFTAR PUSTAKA
Qur’ani, H. B. (2021). Kritik Sosial Dalam Puisi “Karangan Bunga” Karya Taufik Ismail. Jurnal Edukasi Khatulistiwa : Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia, 4(2), 109. https://doi.org/10.26418/ekha.v4i2.44480
Nugraheni, L. (2022). Kritik Sosial Puisi “Bila Sudah Bosan” Karya Masriady Mastur Sebagai Materi Ajar di Perguruan Tinggi: Tinjauauan Sosiologi Sastra. Prosiding Seminar Nasional Seminar Nasional Dies Natalis UMK Ke-42, 210–222. https://conference.umk.ac.id/index.php/sndies/article/view/333
