Konten dari Pengguna

Citra Perempuan dalam Novel Layar Terkembang dengan Novel Belenggu

Novia Fitri Zahroh

Novia Fitri Zahroh

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Novia Fitri Zahroh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar novel “Layar Terkembang” karya Sutan Takdir Alisjahbana dan novel “Belenggu” karya Armijn Pane. (Sumber gambar: pribadi).
zoom-in-whitePerbesar
Gambar novel “Layar Terkembang” karya Sutan Takdir Alisjahbana dan novel “Belenggu” karya Armijn Pane. (Sumber gambar: pribadi).

Karya sastra seakan menjadi cermin tentang kehidupan nyata. Hal ini, karena dalam karya sastra terdapat pemikiran maupun pemahaman mengenai kehidupan nyata yang dikemas secara apik untuk dinikmati oleh semua orang. Karya sastra yang disajikan oleh pengarang tentunya menggambarkan akan nilai-nilai kehidupan yang tentunya akan melahirkan pesan dari karya yang dihasilkan. Pemahaman akan hal itu, juga didukung oleh (Defianti, 2020) yang mengatakan bahwa karya sastra yang baik itu karya sastra yang tidak terikat oleh nilai dan fakta masyarakat setempat, tetapi lebih bersifat universal.

Gagasan bahwa sastra seakan cermin pada masanya, diartikan sebagai sastra yang ditulis pengarang sejalan dengan waktu saat pengarang menulis karya tersebut. Karya sastra bukan hanya imajinasi pengarang saja, tetapi imajinasi pengarang itu menyajikan persoalan kemanusiaan dan persoalan hidup. Seperti halnya dengan karya sastra periode 1920-an yang membahas persoalan gender dan juga perempuan sebagai topik pembahasan dalam karya sastra yang disajikan. Permasalahan itu terjadi karena adanya paradigma yang menyebut perempuan sebagai kaum lemah, terbelakang, dan termarginal (Muyassaroh, 2017). Itu semua membuat sastrawan membuat karya sastra dengan tema pembahasan akan perempuan dalam karya sastra seperti dalam puisi, darama, prosa (novel dan drama).

Seperti pada kedua novel ini, yaitu novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1936, dengan novel Belenggu karya Armijn Pane yang diterbitkan pertama kali oleh Pujangga Baru pada tahun 1940. Sutan Takdir Alisjahbana, dalam novelnya Layar Terkembang, memperkenalkan pemikiran perempuan modern dengan menggambarkan perjuangan mereka untuk memperoleh hak-hak mereka serta tuntutan akan perubahan dalam masyarakat. Sebaliknya, Armijn Pane menyajikan pandangan perempuan tradisional dalam karyanya novel Belenggu. Perbedaan sudut pandang ini menjadi aspek yang menarik untuk dikaji, mengingat kedua penulis memiliki perspektif yang berbeda dalam menggambarkan peran perempuan dalam karya sastra mereka, meski kedunya sama-sama mengangkat tema perjuangan perempuan dalam meraih kesetaraan.

Citra Perempuan dalam Novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana

Novel Layar Terkembang merupakan salah satu sastra modern pada masanya. Saat itu memang masanya Indonesia mulai mengenal budaya modern. St.Takdir Alisjahbana termasuk penulis yang berani dalam menunjukkan karya sastra yang berbeda dari yang lain. Saat itu karya sastra biasanya membawakan latar tempat Melayu, sedangkan St. Takdir Alisjahbana dalam menulis novel Layar Terkembang membawakan latar alur Batavia. Karya sastra ini termasuk ke dalam karya sastra modern di tengah pemikiran masyarakat yang masih menerapkan pemikiran lama dalam memandang kehidupan. Novel Layar Terkembang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1936.

Novel Layar Terkembang mengisahkan tentang perjuangan wanita dalam meraih hak-haknya ditengah pemikiran masyarakat Indonesia yang masih dalam pemikiran lama. Dalam novel Layar Terkembang juga membahas mengenai persoalan kaum perempuan indonesia yang masih berbenturan dengan budaya baru yang belum siap diterima oleh masyarakat. Hak-hak perempuan yang ada dalam novel Layar Terkembang harus diperjuangkan agar sejalan dengan pemikiran modern. Hak-hak perempuan selain berbenturan dengan budaya modern juga berbenturan dengan ketatnya hukum adat yang ada. Itu semua sejalan dengan kehidupan masyarakat yang saat itu masih memegang paham akan hukum adat yang kuat. Seperti dalam hukum adat, perempuan tidak mendapat hak dalam berpendidikan, menyuarakan pendapat, bahkan dalam hukum adat. Persoalan tersebut mendukung adanya perjuangan dari para perempuan untuk membuat pemikiran lebih terbuka dan mendukung pemahaman akan kemandirian bagi perempuan.

Dalam novel Layar Terkembang digambarkan akan adanya penggerak wanita yang dipimpin oleh sosok Tuti dengan usianya 25 tahun. Tokoh Tuti dalam organisasi Putri Sedar, meyakini bahwa keadaan perempuan bangsanya amat sangat buruk. Perempuan selalu terikat oleh banyak ikatan, perempuan hanya hidup untuk keperluan laki-laki. Pada novel ini, Sutan Takdir Alisjahbana menghadirkan tokoh perempuan yang berani menolak akan ketidaksetaraan yang ada, hal itu tentunya berbeda dengan tokoh-tokoh perempuan dalam karya sastra sebelumnya. STA menciptakan tokoh Tuti dengan keberaninnya sebagai wanita yang aktif di luar rumah, ikut dalam organisasi pergerakan, dan menuntut akan persamaan hak antara perempuan dan anita. Hal ini tentunya sejalan dengan cita-cita Takdir terhadap wanita Indonesia, yaitu sebagai wanita yang maju, yang sadar akan hak dan kewajibannya, dan secara tegas, menolak perlakuan sebagaimana yang terjadi pada tokoh-tokoh perempuan pada Angkatan Balai Pustaka. Dari sudut pandang lain, Tuti dipandang sebagai kelanjutan tokoh-tokoh perempuan sebelumnya dalam melakukan pemberontakan. Mereka, para tokoh-tokoh perempuan Angkatan Balai Pustaka itu sebenarnya telah melakukan pemberontakan (dalam bentuk yang masih tersamar) walaupun ternyata gagal. Hal itu tentunya mencerminkan realitas sosial pada waktu itu, dan STA membawa perubahan tokoh perempuan baru dengan jiwa modern dalam karyanya Layar Terkembang.

Citra Perempuan dalam Novel Belenggu karya Armijn Pane

Armijn Pane adalah seorang sastrawan yang berperan penting dalam perkembangan sastra Indonesia. Ia turut terlibat dalam mendirikan majalah Poedjangga Baru pada tahun 1933 bersama Amir Hamzah dan Sutan Takdir Alisjahbana, dan juga menjadi organisator dalam kelompok Pujangga Baru. Dalam dunia sastra, Armijn Pane dikenal melalui karya terkenalnya, yaitu novel Belenggu, yang diterbitkan pada tahun 1940. Novel ini menjadi salah satu karya sastra yang penting dalam sastra modern Indonesia.

Novel Belenggu mengisahkan tentang perjuangan wanita dalam meraih hak-haknya, dengan kondisi terjebak pada pemikiran masyarakat-masyarakat patriarki. Novel ini menghadirkan tokoh Tini yang hidup dengan bayang-bayangan harapan keluarga dan masyarakat. Hal ini membuat Tini terbelenggu dengan ekspetasi sosial yang ada dari pihak keluarga maupun masyarakat. Bahkan novel ini juga menghadirkan kebimbangan Tini yang harus memenuhi ekspetasi masyarakat atau memunhi keinginan dirinya. Konflik batin yang dihadapi Tini menggambarkan perjuangan seorang perempuan yang terjebak antara tanggung jawab sosial dan pencarian kebebasan pribadi. Pada novel ini, Armijn Pane menghadirkan konflik tradisi dan modern yang menjadi belenggu bagi kehidupan perempuan.

Dalam novel ini Tini hadir dengan tokoh perempuan yang sudah berumah tangga, tetapi tetap ingin memperjuangkan hak-hak perempuan dengan sibuk mengikuti organisasi perempuan. Dengan Tini yang memilih mengikuti keinginan dirinya, membuat Tini kehilangan suaminya, karena berpaling dengan perempuan lain. Kesibukannya dengan dunia luar, membuat Tini lupa akan kewajibannya sebagai perempuan seutuhnya, layaknya perempuan tradisional. Dalam novel ini Armijn Pane ingin menunjukkan kedudukan perempuan tradisional yang peka akan kewajibannya sebagai perempuan, serta menunjukkan betapa sulitnya bagi perempuan untuk menemukan keseimbangan antara memenuhi harapan masyarakat tradisional dan mengejar kebahagiaan serta kebebasan diri mereka.

Perbedaan Citra Perempuan dalam Novel Layar Terkembang dengan Novel Belenggu

Kedua novel Layar Terkembang dan Belenggu menawarkan sudut pandang yang berbeda dalam menggambarkan perempuan. Sementara itu, novel Belenggu bisa dianggap sebagai kelanjutan dari cerita yang ada dalam novel Layar Terkembang, tetapi dengan fokus yang lebih mendalam pada kehidupan pernikahan perempuan modern, seperti yang digambarkan oleh tokoh Tuti yang menikah dengan pria terpelajar Tono. Dalam hal ini Armijn pane menghadirkan ketidakharmonisan dari pernikahan keduanya, sebagai bentuk ketidaksetujuaan akan konsep perempuan modern yang yang digambarkan Sutan takdir dalam novelnya Layar Terkembang.

Dalam novel Belenggu terlihat bahwa Armjn Pane menolak konsep kemoderenan wanita seperti yang diidealkan Sutan Takdir Alisjhbana. Dalam konteks ini, tampaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Armijn Pane menolak pandangan Takdir, yang tercermin dalam perdebatan budaya Timur dan Barat pada waktu itu. Perbandingan antara keduanya menunjukkan bahwa Sutan Takdir Alisjahbana lebih mengidealkan tokoh wanita yang terlibat dalam pergerakan dan kebebasan, menggambarkan citra perempuan modern yang menuntut kesetaraan. Sementara itu, Armijn Pane lebih memilih untuk menggambarkan tokoh wanita yang lebih tradisional, berfokus pada peranannya dalam kehidupan rumah tangga dan memiliki kesadaran penuh akan kewajibannya sebagai istri dan ibu.