Konten dari Pengguna

Mengenal Etos Kerja Jepang yang Perlu Kita Terapkan

Novia Marwah

Novia Marwah

Mahasiswa Ilmu Hukum S1 Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Novia Marwah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bekerja Foto: Shutter stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bekerja Foto: Shutter stock

Ketika mendengar Negara Jepang tentu saja tidak asing lagi dengan ekonomi dan industri kemajuan teknologi yang berkembang dengan sangat pesat disana. Jepang juga ternyata masih menjaga dengan baik kebudayaan yang dimilikinya salah satunya mengenai etos kerja yang dimiliki orang-orang Jepang yang masih dijunjung tinggi hingga saat ini.

5 Etos Kerja yang Dimiliki Masyarakat Jepang. Apa saja itu?

1. Meishi Kokan

Ilustrasi bertukar kartu nama Foto: Shutter stock

Meishi kokan sebenarnya merupakan budaya bertukar kartu nama. Sama seperti di Indonesia, budaya ini ditujukan untuk memperkenalkan diri secara formal dan profesional. Peran penting ketika saling bertukar kartu nama adalah untuk menjalin komunikasi dan hubungan antar perusahaan dengan baik.

Saat memberikan kartu nama, lakukan dengan berdiri dan tidak lupa untuk memperkenalkan nama, nama perushaan dan departemen bagian. Saat menerima kartu nama terima dengan dua tangan sambil membungkuk dan mengucapkan terima kasih.

2. Ganbatte

Ilustrasi memberikan semangat Foto: Shutter stock

Tentu saja kalimat ini pernah atau sering mendengarnya, kata ini sering digunakan sebagai ucapan untuk memberi semangat kepada orang lain.

Budaya menyemangati satu sama lain sudah ada sejak lama dan diterakpan sejak kecil dalam kehidupan masyarakat Jepang. Budaya ini turut menciptakan mental masyarakat Jepang yang pantang menyerah. Hal inilah yang membuat masyarakat Jepang memiliki prinsip pantang menyerah dalam melakukan hal apapun.

3. Kaizen

Ilustrasi kaizen Foto: Shutter stock

Istilah Continuous improvement atau disebut juga dengan Kaizen. Kaizen (continuous improvement) adalah filosofi bisnis asal Jepang yang berkembang pada tahun 1950-an. Filosofi ini menitikberatkan pada perubahan kecil yang dilakukan secara terus-menerus sehingga menghasilkan perubahan baik yang lebih besar dan signifikan. Metode ini telah banyak digunakan untuk meningkatkan kualitas setiap individu dan perusahaan.

4. Bushido

Ilustrasi Bushido (ksatria Jepang) foto: Shutter stock

Prinsip Bushido berasal dari kata ‘ksatria’. Ini merupakan golongan samurai pada masa feodal Jepang. Seorang samurai memiliki loyalitas dan totalitas terhadap tuannya. Ia bahkan rela melakukan harakiri (bunuh diri dengan menusuk perut) untuk mengembalikan kehormatan dirinya. Semangat Bushido ini ternyata mengakar dalam etos kerja masyarakat Jepang. Mereka memiliki loyalitas atau pengabdian tinggi terhadap perusahaan dan bekerja dengan penuh kehormatan dan totalitas.

5. Keishan

Ilustrasi bekerja Foto: Sutter stock

Keishan berbeda dengan Kaizen, konsep Keishan lebih memfokuskan pada peningkatan kreativitas, produktivitas, dan kemampuan untuk berinovasi.

Prinsip keishan ini sudah lama diterapkan dalam kehidupan bekerja sehari-hari oleh masyarakat Jepang. Dengan demikian mereka tidak takut untuk memulai hal yang baru, berfikir kreatif, dan melakukan inovasi yang berbeda.

Melalui 5 etos masyarakat Jepang dalam bekerja ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, karena etos kerja yang baik adalah sebuah investasi berharga.