Pentingnya Pengujian Substantif Investasi pada Perusahaan

Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung Semarang Jurusan S1 Akuntansi. Dosen Pengampu : Sri Dewi Wahyundaru Email : sridewi(at)unissula.ac.id
Tulisan dari NOVIA PUTRI WULANDARI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Investasi adalah suatu aktiva yang digunakan perusahaan untuk pertumbuhan kekayaan melalui distribusi hasil investasi (seperti bunga, royalty, deviden, dang uang sewa) untuk apresiasi nilai investasi atau untuk manfaat lain bagi perusahaan yang berinvestasi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan pada masa depan. Investasi juga sering disebut sebagai penanaman modal.
Dokumen dan catatan umum yang berlaku untuk pertimbangan perencanaan audit antara lain : 1.Sertifikat saham (stock certificate). Formulir cetak yang menunjukan jumlah lembar saham yang dimiliki oleh pemegang saham dalam sebuah koperasi. Bukti tentang asersi keberadaan dan keterjadian.
2.Sertifikat obligasi (bond certificate). Formulir cetak yang menunjukan jumlah obligasi yang dimiliki oleh pemegang obligasi. 3.Kontrak obligasi (bond indenture). Kontrak yang menyatakan syarat dari obligasi yang diterbitkan oleh sebuah koperasi.
4. Pemberitahuan pialang (broker's advice). Dokumen yang diterbitkan oleh pialang yang menetapkan harga pertukaran dari transaksi investasi.
5.Laporan pialang (broker's statement). Laporan bulanan yang diterbitkan pialang yang merinci sekuritas yang disimpan oleh pialang tersebut. Biasanya mengikhtisarkan setiap transaksi yang terjadi selama bulan yang bersangkutan.
6.Buku harian (book of original entry). Jurnal umum yang digunakan untuk mencatat pos - pos.
7.Buku tambahan investasi (investment subsidiary ledger). Buku tambahan yang terpisah dapat digunakan untuk setiap kelas investasi yang berbeda apabila perusahaan mempunyai portofolio yang terdiri dari banyak investasi yang berlainan.
Tujuan Audit siklus investasi adalah untuk memperoleh bukti tentang masing-masing asersi signifikan yang berkaitan dengan transaksi dan saldo siklus investasi. Tujuan auditor ditentukan berdasar atas kelima kategori asersi laporan keuangan yang dinyatakan oleh manajemen.
Tujuan Pengujian substantif terhadap investasi :
1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan investasi.
2. Membuktikan bahwa saldo investasi mencerminkan kepentingan klien yang ada pada tanggal neraca dan mencerminkan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan investasi selama tahun yang diaudit.
3. Membuktikan kelengkapan transaksi yang di catat selama tahun yang diaudit dan kelengkapan saldo investasi yang disajikan di neraca.
4. Membuktikan bahwa saldo investasi yang dicantumkan di neraca.
5. Membuktikan kewajiban penyajian dan pengungkapan investasi di neraca.
Pengujian Substantif Terhadap Investasi
a. Prosedur Audit Awal
Sebelum membuktikan apakah saldo investasi yang dicantumkan oleh klien di dalam neracanya sesuai dengan investasi yang benar-benar ada pada tanggal neraca, auditor melakukan rekonsiliasi antara informasi investasi yang dicantumkan di neraca dengan catatan akuntansi yang mendukungnya. Rekonsiliasi ini penting untuk dilakukan agar auditor memperoleh keyakinan bahwa informasi investasi yang dicantumkan di neraca didukung oleh catatan akuntansi yang dapat dipercaya. Oleh karena itu, auditor melakukan enam prosedur audit berikut ini dalam melakukan rekonsiliasi informasi investasi di neraca dengan catatan akuntansi yang bersangkutan:
1. Usut saldo utang usaha yang tercantum di neraca ke saldo akun investasi yang bersangkutan di dalam buku besar.
2. Hitung kembali saldo akun investasi di buku besar.
3. Usut saldo awal akun investasi ke kertas kerja tahun yang lalu.
4. Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting dalam akun investasi.
5. Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun utang usaha ke jurnal yang bersangkutan.
6. Lakukan rekonsiliasi buku pembantu utang usaha dengan akun control investasi di buku besar.
b. Prosedur Analitis
Prosedur analitis merupakan bagian penting dalam proses audit dan terdiri atas evaluasi terhadap informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan antara data keuangan yang satu dengan data keuangan lainnya, atau antara data keuangan dengan data non keuangan. Tujuan prosedur analitis meliputi:
1. Sebagai alat bantu auditor dalam perencanaan sifat, saat, dan luas prosedur audit lainnya.
2. Sebagai suatu tes substantif untuk mengumpilkan bahan bukti mengenai asersi tertentu yang berkaitan dengan saldo akun atau golongan transaksi.
3. Sebagai suatu telaah menyeluruh terhadap informasi keuangan dalam tahap telaah akhir audit.
Ketika melakukan prosedur analitis, auditor harus mempertahankan tingkat skeptisisme professional yang layak dan menyelidiki hasil hasil yang tidak normal. Jika hasil prosedur analitis konsisten dengan ekspektasi auditor, maka stategi audit dapat dimodifikasi untuk mengurangi luas pengujian rincian transaksi dan saldo.
Perbedaan perbandingan yang tidak diharapkan mengindikasikan adanya penyimpangan berkaitan dengan asersi keberadaan dan keterjadian, kelengkapan, penilaian, atau alokasi, dan penyajian pengungkapan. Apabila setelah dilakukan analisis ternyata ditemukan penyimpangan atau fluktuasi yang tidak masuk akal, maka auditor akan mengekstensifkan pengujian substansi saldo investasi. Pengujian ini berkaitan erat dengan asersi keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, dan penilaian dan pengalokasian.
c. Pengujian terhadap Transaksi Rinci
Pengujian-pengujian substantif mencakup tiga jenis transaksi yang berkaitan dengan aktiva tetap: (1) penambahan, (2) pelepasan, dan (3) reparasi serta pemeliharaan.
1) Pencocokan Tambahan Aktiva Tetap dengan Bukti Pendukung
2) Pencocokan Penghentian Aktiva Tetap ke Dokumen Pendukung
3) Review Ayat Jurnal atas Biaya Reparasi dan Pemeliharaan
Keandalan saldo akun sangat ditentukan oleh keterjadian transaksi yang didebit dan dikreditkan ke dalam akun tersebut. Oleh karenanya auditor melakukan pengujian terhadap transaksi rinci yang mendebit dan/atau mengkredit akun yang bersangkutan. Keandalan saldo akun ditentukan pula oleh ketepatan pisah batas yang digunakan untuk mencatat berbagai transaksi yang berkaitan.
Adapun hal lain, auditor memeriksa dokumen yang mendukung transaksi pemerolehan dan penjualan investasi, menghitung kembali pendapatan bunga dan dividen tahun yang diaudit, menghitung kembali laba dan rugi yang timbul dari transaksi penjualan surat berharga, menghitung kembali laba atau rugi yang timbul dari transaksi penjualan investasi, memeriksa dokumen yang mendukung transaksi pembelian surat berharga dalam periode sekitar tanggal neraca, memeriksa dokumen yang mendukung transaksi penjualan surat berharga dalam periode sekitar tanggal neraca, memeriksa dokumen yang mendukung pemerolehan investasi yang dimiliki oleh klien pada tanggal neraca.
d. Verifikasi Penyajian Dan Pengungkapan Investasi Di Neraca
Untuk memverifikasi penyajian investasi di neraca, auditor melakukan wawancara dengan direktur keuangan mengenai kebijakan investasi sementara yang dijalankan selama tahun yang diperiksa.
Pengujian substantif yang dilakukan harus memberikan banyak bukti yang diperlukan auditor untuk menentukan apakah saldo investasi telah diidentifikasi dan diklasifikasikan dengan tepat dalam laporan keuangan. Sehingga harapannya, auditor dapat melakukan pengujian substantif dengan baik dan benar, agar tidak ada pihak yang dirugikan.
https://www.kompasiana.com/leaderchuu/5d68aa22097f36787b3e4a52/pentingnya-pengujian-substantif-atas-investasi?page=all#sectionall
http://ferianggriawan1.blogspot.com/2014/11/makalah-audit-siklus-investasi.html
http://salehfaisal.blogspot.com/2015/11/audit-investasi.html
