Benarkah Bhutan Negara Paling Bahagia di Dunia? Ini Faktanya!

Sesdilu 69 - Ex KBRI New Delhi
Tulisan dari Noviandri Wibowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tanggal 20 Maret dunia merayakan Hari Kebahagiaan Internasional, atau International Day of Happiness. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan hari tersebut di tahun 2012 melalui resolusi yang diprakarsai oleh Bhutan.
Makna perayaan adalah pengakuan atas kebahagiaan sebagai salah satu tujuan universal umat manusia. Sebagai negara pemrakarsa, Bhutan sejak awal 1970-an telah mengakui kebahagiaan sebagai ukuran kemajuan bangsanya.
Alih-alih menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB), Bhutan membuat konsep Gross National Happines (GNH), atau Kebahagiaan Nasional Bruto, untuk mengukur pembangunan negaranya.
Sejumlah artikel menceritakan Bhutan sebagai negara paling bahagia di dunia. Benarkah demikian? Mari simak faktanya.
Laporan Survei Kebahagiaan versi Bhutan
Hasil Survei Kebahagiaan di Bhutan tahun 2015 menunjukkan sebagian besar masyarakat Bhutan (91,2%) merasakan kebahagiaan (“experiencing happiness”) dan sisanya (10,4%) merasa tidak bahagia (“unhappy”).
Dari kelompok mayoritas itu, hanya sebagian kecil yang berada di kategori tertinggi, yakni “deeply happy” (8,3%). Selebihnya “narrowly happy” (48,7%) dan “extensively happy” (32,6%).
Indeks GNH Bhutan naik 1,8% dari 0,743 (2010) menjadi 0,756 (2015) dalam skala 0-1. Sebagai suatu ukuran kebahagiaan, indeks GNH memiliki 9 domain, di antaranya kesejahteraan psikologis, keragaman budaya, serta keragaman dan ketahanan ekologis.
Survei kebahagiaan ini dilakukan oleh The Centre for Bhutan Studies and GNH Research terhadap lebih dari 7 ribu warga Bhutan. Sayangnya, belum ada laporan survei terbaru sejak tahun 2015.
Laporan Kebahagiaan Dunia
Tingkat kebahagiaan masyarakat Bhutan nampaknya kurang begitu tercermin di Peringkat Kebahagiaan versi Laporan Kebahagiaan Dunia, atau World Happiness Report (WHR).
Pada WHR tahun 2019, Bhutan hanya berada di peringkat 95 dari 156 negara, turun 16 peringkat dari WHR tahun 2015. Peringkat teratas ditempati oleh Finlandia. Indonesia berada di peringkat 92.
Mengapa demikian? Peringkat kebahagiaan pada WHR 2019 menggunakan ukuran yang berbeda dari Laporan Survei GNH 2015 di Bhutan.
Ada enam variabel yang digunakan di dalam WHR 2019, termasuk di antaranya PDB per kapita.
PDB per kapita Bhutan tahun 2019 berada di 3.316 dolar AS. Bandingkan dengan Finlandia yang mencapai 48.000 dolar AS.
Bhutan pun masih dikategorikan sebagai least developed country (LDC).
WHR dikeluarkan oleh Sustainable Development Solutions Network (SDSN), sebuah lembaga inisiatif PBB yang dibentuk untuk memajukan upaya perwujudan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim.
Untuk mengetahui secara lebih objektif apakah Bhutan negara paling bahagia di dunia, rasanya perlu ada studi berskala global berdasarkan indikator GNH Bhutan. Sayangnya, belum ada lembaga di dunia yang pernah melakukannya.
Apa yang dapat kita pelajari dari Bhutan?
Konsep kebahagiaan tidak hanya menjadi paradigma pembangunan di Bhutan, tetapi juga aspirasi bernegara rakyat Bhutan.
Janji bersama untuk meningkatkan kebahagiaan tercantum di dalam Konstitusi Bhutan. Pasal 9 secara khusus memandatkan pencapaian GNH.
Meskipun telah mengadopsi GNH, Bhutan tetap mengakui dan memakai konsep PDB. Tetapi PDB hanya 1 dari 43 indikator kinerja kunci dalam mengukur GNH.
Di bawah ini 3 indikator GNH Bhutan yang unik dan menarik untuk diketahui:
1. Pelestarian Budaya
Bhutan mengukur persentase warganya yang senang menggunakan bahasa, budaya, dan tata krama Bhutan, atau dikenal dengan Driglam Namzha.
Salah satu bentuknya dilihat dari tata cara berpakaian.
Di Bhutan, warga diwajibkan mengenakan busana tertentu ketika memasuki tempat-tempat penting, seperti benteng atau biara (Dzong), kuil, dan kantor.
Busana laki-laki bernama gho dan perempuan disebut kira.
Driglam Namzha menjadi identitas nasional yang dijunjung tinggi dan sangat dibanggakan oleh masyarakat Bhutan.
2. Ekosistem yang Sehat
Bhutan menghitung jumlah populasi harimau di negaranya. Harimau termasuk hewan yang dilindungi karena berperan sebagai predator yang turut menjaga keseimbangan ekosistem.
Kualitas udara (PM10) rata-rata tahunan juga diukur, dengan batas maksimum 43 ug/m3. Pada tahun 2019-2020, tingkat kualitas udara Bhutan ‘hanya’ mencapai 24 ug/m3, yang berarti berkualitas baik.
3. Netralitas Karbon
Yang diukur dari netralitas karbon adalah rasio sekuestrasi karbon, atau proses penangkapan dan penyimpanan CO2 di udara sehingga dapat mengurangi potensi pencemaran.
Bhutan berhasil menjaga emisi CO2 hingga di bawah nol, yaitu -5,5 gigagram. Ini membuat Bhutan menjadi satu-satunya negara di dunia yang berstatus karbon negatif.
Bhutan juga berhasil menjaga tutupan hutannya di tingkat lebih dari 70%. Artinya, sebagian besar kawasan Bhutan ditutupi oleh hutan. Konstitusi Bhutan mengatur tingkat minimal tutupan hutan sebesar 60% dan ini harus dijaga sepanjang masa.
Memaknai dan Merayakan Kebahagiaan
Ukuran kebahagiaan setiap negara, dan bahkan setiap orang, berbeda-beda. Bagi Bhutan, kelestarian budaya dan lingkungan menjadi salah satu faktor kebahagiaan masyarakatnya.
Sekiranya Anda ingin mencoba memaknai kembali dan merasakan arti kebahagiaan, Anda dapat mengambil inspirasi dari apa yang dilakukan oleh masyarakat Bhutan.
Salah satunya dengan semakin mencintai dan melestarikan alam dan budaya Indonesia.
Selamat Hari Kebahagiaan Internasional 2021!
