Majnu ka Tilla, ‘Little Tibet’ di India

Sesdilu 69 - Ex KBRI New Delhi
Tulisan dari Noviandri Wibowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mendengar kata Tibet, Anda mungkin terbayang Dalai Lama, pemimpin spiritual asal Tibet. Atau teringat film Seven Years in Tibet (1997), yang dibintangi oleh aktor Hollywood, Brad Pitt. Di dalam film itu, Tibet digambarkan berada di dataran tinggi, dekat Pegunungan Himalaya.
Namun tahukah Anda bahwa Tibet berada di negara China? Negeri yang dijuluki ‘Atap Dunia’ itu termasuk ke dalam wilayah Tibet Autonomous Region (TAR), daerah setingkat provinsi di bagian barat China, berbatasan dengan India, Nepal, Bhutan, dan Myanmar di sebelah selatan.
Untuk mengunjungi Tibet lewat jalur udara, Anda harus terbang dari salah satu kota di China. Jarak Lhasa, ibu kota TAR, dari Beijing sekitar 2.500 km, dapat ditempuh dengan penerbangan langsung selama 4,5 jam. Turis asing yang ingin ke Tibet harus memiliki visa China dan izin masuk khusus yang diurus melalui agen perjalanan lokal.
Ada cara lain mengunjungi Tibet tanpa harus melalui penerbangan dan prosedur perizinan yang panjang. Anda cukup datang ke India, tepatnya ke Majnu ka Tilla, ‘Little Tibet’ yang berada di sisi utara kota Delhi.
Banyak pilihan penerbangan internasional langsung menuju Delhi dari kota-kota besar dunia. Wisatawan asal Indonesia pun hanya perlu visa turis elektronik India yang dapat diperoleh secara daring dan gratis!
Permukiman Pengungsi asal Tibet
Dibangun tahun 1963 di tepi Sungai Yamuna, Majnu ka Tilla adalah satu dari sekian banyak permukiman yang disediakan oleh Pemerintah India bagi pengungsi asal Tibet.
Gelombang pengungsian warga Tibet ke berbagai belahan dunia diawali oleh Dalai Lama yang mengasingkan diri ke India tahun 1959.
Nama Majnu ka Tilla, yang berarti Bukit Majnu, diambil dari nama sebuah rumah ibadah umat Sikh di daerah sana.
Majnu adalah nama panggilan Abdulla, seorang sufi asal Iran. Bukit Majnu dipercaya sebagai bukit tempat Majnu bertemu dengan Guru Sikh, pemimpin spiritual umat Sikh, pada awal abad ke-16.
Tiga generasi pengungsi Tibet telah menetap di Majnu ka Tilla sejak gelombang pengungsi pertama masuk ke India.
Kini setidaknya ada 370 keluarga pengungsi Tibet yang menetap di permukiman seluas hampir 65 ribu meter persegi itu.
Mereka menggantungkan hidup dari kegiatan ekonomi di dalam dan sekitar permukiman, mulai dari penginapan, restoran, hingga toko suvenir khas Tibet.
Menyandang status sebagai pengungsi, warga Tibet yang sedang dalam pengasingan di India wajib memiliki Registration Certificate (RC).
Tanpa bukti identitas ini, mereka tidak dapat menyewa rumah, mencari kerja, atau menjalankan bisnis.
Dengan persyaratan tertentu, Pemerintah India bisa memberi status warga negara kepada pengungsi Tibet, khususnya bagi yang lahir di India.
Kuil, Kerajinan, dan Kuliner Khas Tibet
Apa yang membuat Majnu ka Tilla dapat menjadi alternatif destinasi ke Tibet? Selain warganya yang kerap menggunakan bahasa Tibet, bangunan, barang-barang, dan kuliner yang dijajakan sangatlah khas Tibet.
Sebuah kuil Buddha Tibet berdiri bersahaja di ‘alun-alun’ pemukiman. Tak sedikit pengunjung yang menyempatkan mampir ke kuil untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha.
Kuil ini juga salah satu tempat favorit para turis mengabadikan gambar.
Puluhan toko dan pedagang kaki lima yang menjual kerajinan tangan khas Tibet memadati gang-gang kecil di Majnu ka Tilla.
Berbagai suvenir khas Tibet dijual dengan harga terjangkau. Mulai dari perlengkapan ibadah agama Buddha, pakaian, aksesoris, buku, dan berbagai jenis cinderamata lainnya.
Yang pasti foto-foto Dalai Lama terpampang jelas di setiap toko.
Restoran-restoran khas Tibet dapat dengan mudah ditemui di sudut-sudut Majnu ka Tilla. Beberapa kuliner Tibet wajib Anda cicipi, seperti laphing (kwetiauw basah), tingmo (bakpao isi daging), dan butter tea (teh mentega).
Majnu ka Tilla telah menjadi salah satu destinasi wisata kuliner bagi warga lokal maupun turis asing.
Naik Metro atau Bajaj?
Cara termudah ke Majnu ka Tilla dari kota New Delhi adalah dengan jasa taksi daring.
Tetapi kalau Anda ingin sedikit berpetualang, Anda bisa mencoba transportasi kereta bawah tanah, Delhi Metro, dan disambung dengan naik bajaj atau becak.
Di Delhi, bajaj dikenal dengan auto-rickshaw dan becak disebut rickshaw atau tricycle.
Dari tengah kota New Delhi, Anda dapat naik dari salah satu stasiun Metro yang berada di jalur kuning (yellow line), pilih jurusan Samaypur Badli, dan turunlah di stasiun Vishwavidyalaya.
Di luar stasiun, carilah auto-rickshaw atau tricycle yang bersedia mengantar Anda ke Majnu ka Tilla.
Tertarik untuk segera merasakan suasana Tibet di Majnu ka Tilla? Anda harus bersabar. Selama pandemi ini, Pemerintah India sayangnya belum membuka perbatasannya untuk turis asing.
Sambil menunggu kesempatan yang memungkinkan untuk ke India, Anda dapat mulai melakukan hal-hal lain, seperti mempelajari syarat memperoleh visa elektronik India dan mencatat tempat-tempat wisata menarik lainnya di kota Delhi, maupun kota-kota lainnya.
