Dari MotoGP hingga Ekonomi Syariah untuk Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Staf Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Novita Damayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mandalika menjadi daya tarik utama dari Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui perhelatan akbar MotoGP yang menjadi salah satu event internasional rutin dilaksanakan tahunan di Indonesia. Event ini berhasil menggerakan roda ekonomi lokal mulai dari meningkatnya frekuensi penerbangan, okupansi hotel hingga perputaran roda ekonomi dari sektor pariwisata dan perdagangan di wilayah sekitar. Kementerian PPN/Bappenas memperkirakan penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2025 memberikan dampak ekonomi sekitar Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun, mencakup dampak langsung, tidak langsung dan lanjutan. Hal ini pun akan berlanjut pada perhelatan tahun 2026 yang telah dilaksanakan akhir pekan lalu pada 9 – 11 Oktober 2026.
Selain itu, ada hal menarik saat mendarat di Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid Lombok, sejauh mata memandang tampak sangat banyak kubah mesjid yang menjadi pemandangan yang cukup berbeda dari kota-kota yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Tidak salah kalau Mataram sebagai ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat dikenal dengan julukannya sebagai “kota seribu mesjid”. Hal ini pun menjadi kesan pertama saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat minggu lalu.
Berdasarkan data Dinas PMPD Dukcapil NTB tahun 2024, jumlah penduduk muslim di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 5,5juta jiwa. Jumlah ini secara keseluruhan menjadikan islam sebagai agama mayoritas penduduk NTB dengan presentase mencapai 96,94% dari total populasi. Tak heran kalau jumlah pondok pesantren yang berada di wilayah ini pun sangat banyak. Hal ini secara langsung mengakibatkan masifnya pertumbuhan iklim ekonomi syariah di seluruh penjuru provinsi NTB.
Banyak pondok pesantren yang tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat di NTB. Ternyata terdapat fakta menarik dari pondok pesantren selain sebagai tempat untuk pendidikan agama kepada penerus generasi, namun kini pondok pesantren juga sudah mulai melakukan usaha mandiri dalam lingkungannya masing-masing untuk memenuhi kebutuhan hariannya.
Selain berkunjung ke Pantai Kuta Mandalika, saya juga berkesempatan mengunjungi Pondok Pesantren Thohir Yasin di kabupaten Lombok Timur, NTB. Pondok Pesantren ini yang jaraknya berkisar 2 jam dari ibukota Provinsi NTB yaitu Mataram. Pondok Pesantren ini melakukan banyak kegiatan selain pendidikan antara lain dengan melakukan usaha di bidang pertanian, peternakan, perikanan hingga perdagangan. Pondok Pesantren memiliki usaha primer dan sekunder yang dilakukan demi keberlangsungan kehidupan sehari-hari. Usaha primernya yaitu hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan pokok Pondok Pesantren, contohnya beras. Pengurus berupaya memberdayakan lahan sekitar dengan menanam padi yang diproses hingga hilir menjadi beras dengan adanya fasilitas rice milling unit (RMU) yang diperoleh dari bantuan lembaga/pemerintah setempat. Padi yang sudah dipanen kemudian digiling dan menghasilkan limbah sekam, namun limbah ini tidak dibuang dan digunakan lagi sebagai bahan untuk pupuk tanaman lainnya seperti cabai yang hasilnya kemudian dapat dinikmati bersama hingga dijual kepada masyarakat sekitar.
Ternyata, juga terdapat usaha sekunder yang dilakukan yaitu menjual produk hasil olahan Pondok Pesantren melalui minimarket yang dikelola oleh pengurus dengan tetap memberdayakan masyarakat sekitar. Hal menarik lainnya, metode pembayaran yang digunakan pun sudah menerapkan digitalisasi dengan pemindaian sidik jari santri untuk mempermudah identifikasi data pelanggannya.
Kegiatan yang dilakukan oleh Pondok Pesantren ini menunjukkan adanya kemandirian pesantren yang dapat dicontoh sebagai role model ekonomi syariah di Indonesia. Tentunya hal ini sangat menarik karena Pondok Pesantren pada akhirnya memiliki kemandirian secara finansial melalui iklim ekonomi yang terbentuk secara internal tanpa harus menunggu bantuan dari pihak luar untuk keberlangsungan hidupnya sehari-hari. Hal yang sudah dilakukan oleh Pondok Pesantren ini menjadi contoh inovasi yang dapat ditiru dan diterapkan pada Pondok Pesantren lainnya. Namun, tidak hanya berhenti pada Pondok Pesantren saja, stabilitas ekonomi ini pun dapat berdampak positif ke kehidupan masyarakat pada umumnya dan membantu pertumbuhan ekonomi daerah setempat. Provinsi ini sangat menarik karena pesona pariwisata dan ekonomi syariah yang dimilikinya.
Salah satu dukungan terkait ekonomi syariah di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia melalui kegiatan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF). ISEF pertama kali dilaksanakan pada 2014 dengan visi untuk mendorong ekonomi dan keuangan syariah sebagai arus utama kebijakan nasional dan internasional, sekaligus menjadikan Indonesia sebagai referensi dunia dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Dalam perjalanannya, ISEF telah bertransformasi dari agenda yang bersifat lokal dan nasional menuju level internasional, dengan tujuan menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang unggul di dunia.
Banyak inovasi yang bisa dilakukan melalui pengembangan sektor-sektor ini, namun perlu diingat bahwa inovasi akan sangat berarti jika tidak berhenti sebagai inovasi saja tapi harus dilakukan eksekusi. Kemungkinan gagal pastilah mungkin terjadi tetapi jika kita tidak pernah mencoba maka kita tidak akan pernah tau hasil dari usaha yang sudah dilakukan apakah akan berhasil atau tidak.
