Konten dari Pengguna

Pancaroba Iklim Ekonomi Indonesia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Novita Damayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pancaroba merupakan suatu kondisi saat terjadi transisi perubahan cuaca dari musim kemarau menjadi musim hujan atau sebaliknya. Indonesia memiliki dua musim dengan rentang periode yang sebelumnya cukup pasti dan bisa diprediksi, yaitu musim kemarau pada bulan April - September dan musim hujan pada bulan Oktober - Maret. Namun, belakangan rasanya iklim dunia setiap tahun semakin sulit ditebak. Hal ini pun dirasakan di Indonesia yang juga mengalami pergeseran periode musimnya, contohnya pada tahun ini sampai dengan bulan April pun mayoritas seluruh wilayah Indonesia masih mengalami musim hujan. Fenomena ini ternyata merupakan dampak dari pemanasan global yang sudah terjadi bertahun-tahun namun baru terasa efeknya kepada kita secara langsung.

Fenomena yang mirip juga terjadi dengan perekonomian Indonesia. Kondisi perekonomian biasanya dapat diproyeksikan dan terukur dengan melihat kombinasi data historis, kondisi saat ini, dan ekspektasi ke depan. Salah satunya contohnya jika melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pergerakannya bergantung pada sentimen kondisi global dan fundamental dalam negeri. IHSG sempat mengalami goncangan ketika terjadi perang Timur Tengah, namun faktanya saat ini IHSG terus menurun walaupun gencatan senjata sudah dilakukan. Ketika konflik geopolitik seperti perang di Timur Tengah memanas, respons pasar yang negatif merupakan hal yang wajar, sehingga investor cenderung menghindari risiko yang mengakibatkan tekanan jual meningkat. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah ketika tensi global mulai mereda bahkan sudah ada gencatan senjata, mengapa IHSG justru masih melanjutkan tren penurunan?

Secara teori, IHSG merupakan barometer yang sensitif terhadap sentimen global sekaligus cerminan dari kekuatan fundamental domestik. Jawaban atas anomali ini kemungkinan terletak kondisi fundamental dalam negeri yang perlu diperhatikan secara seksama. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar tidak hanya bereaksi terhadap sentimen global namun juga memperhatikan secara seksama kekuatan fundamental ekonomi Indonesia.

Kondisi fundamental dalam negeri juga sangat berkorelasi dengan stabilitas nilai tukar rupiah. Ketika pasar menilai risiko domestik meningkat, maka permintaan terhadap valuta asing terutama dolar AS, cenderung naik. Akibatnya, rupiah mengalami tekanan depresiasi seperti yang terjadi saat ini. Dalam konteks ini, pelemahan IHSG dan nilai tukar rupiah tidak terjadi sebagai fenomena yang berdiri sendiri-sendiri, namun saling berhubungan sebagai refleksi dari sentimen publik terhadap ekonomi Indonesia.

Kondisi perekonomian saat ini membuat kita tersadar bahwa penguatan fundamental ekonomi domestik harus menjadi prioritas utama. Ketergantungan yang berlebihan terhadap sentimen global membuat pasar domestik rentan terhadap volatilitas yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan otoritas terkait baik dari sisi fiskal maupun moneter beriringan untuk memperkuat kredibilitas kebijakan, menjaga stabilitas makroekonomi, serta mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Koordinasi serta sinergi yang kuat dan keselarasan kebijakan sangat diperlukan sebagai kunci agar setiap langkah Pemerintah benar-benar memberi dampak nyata dan positif bagi masyarakat luas.

Di sisi lain, transparansi komunikasi kebijakan dari pemerintah juga sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Hasil dari koordinasi yang berupa ouput kebijakan ini pun harus dikomunikasikan dengan baik kepada masyarakat. Dalam era kemajuan teknologi yang membuat informasi yang bergerak cepat, kurangnya transparasi informasi membuat kecemasan masyarakat atas kejelasan arah kebijakan ke depan. Pasar membutuhkan sinyal yang tegas dan konsisten agar ekspektasi dapat terbentuk dengan baik sehingga tidak menimbulkan spekulasi liar dan memperburuk volatilitas. Dalam menghadapi “pancaroba ekonomi” ini, respon pemerintah yang diharapkan publik bukan hanya reaktif, tetapi juga strategis dan berorientasi jangka panjang untuk perekonomian yang lebih baik.

Sumber : https://web.bpbd.jatimprov.go.id/2023/10/19/pancaroba-siapkan-diri-dan-pantau-perubahan-cuaca-antisipasi-potensi-bencana/