Remaja Dibilang Malas Membaca, Padahal Cuma Pindah ke Wattpad

Public Administration student at Sriwijaya University
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Novita Arrahma Syawalliyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Remaja sekarang malas membaca.”
Kalimat ini sering sekali diucapkan, seolah-olah generasi muda benar-benar kehilangan minat terhadap buku. Padahal, jika dilihat dari kebiasaan sehari-hari, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Remaja sebenarnya masih membaca—hanya saja tidak lagi dengan cara yang sama seperti dulu.
Hari ini, membaca tidak selalu berarti membuka buku tebal. Banyak remaja justru menghabiskan waktu membaca melalui ponsel mereka, baik saat santai, di perjalanan, maupun sebelum tidur. Kehadiran platform seperti Wattpad menjadi bukti bahwa aktivitas membaca tidak hilang, melainkan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Yang berubah bukan minatnya, tetapi cara membaca mereka.
Kalau dibandingkan dengan buku cetak yang terasa lebih serius, platform digital justru lebih santai. Ceritanya ringan, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan bahasanya mudah dipahami.
Saya sendiri lebih sering membaca melalui Wattpad karena lebih praktis. Dalam satu perangkat, saya bisa mengakses banyak cerita tanpa harus membawa buku ke mana-mana. Saat ada waktu luang, saya bisa langsung membaca dengan mudah.
Namun, di sisi lain, buku cetak tetap memiliki daya tarik yang tidak tergantikan. Saya juga masih sesekali membaca novel fisik karena memberikan pengalaman yang berbeda. Ada rasa yang lebih “hidup” saat membuka halaman demi halaman, yang tidak bisa sepenuhnya dirasakan melalui Wattpad. Selain itu, sampul buku yang menarik juga bikin buku cetak layak untuk dikoleksi, meskipun harganya cenderung lebih mahal.
Data dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia juga menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia tidak benar-benar hilang. Justru, dengan adanya akses digital, banyak orang menjadi lebih mudah menjangkau berbagai jenis bacaan. Ini menunjukkan bahwa kemudahan akses lewat teknologi membantu remaja tetap terbiasa membaca.
Artinya, permasalahan ini bukan soal remaja yang malas membaca, melainkan cara lama dalam melihat aktivitas membaca itu sendiri. Dengan adanya teknologi, membaca jadi lebih praktis, cepat, dan cocok dengan gaya hidup sekarang, wajar jika remaja beralih ke cara yang lebih praktis.
Alih-alih memperdebatkan mana yang lebih baik, seharusnya kita mulai melihat bahwa membaca digital dan buku cetak bisa saling melengkapi. Platform digital bisa jadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca, sementara buku cetak membantu kita lebih memahami isi bacaan.
Pada akhirnya, yang perlu dijaga bukanlah cara atau sarana membacanya, melainkan kebiasaan membacanya. Selama remaja masih membaca—dalam bentuk apa pun—maka literasi tidak benar-benar hilang.
Yang berubah bukanlah minat membaca remaja, melainkan cara mereka membaca. Jadi, sebelum menyebut mereka malas, mungkin kita perlu bertanya: apakah kita yang belum memahami perubahan zaman?
