Menjebak Diri Dalam Labirin Digital: Dampak Doomscrooling

Siswa Jurusan Akuntansi Keuangan & Lembaga di SMK Katolik St. Familia Tomohon
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Novita Gracella Inriani Pusung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda mendapati diri sendiri masih terjaga di tengah malam, ibu jari terus bergerak menyapu layar ponsel, berpindah dari satu berita buruk ke kabar duka lainnya tanpa bisa berhenti? Fenomena ini kini dikenal luas dengan istilah doomscrolling, sebuah kebiasaan modern di mana seseorang terus-menerus mengonsumsi konten negatif di media sosial meskipun hal tersebut memicu rasa cemas dan ketakutan. Di tahun 2026, di mana arus informasi mengalir lebih deras dari air bah, doomscrolling telah berubah dari sekadar kebiasaan buruk menjadi ancaman nyata bagi stabilitas emosional masyarakat urban yang tidak pernah benar-benar bisa lepas dari genggaman gawai mereka.
Secara psikologis, dorongan untuk terus mencari informasi buruk sebenarnya berakar pada mekanisme pertahanan diri kuno manusia. Otak kita secara evolusioner dirancang untuk peka terhadap ancaman demi bertahan hidup, sehingga berita tentang krisis, konflik, atau bencana cenderung menarik perhatian kita lebih kuat dibandingkan kabar gembira. Namun, dalam konteks algoritma media sosial yang sangat personal, kecenderungan ini justru menjadi bumerang. Algoritma akan terus menyuapi kita dengan konten serupa yang memicu reaksi emosional kuat, menciptakan sebuah lingkaran setan di mana kita merasa harus terus "waspada" padahal yang kita konsumsi hanyalah distorsi realitas yang memperburuk kecemasan kolektif.
Dampak dari aktivitas ini tidak bisa dianggap remeh, karena ia bekerja secara perlahan namun mematikan bagi produktivitas dan kebahagiaan seseorang. Paparan terus-menerus terhadap narasi negatif menciptakan perasaan putus asa yang mendalam, seolah-olah dunia adalah tempat yang sepenuhnya jahat dan tidak ada lagi harapan untuk masa depan. Rasa lelah secara mental ini sering kali bermanifestasi menjadi gejala fisik, seperti gangguan tidur, sakit kepala, hingga penurunan sistem imun akibat stres kronis. Kita kehilangan kemampuan untuk fokus pada tugas-tugas nyata di depan mata karena pikiran kita tersedot ke dalam drama-drama global yang sebenarnya berada di luar kendali kita untuk menyelesaikannya.
Lebih jauh lagi, doomscrolling secara perlahan mengikis kemampuan kita untuk berempati secara sehat. Ketika kita terpapar ribuan tragedi dalam satu sapuan layar, otak kita mengalami kejenuhan empati (compassion fatigue). Kita menjadi mati rasa terhadap penderitaan nyata karena menganggapnya hanya sebagai deretan konten belaka. Hal ini menciptakan paradoks di mana kita merasa paling tahu tentang apa yang terjadi di dunia, namun di saat yang sama, kita merasa paling terisolasi dan tidak berdaya untuk melakukan perubahan apa pun. Kehilangan koneksi dengan realitas fisik di sekitar kita adalah harga mahal yang harus dibayar demi rasa haus akan informasi yang tidak sehat tersebut.
Memutuskan rantai doomscrolling memerlukan kesadaran penuh dan kedisiplinan yang tinggi dalam menerapkan batasan digital. Langkah pertama yang paling krusial adalah dengan menyadari kapan dorongan itu muncul dan segera meletakkan ponsel ketika perasaan cemas mulai merayap naik. Mengganti konsumsi konten dengan aktivitas fisik atau interaksi sosial di dunia nyata dapat membantu mengalibrasi ulang otak kita agar kembali menghargai momen saat ini. Kita perlu memahami bahwa mengetahui segala hal buruk yang terjadi di dunia tidak lantas membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik jika hal itu harus mengorbankan ketenangan batin dan kesehatan mental yang kita miliki.
Pada akhirnya, di dunia yang terus menuntut perhatian kita selama dua puluh empat jam penuh, kemampuan untuk menarik diri adalah sebuah kemewahan sekaligus kebutuhan. Menjaga jarak dengan layar bukan berarti kita abai terhadap isu-isu penting, melainkan sebuah cara untuk merawat energi agar kita tetap bisa berfungsi sebagai manusia yang bermanfaat. Kita harus belajar untuk berdaulat atas jempol kita sendiri, memastikan bahwa teknologi adalah alat untuk memperluas cakrawala, bukan penjara yang mengurung kita dalam labirin kegelapan yang tak berujung. Kebahagiaan sejati sering kali justru ditemukan ketika kita berani mematikan layar dan mulai kembali menghirup udara di dunia nyata.
