Konten dari Pengguna

Ajarkan Makna Hidup untuk Anak-anakmu

Novita Tandry

Novita Tandry

Psikolog Anak dan Remaja, NTO Nurture Teach Observe, Childcare and Early Education

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Novita Tandry tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak jadi korban bully. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak jadi korban bully. Foto: Shutterstock

Seorang anak usia 10 tahun, kelas 4 SD (yang sangat terkenal dan berlandaskan agama yang kuat) dibawa ke saya oleh neneknya karena sudah tidak mau sekolah selama dua minggu dan tanpa mau menjelaskan apa alasannya dan ketika 'dikorek' ternyata selama dua minggu ini ananda PJ mogok sekolah karena di-bully oleh teman-teman satu gengnya, kenapa?

Karena tidak meng-upload video atau foto porno di Whatsapp grup satu gengnya, karena selama dua minggu ini PJ tidak sempet mem-posting karena tugas sekolah yang banyak.

Kaget lagi kan? Kegiatan ini sudah rutin mereka lakukan selama hampir satu tahun. Jadi ada perjanjian di antara mereka atas nama loyalitas, keakraban, solidaritas, up to date, tidak kuno, biar bisa diterima, keren, dan cool setiap anggota yang masih berusia 10 tahun bahkan ada yang masih berusia 9 tahun diharuskan untuk taat dengan aturan main tersebut.

Bagi yang melanggar dan tidak/lupa mem-posting, maka konsekuensinya beragam mulai dari: verbal bullying, traktir makan, ditelanjangin dan difoto atau dimusuhin tergantung seberapa lama tidak mem-posting foto/video atau kesalahan yang dibuat.

Seperti biasa, orang tua sibuuukkk bekerja, PJ diasuh oleh neneknya yang tidak paham dengan teknologi dan panik pada saat cucunya mogok sekolah.

Orang tuanya saya minta hadir dan ibunya sadar dan langsung mau berubah, memilih untuk berhenti kerja dan belajar ilmu parenting serta fokus mencurahkan semua jiwa raga dan energi bagi PJ yang akhirnya saya minta pindah sekolah agar lepas dari pengaruh teman-temannya.

Parents... Hidup kita diisi dengan berbagai pilihan. Beberapa pilihan bernilai amat penting yang menentukan arah hidup kita selanjutnya. Beberapa pilihan lain memberikan dampak besar bagi kehidupan anak kita selanjutnya.

Di balik pilihan, ada satu kata sakral, yakni kebebasan. Kebebasan yang salah akan menjadikan kita terikat di masa depan atas konsekuensi kebebasan tersebut.

Friedrich Nietzsche, pemikir Jerman, pernah menulis, bahwa orang yang memiliki alasan untuk hidupnya bisa bertahan dalam keadaan apapun.

Alasan yang kuat akan menjadi energi tindakan, terutama ketika tantangan besar datang menghujam. Didik anak-anakmu agar punya alasan kuat untuk hidup, hidup yang bermakna yang menjadi berkat/berkah bagi orang lain. Karena kalau tidak maka orang lain yang mengambil alih pendidikan atas hidup anak-anakmu!

Your children need your PRESENCE more than your PRESENTS! And please CHOOSE WISELY.

Happy Parenting! The hardest job you will ever love ❤

Novita Tandry, Psikolog Anak dan Remaja | NTO Nurture Teach Observe | Childcare and Early Education

Youtube and IG : @novitatandry