Ketika Lingkungan Lebih dari Sekadar Latar

Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Novita Trisna Septinarni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda bertanya-tanya dari mana asalnya cara Anda berpikir dan bersikap? Bagaimana bisa Anda punya cara bicara seperti ini, atau cara berpikir seperti itu? Kenapa Anda bisa merasa nyaman dengan keputusan tertentu, tetapi ragu terhadap yang lain? Sifat, kepribadian, bahkan kebiasaan kecil, semuanya seolah melekat tanpa Anda sadari. Semua itu terbentuk. Dan sebagian besar, terbentuk oleh lingkungan tempat kita tumbuh.
Lingkungan memang bukan cuma sekedar latar tempat kita hidup, tapi juga ruang terjadinya interaksi yang membentuk siapa kita sekarang. Keluarga, teman-teman, guru, atau bahkan orang asing yang kita temui, semua pernah terlibat dalam interaksi yang meninggalkan jejak dalam diri kita. Sebagai contoh, cara orang tua Anda mengasuh, menjadi cara pikiran Anda memandang bagaimana dunia akan memperlakukan Anda.
Dari sinilah kita mulai menyadari bahwa setiap hubungan dan pertemuan dengan orang lain membentuk sesuatu dalam diri kita. Proses saling memengaruhi inilah yang disebut interaksi sosial, di mana manusia saling belajar, terhubung, dan membentuk satu sama lain.
Apa itu interaksi?
Interaksi sosial adalah tindakan yang terjadi secara dua orang atau lebih yang saling berhubungan, mempengaruhi, dan merespons satu sama lain, melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Menurut Soerjono Soekanto, interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial. Tanpa interaksi, manusia hanyalah makhluk individu yang tak pernah benar-benar mengenal dirinya sendiri (Soekanto, 2009). Dari pertemuan, percakapan, kerja sama, atau bahkan konflik, kita perlahan memahami menjadi diri sendiri di tengah orang lain.
Dampak hubungan sosial
Lalu, seperti apa sebenarnya dampak interaksi sosial terhadap kepribadian dan sifat kita? Interaksi dengan lingkungan menjadi ruang dimana proses perkembangan itu terjadi, melalui pengalaman sosial, pendidikan, hingga peristiwa hidup yang kita alami. Baik atau buruknya lingkungan sekitar secara tidak langsung membentuk bagaimana kita memperlakukan orang lain, juga bagaimana kita memandang diri sendiri. Menurut Albert Bandura, perilaku individu dipengaruhi oleh lingkungan, dan sebaliknya, individu juga ikut mempengaruhi lingkungannya. Proses ini disebut reciprocal determinism, di mana kepribadian terbentuk dari interaksi timbal balik antara pengalaman, lingkungan sosial, dan tindakan pribadi (Bandura, 1986).
Misalnya, jika Anda tumbuh di lingkungan keluarga yang hangat dan suportif, Anda akan merasa dicintai apa adanya, dan hubungan sosial pun terasa aman dan sehat. Sebaliknya, jika lingkungan penuh jarak, minim kehadiran emosional, atau bahkan terasa dingin, Anda bisa tumbuh dengan perasaan bahwa keberadaanmu tak berarti. Akibatnya, Anda mungkin menjadi pribadi yang sulit terbuka karena sudah terbiasa merasa tidak bisa mempercayai siapapun.
Menariknya, memang tidak semua interaksi hadir dalam harmoni. Kadang justru konflik menjadi dinamika hubungan sosial. Meski identik dengan pertentangan, konflik bisa membuka ruang dialog yang luas dan membongkar asumsi, yang nantinya kita bisa banyak belajar tentang diri sendiri maupun orang lain.
Dalam situasi tertentu, konflik bisa menjadi jalan menuju pandangan yang lebih terbuka. Karena kita bisa mencoba mengerti apa yang sebenarnya orang lain rasakan, atau alasan mengapa mereka bisa seperti itu. Keterbukaan ini membuat pengertian yang baru dan membuat hubungan menjadi lebih kuat.
Salah satu penelitian paling terkenal mengenai hal ini adalah eksperimen Robbers Cave oleh Muzafer Sherif pada tahun 1954. Dalam eksperimen ini, dua kelompok anak laki-laki yang awalnya saling bermusuhan karena persaingan, akhirnya diminta bekerja sama untuk menyelesaikan masalah bersama, seperti memperbaiki suplai air dan menarik truk mogok. Hasilnya mengejutkan: ketika dihadapkan pada tujuan bersama (superordinate goals), permusuhan antar kelompok perlahan menghilang, dan digantikan dengan rasa saling percaya dan solidaritas baru.
Penelitian ini menunjukkan bahwa konflik tidak selalu berakhir dengan perpecahan. Ketika ada ruang untuk saling mengerti, konflik justru dapat menjadi pintu menuju kolaborasi dan kedekatan yang lebih tulus.
Tentu, pembahasan mengenai interaksi sosial dan dampaknya terhadap kepribadian tidak hanya bisa dilihat dari sudut pandang teori maupun hasil penelitian. Dalam hal ini, saya pun pernah mengalami bagaimana interaksi sosial turut membentuk kepribadian saya secara perlahan.
Saya pernah tinggal satu kamar dengan seseorang yang secara emosional sulit memahami perasaan orang lain. Alih-alih merasa didengar saat bercerita, saya justru sering merasa dihakimi karena tanggapannya yang terlalu rasional. Situasi itu menimbulkan jarak di antara kami. Namun seiring waktu, melalui momen-momen dingin dan baikan, saya belajar bahwa perbedaan cara bersikap muncul dari latar yang berbeda pula. Begitu pula dalam pertemanan, keterbukaan untuk menyampaikan ketidaknyamanan justru membawa hubungan ke arah yang lebih jujur dan sehat.
Pada akhirnya, kita dibentuk oleh siapa yang pernah hadir, apa yang pernah terjadi, dan bagaimana lingkungan itu menyentuh hidup kita. Setiap sikap, cara berpikir, dan kebiasaan yang kita miliki hari ini adalah hasil dari proses panjang berinteraksi dengan dunia di sekitar. Maka saat kita melihat ke dalam diri, kita sebenarnya juga sedang melihat ke luar, pada lingkungan yang diam-diam membentuk kita menjadi seperti sekarang.
