Pangandaran Kisah Usaha Ikan Jambal Roti Turun-Temurun yang Tetap Bertahan

Undergraduate University Padjadjaran Communication Studies
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Noviyanti Silaban tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pada pagi yang masih lembap oleh hembusan angin laut Pangandaran, aroma asin yang khas tiba-tiba menyeruak dari sebuah kios kecil di tepi jalan. Banyak orang mungkin lewat tanpa mengetahui bahwa di balik tumpukan ikan asin yang terpajang rapi itu terdapat sebuah perjalanan panjang bukan sekadar bisnis keluarga, tetapi warisan yang sudah bertahan hampir dua dekade. Fakta uniknya, salah satu produk unggulan di sini, yaitu ikan asin atau ikan jambal roti, masih dibuat dengan cara tradisional yang hampir tidak berubah sejak belasan tahun lalu, meski banyak pesaing telah beralih ke metode pengolahan modern. Dari situlah cerita ini bermula.

Pemilik usaha ini bernama Aditya berusia 24 tahun yang berpakaian baju kaos pendek merah dan celana pendek hitam. Saat kami hendak menuju toko usaha tersebut, aroma ikan mulai menjalar ke indra penciuman. Ia menyambut kami dengan senyum yang tenang tetapi ragu, sambil sesekali memperhatikan ikan ikan yang ia jual di tokonya. Beliau bercerita bahwa usaha ini berdiri sejak tahun 2004, diwariskan turun-temurun oleh keluarganya. Sejak itu, beliau tidak memiliki pekerjaan lain selain mengelola toko kecil yang buka setiap hari mulai pukul enam pagi hingga menjelang malam. “Kalau akhir pekan bisa sampai jam sepuluh malam,” ujarnya sambil menata kembali beberapa ikan asin ke dalam lemari es.
Beliau menunjukkan produk yang paling banyak digemari oleh wisatawan yakni ikan jambal roti. Bentuknya yang tersusun seperti anyaman roti menjadi daya tarik tersendiri. “Ini masih tradisional, proses pengasinannya sekitar dua minggu. Kami bekerja sama langsung dengan nelayan, jadi masih segar,” jelasnya. Dari sana tampak jelas bahwa usaha ini bukan hanya soal menjual barang, tetapi juga menjaga proses dan rasa yang dianggap sebagai identitas kuliner Pantai Pangandaran.
Perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Beliau mengangguk pelan ketika ditanya soal fluktuasi harga. “Dari 110 ribu per kilo di 2020, sekarang sekitar 130 ribu,” katanya. Kenaikan harga tahunan itu tidak dapat dihindari, meski ia selalu berusaha menjaga kualitas agar pelanggan tetap percaya. Pendapatan harian pun tidak selalu stabil; terkadang hanya Rp50.000 saat sepi, tetapi bisa juga mencapai Rp200.000 jika sedang ramai, terutama pada akhir pekan ketika wisatawan berdatangan. Ia mengandalkan pembayaran tunai dan melalui QRIS yang memudahkan pembayaran untuk berbagai kalangan.
Ada masa beliau ditantang sampai harus berada di titik terendah yang bahkan banyak dilewati oleh berbagai pelaku ekonomi. Tantangan yang beliau hadapi yaitu ketika terjadinya pandemi Covid-19. “Waktu itu sepi sekali, hampir tidak ada yang beli,”suaranya merendah. Bahkan setelah pandemi mereda, dampaknya masih ia rasakan hingga sekarang. Meski begitu, ia bersyukur pada pelanggan tetap dan wisatawan yang membuat usaha ini tetap bertahan. Namun, beliau menyebutkan bahwa pergantian musim tidak menjadi tantangannya dalam berdagang. “Sama aja, mau musim hujan atau musim kemarau penjualan disini tetap berjalan seperti biasanya,” ucapnya.
Dalam hal pemasaran, ia mengaku masih mengandalkan cara lama yaitu menawarkan produk kepada orang yang lewat. Belum ada akun media sosial resmi yang memperkenalkan usaha ini ke dunia digital. “Tapi saya mau coba TikTok, katanya lebih cepat narik perhatian,” sambil tertawa kecil, menunjukkan optimisme yang sederhana tetapi kuat. Selain ikan jambal roti, beliau juga menawarkan udang rebus yang sering dijadikan campuran masakan seperti bakwan atau nasi goreng, makanan ringan, dan juga barang yang berasal dari laut dijadikan sebagai mainan, pernak-pernik, serta kerajinan tangan lainnya. Meskipun tampak sederhana, usaha ini sudah memiliki tiga titik cabang penjualan yang tersebar di wilayah Pangandaran, semuanya dikelola oleh keluarga tanpa konsep franchise. Penjualannya tetap teratur dan penuh kedekatan antar sesama anggota keluarga. Dari kios kecil yang berdiri di tepi jalan ini, kami belajar bahwa sebuah usaha tidak hanya ditopang oleh strategi penjualan atau teknologi, tetapi juga oleh ketekunan dan keberanian untuk bertahan. Pemiliknya terus menjaga tradisi produksi yang diwariskan keluarga sambil perlahan membuka diri pada perubahan, seperti rencana memanfaatkan media sosial.
Dalam kesederhanaannya, beliau menyampaikan pesan bahwa apa pun tantangannya termasuk badai besar seperti pandemi usaha, tetapi jika dikerjakan dengan hati akan selalu menemukan jalan keluarnya. Beliau berharap, siapa pun yang berkunjung ke Pangandaran tidak hanya membawa pulang ikan asin sebagai oleh-oleh, tetapi juga sedikit cerita tentang perjuangan keluarga yang terus menjaga cita rasa warisan pantai timur.
