Konten dari Pengguna

Pantai Pangandaran dan Kerajinan Khas Kerang Asli

Noviyanti Silaban

Noviyanti Silaban

Undergraduate University Padjadjaran Communication Studies

·waktu baca 4 menit

comment
19
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Noviyanti Silaban tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Pantai Timur Pangandaran, terdapat toko kerajinan yang telah menjadi bagian dari identitas wisata lokal. Toko ini berdiri sejak tahun 2004, didirikan oleh Bu Yully. Seorang perempuan tangguh yang bekerja keras menopang keluarga. Bu Yully dikenal sebagai sosok kuat, tegar, dan tidak pernah menyerah, menjadi tulang punggung keluarganya sekaligus penggerak utama usaha ini. Kini, toko ini telah berkembang menjadi tiga cabang di kawasan pantai timur, dengan toko pertama tetap menjadi ikon utama yang menjual produk kerajinnan, seperti gelang dari kerang, lampu kerajinan, hiasan dari laut dan sebagainya.

Sumber : Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Sejak awal berdirinya, toko ini mempertahankan konsep kerajinan tradisional dengan bahan-bahan yang sebagian besar berasal dari alam Pangandaran. Kerang-kerang yang tidak dilindungi yang masih melimpah di laut, dikumpulkan langsung untuk dijadikan gelang, gantungan kunci, tas, dan berbagai hiasan khas pantai. Produk kerajinan ini tetap mengikuti tren wisatawan agar lebih menarik, namun akar tradisionalnya tetap dipertahankan sebagai identitas utama.

Sumber : Dokumentasi pribadi (Sudak izin kepada pemilik)

Toko ini buka setiap hari dari pukul 07.00 pagi hingga 17.00 sore, dan pada akhir pekan buka lebih lama hingga pukul 20.00 malam, menyesuaikan dengan jam kunjungan wisatawan. Dalam enam tahun terakhir, toko ini dipercayakan kepada seorang pemuda bernama Pak Tono, pria berusia 30 tahun yang pulang ke daerah kelahirannya setelah sebelumnya bekerja di bidang batu bara di Palembang. Keputusannya kembali ke Pangandaran bukan hanya karena jarak yang lebih dekat dengan keluarga, tetapi juga karena ia merasa nyaman dan menemukan ketenangan dalam usaha ini. Meskipun pendapatannya tidak sebesar ketika bekerja di Palembang, ia tetap bersyukur karena usahanya halal, stabil, dan membawanya pulang ke akar kehidupannya.

Pak Tono bercerita bahwa minat wisatawan terhadap kerajinan selalu naik turun. Produk tertentu seperti kerajinan besar tidak setiap hari terjual. Namun, aksesoris kecil seperti gelang, gantungan kunci, dan tas khas pantai hampir selalu laku dibeli wisatawan. Persaingan juga semakin ketat, terutama karena banyaknya pedagang baru dan semakin berkembangnya penjualan online, sementara toko mereka masih bergantung pada pengunjung wisata.

Dalam perjalanan usahanya, pasang surut tentu tidak bisa dihindari terlebih bagi pedagang di kawasan wisata. Cuaca menjadi tantangan alami yang paling sering berpengaruh, karena angin laut dan badai bisa membuat dagangan sepi atau bahkan menghambat pengambilan bahan kerang dari laut. Namun masa tersulit yang mereka hadapi adalah saat pandemi Covid-19. Saat itu, kawasan wisata benar-benar sepi. Bahkan pada akhir pekan yang biasanya ramai, tidak ada tamu sama sekali. Pendapatan menurun drastis hingga hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Meski begitu, usaha ini tetap memberikan dampak sosial yang baik bagi masyarakat sekitar. Menurut Pak Tono, kerajinan tradisional adalah bagian dari budaya lokal yang patut dijaga. Di tengah gempuran gadget dan permainan modern, kehadiran kerajinan seperti congklak, bola bekel, dan aksesori khas pesisir menjadi pengingat bahwa budaya tidak boleh hilang. Dengan terus menjual produk-produk ini, mereka ikut melestarikan tradisi yang hampir terlupakan.

Toko kerajinan milik Bu Yully mempekerjakan dua karyawan di setiap cabangnya. Selain mengurus toko, Pak Tono juga aktif sebagai konten kreator TikTok yang membahas wisata dan komedi, sebuah cara kreatif untuk memanfaatkan waktu luang sekaligus menjadi sarana promosi tidak langsung bagi daerahnya.

Ketika ditanya tentang alasan bertahan dalam usaha ini, jawaban Pak Tono sederhana namun mengandung makna mendalam, yakni rasa nyaman, usaha yang halal, dan harapan untuk masa depan. Baginya, hidup bukan hanya tentang pemasukan besar, tetapi tentang kedekatan dengan rumah, keluarga, dan lingkungan yang membuatnya merasa berarti.

Rencana pak Tono ke depan untuk toko ini menambah variasi produk. Walaupun belum tersusun secara detail, semangat untuk berkembang selalu ada. Bagi mereka, usaha bukan hanya soal berdagang, tetapi tentang mempertahankan identitas budaya Pangandaran agar tetap hidup dan dikenal pengunjung dari berbagai daerah.

Sumber : Dokumentasi pribadi

Membangun usaha tidak selalu dimulai dari hal besar. Keberanian untuk memulai, bertahan, dan beradaptasi adalah kunci yang jauh lebih penting. Dunia bisnis penuh pasang surut seperti ombak di pantai yang tidak pernah berhenti namun ketekunan dan tekad yang kuat akan membuat seseorang tetap berdiri.

“Jika ingin berbisnis, jangan takut memulai dari kecil. Hal-hal besar lahir dari proses yang panjang,” kata Pak Tono.

Ia juga berpesan agar anak muda tetap menghargai warisan budaya lokal dan berani menciptakan inovasi tanpa melupakan akar tradisi. Menurutnya, bisnis bukan hanya tentang keuntungan, tetapi tentang memberi manfaat bagi lingkungan dan mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada sejak lama.