Takut Tertinggal di Era Digital: Fenomena FOMO di Kalangan Generasi Muda

Undergraduate University Padjadjaran Communication Studies
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Noviyanti Silaban tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Media sosial memudahkan akses informasi, tetapi juga memunculkan kecemasan karena rasa takut tertinggal dari lingkungan sosial.
Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda. Kehadiran platform seperti Instagram, TikTok, dan X memungkinkan pengguna memperoleh informasi secara cepat serta mengikuti berbagai tren yang sedang berkembang. Namun, kemudahan tersebut juga memunculkan fenomena yang makin sering dialami oleh banyak orang, yaitu Fear of Missing Out (FOMO). FOMO merupakan kondisi ketika seseorang merasa takut tertinggal informasi, pengalaman, atau aktivitas yang sedang dilakukan oleh orang lain sehingga mendorongnya untuk terus memantau media sosial.

FOMO makin terlihat di kalangan generasi muda yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital. Berdasarkan laporan Digital 2025 dari DataReportal, pengguna internet di Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari tiga jam per hari untuk mengakses media sosial. Tingginya penggunaan media sosial membuat individu terus terpapar berbagai unggahan mengenai pencapaian akademik, gaya hidup, tren, hingga aktivitas hiburan. Di sisi lain, survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa mayoritas pengguna internet di Indonesia berasal dari kelompok usia produktif yang aktif menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi dan pencarian informasi. Kondisi ini membuat generasi muda makin rentan mengalami FOMO karena mereka merasa perlu terus mengikuti perkembangan yang terjadi di lingkungan digital.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya melihat bahwa fenomena FOMO tidak hanya disebabkan oleh keinginan individu untuk mengikuti tren, tetapi juga dipengaruhi oleh karakteristik media sosial itu sendiri. Saat ini media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi, melainkan juga ruang untuk menunjukkan identitas diri dan memperoleh pengakuan sosial. Ketika seseorang melihat teman-temannya menghadiri konser, berlibur, memperoleh prestasi, atau mengikuti tren tertentu, muncul perasaan bahwa dirinya tertinggal apabila tidak mengalami hal yang sama. Akibatnya, banyak individu yang terus memeriksa media sosial, bahkan tanpa tujuan yang jelas, hanya untuk memastikan bahwa mereka tidak melewatkan sesuatu yang sedang ramai diperbincangkan.
FOMO dapat dijelaskan melalui Teori Uses and Gratifications yang dikemukakan oleh Elihu Katz, Jay Blumler, dan Michael Gurevitch. Teori ini menjelaskan bahwa audiens secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan tertentu, seperti kebutuhan informasi, hiburan, interaksi sosial, dan aktualisasi diri. Dalam konteks FOMO, banyak pengguna media sosial yang terus mengakses berbagai platform digital untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Mereka ingin mengetahui informasi terbaru, mengikuti tren yang sedang viral, serta tetap terhubung dengan lingkungan sosialnya. Namun, ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, muncul perasaan cemas dan takut tertinggal yang kemudian mendorong mereka untuk makin sering menggunakan media sosial.
Melalui Teori Determinisme Teknologi yang dikemukakan oleh Marshall McLuhan menjelaskan bahwa perkembangan teknologi memiliki pengaruh besar terhadap cara manusia berpikir, berperilaku, dan berinteraksi. Kehadiran media sosial dengan fitur notifikasi, algoritma personalisasi, serta arus informasi yang berlangsung tanpa henti secara tidak langsung membentuk kebiasaan masyarakat untuk selalu terhubung. Pengguna menjadi terbiasa memeriksa media sosial setiap saat karena teknologi telah menciptakan lingkungan yang membuat informasi terus bergerak dan berubah. Akibatnya, muncul ketakutan untuk tertinggal apabila tidak mengikuti perkembangan yang ada.
Jadi, fenomena FOMO merupakan salah satu dampak dari tingginya penggunaan media sosial di era digital. Perasaan takut tertinggal membuat banyak individu terus memantau media sosial dan membandingkan dirinya dengan orang lain. Melalui Teori Uses and Gratifications dan Teori Determinisme Teknologi, dapat dipahami bahwa FOMO muncul karena kebutuhan individu terhadap informasi dan interaksi sosial, serta pengaruh teknologi yang membentuk perilaku manusia. Oleh karena itu, masyarakat perlu menggunakan media sosial secara lebih bijak dengan membatasi waktu penggunaan, meningkatkan interaksi di dunia nyata, serta menyadari bahwa apa yang ditampilkan di media sosial tidak selalu menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Dengan demikian, media sosial dapat dimanfaatkan secara positif tanpa menimbulkan tekanan psikologis akibat rasa takut tertinggal.
