Mengenal Mastitis Pada Ibu Menyusui

Mahasiswa Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Novri Rahmadaninst tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menyusui, atau dikenal dalam bahasa asing sebagai breastfeeding, merupakan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sebagai sumber makanan alami untuk bayi. Aktivitas ini tidak hanya mempererat ikatan emosional antara ibu dan bayinya, tetapi juga memberikan kebanggaan bagi ibu karena mampu menyediakan nutrisi terbaik untuk anaknya. Proses menyusui dapat terhambat karena adanya beberapa masalah salah satunya adalah mastitis.
Mastitis pada ibu menyusui adalah infeksi pada jaringan payudara yang terjadi saat menyusui. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh saluran ASI yang tersumbat akibat gumpalan ASI, serta bakteri yang masuk ke jaringan payudara melalui puting. Penyakit ini dapat mengenai siapa saja, baik wanita menyusui, wanita yang tidak menyusui, bahkan sebagian kecil laki-laki, dan dapat diklasifikasikan menjadi puerperal mastitis dan non puerperal mastitis. Puerperal mastitis adalah inflamasi atau peradangan payudara yang berhubungan dengan kehamilan, menyusui, dan penyapihan. Sebaliknya, non puerperal mastitis adalah peradangan payudara yang tidak berhubungan dengan kehamilan dan menyusui.
Mastitis umumnya terjadi dalam 12 minggu pertama hingga tahun kedua masa menyusui. Mastitis yang berhubungan dengan menyusui adalah jenis mastitis yang paling banyak terjadi. Gejala-gejala yang sering muncul adalah:
Nyeri pada payudara dan rasa panas ketika disentuh
Adanya peningkatan suhu tubuh pada ibu (>38◦C)
Perasaan sakit pada seluruh tubuh
Payudara menjadi bengkak
Kemerahan pada payudara, seringkali berbatas tegas
Kapan Ibu dengan Mastitis Perlu Berkonsultasi ke Dokter?
Sebagian besar wanita akan mengalami demam ringan disertai rasa sakit di seluruh tubuh, yang kemudian diikuti oleh munculnya kemerahan dan nyeri pada payudara. Jika gejala ini terjadi, disarankan agar ibu segera berkonsultasi dengan dokter. Hal ini terutama penting jika ibu melihat cairan selain ASI keluar, merasakan nyeri yang semakin parah dan tidak kunjung hilang, atau mengalami rasa nyeri yang tidak jelas penyebabnya.
Apa Saja Faktor Risiko dan Penyebab Terjadinya Mastitis?
Beberapa keadaan menjadi fakor risiko terjadinya mastitiss pada ibu menyusui, di antaranya:
Sistem imun yang lemah dan kurangnya kebersihan puting payudara selama menyusui.
Infeksi bakteri Staphylococcus aureus yang masuk melalui celah atau luka pada puting payudara.
Saluran ASI yang tersumbat dan tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi mastitis.
Puting payudara yang retak atau lecet, seringkali akibat posisi menyusui yang kurang tepat, dapat menyebabkan luka pada puting. Kondisi ini mempermudah bakteri masuk dan berkembang biak di dalam payudara, yang akhirnya menyebabkan infeksi.
Kontaminasi dari kulit yang mengandung bakteri atau dari mulut bayi dapat menjadi sumber infeksi. Bakteri dapat masuk melalui saluran ASI, menyebabkan peradangan.
Selalu menyusui dengan posisi yang sama, sehingga saluran susu tidak terkosongkan dengan sempurna.
Memakai bra yang ketat, sehingga menyebabkan hambatan pada aliran susu
Stress dan terlalu lelah
Adanya riwayat peradangan payudara ketika menyusui sebelumnya
Adanya penyakit seperti diabetes, penyakit kronis, dan penyakit kelemahan sistem kekebalan tubuh.
Bagaimana mencegah mastitis pada ibu menyusui?
Mastitis menimbulkan gangguan dan rasa tidak nyaman ketika menyusui, baik bagi ibu maupun bayi. Bahkan dapat menyebabkan penyapihan sebelum waktunya. Karena itu, sebaiknya seorang ibu berusaha mencegah timbulnya penyakit ini, dengan melakukan beberapa hal berikut:
Menjaga kebersihan payudara dengan membersihkan dan mencuci tangan setiap kali hendak menyusui
Memerah sedikit ASI dan mengoleskan pada puting susu dan sekitarnya, karena ASI memiliki efek desinfektan dan membantu menjaga kelembaban kulit sehingga tidak mudah pecah
Memberikan ASI dalam suasana yang santai dan nyaman baik bagi ibu maupun bayi
Mengosongkan payudara dengan sempurna setiap kali menyusui
Membiarkan bayi untuk menghabiskan air susu pada satu payudara sebelum berpindah menyusu pada payudara yang lain setiap kali menyusui
Apabila bayi hanya menghisap payudara kedua selama beberapa menit, maka pada menyusui selanjutnya, mulailah dengan memberikan payudara tersebut
Memberikan payudara yang dihisap pertama kali secara bergantian setiap kali menyusui
Berganti-ganti posisi setiap kali menyusui
Memenuhi kebutuhan nutrisi
Memastikan bayi menyusu dengan posisi yang benar, yaitu: perut bayi menempel keperut ibu, mulut dan dagu bayi menempel betul pada payudara, telinga dan lengan bayi berada dalam satu garis lurus, serta posisi puting dan lengan bayi juga berada pada satu garis lurus. Pastikan pula mulut bayi membuka lebar sehingga sebagian besar areola tertutup mulut bayi. Cara agar mulut bayi terbuka adalah dengan menyentuhkan puting susu pada bibir atau pipi bayi.
Tidak membiarkan bayi bermain-main dengan puting susu, dia lapar.
Apa yang harus dilakukan ketika terjadi mastitis?
Saat mengalami mastitis, ibu tetap diperbolehkan menyusui. Bahkan, melanjutkan proses menyusui dapat membantu mempercepat pemulihan infeksi pada payudara. Namun, ibu mungkin akan merasa tidak nyaman selama menyusui. Beberapa hal ini dapat dilakukan ibu di rumah, untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat mastitis:
Tetap menyusui secara teratur.
Pastikan tubuh mendapat istirahat yang cukup untuk mendukung pemulihan sistem imun.
Hindari payudara menjadi terlalu penuh dengan tidak membiarkan bayi melewatkan waktu menyusu terlalu lama. Bayi baru lahir hingga usia 4 bulan disarankan menyusu setiap 2-3 jam, sementara bayi yang lebih besar sebaiknya setiap 4 jam.
Ganti posisi setiap kali menyusui untuk kenyamanan.
Konsumsi banyak air putih dan makanan bergizi untuk menjaga stamina tubuh.
Kompres payudara yang meradang dengan kain hangat, mandi air hangat sebelum menyusui, atau pompa sebagian ASI untuk memastikan payudara benar-benar kosong.
Gunakan bra yang sesuai, nyaman, dan tidak terlalu ketat untuk mendukung payudara.
Jika mastitis menyebabkan nyeri hebat atau bayi menolak menyusu dari payudara yang sakit, ASI dapat diberikan dengan cara dipompa menggunakan alat khusus atau tangan.
Dengan memahami mastitis saat menyusui, diharapkan ibu lebih peduli terhadap kesehatannya selama periode menyusui. Beberapa langkah penting seperti menjaga kebersihan payudara, memastikan payudara kosong sepenuhnya setiap kali menyusui, memberikan ASI dalam kondisi yang nyaman dan santai, memenuhi asupan nutrisi, serta mempelajari teknik menyusui yang tepat dapat memberikan banyak keuntungan. Langkah-langkah sederhana ini tidak hanya berperan dalam mencegah mastitis, tetapi juga mendukung kelancaran proses menyusui agar berjalan dengan baik dan tidak terputus sebelum waktunya.
Refrensi
Liana, N., Oktora, M. Z., Jelmila, S. N., Febrianto, B. Y., & Hasni, D. (2022). Edukasi PeLiana, N., Oktora, M. Z., Jelmila, S. N., Febrianto, B. Y., & Hasni, D. (2022). Edukasi Penyakit Mastitis Saat Menyusui di Kantor Lurah Gantiang, Padang Panjang Timur. Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK), 4(3), 430. https://doi.org/10.36565/jak.v4i3. Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK), 4(3), 430. https://doi.org/10.36565/jak.v4i3.379
Setiadewi, R., Hasanah, O., & Lestari, W. (2021). Gambaran Permasalahan Pemberian ASI Pada 6 Bulan Pertama. Jurnal Medika Hutama, 04(03), 3441–3449. https://jurnalmedikahutama.com/index.php/JMH/article/view/634
Tanis, S. L. (2022). Mastitis. Women’s Health: Understanding Issues and Influences: Volume 1-2, 2(2), 419–421. https://doi.org/10.21423/aabppro19816853
Widhawati, R., Lubis, V. H., & Komalasari, O. (2024). Jurnal Peduli Masyarakat. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (JPKM) - Aphelion, 4(September), 171–178. https://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPM/article/view/2494
Edisi XI, Tahun I - Majalah Kesehatan Muslim, dr. Raehanul Bahren, dr. Hafid, dr. Muhammad Saifuddin Hakim, dr. Avie Andriyani, dan dr. Kartika.
Novri Rahmadani Nasution (Mahasiswa), Aderia Belinda Damanik (Mahasiswa), Regita Putri Wanda (ahasiswa), Tania Alvira (Mahasiswa), Dr. Gustianingsih, M.Hum. (Dosen mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah di USU).
