Ibu yang Dihapus dari Sejarah: Membaca Lebih Putih Dariku

Mahasiswi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Nur Rizqiyyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kamu membayangkan hidup di masa ketika warna kulit, asal-usul, hingga hubungan cinta menentukan seberapa berharganya dirimu sebagai manusia? Sejarah kolonial Belanda sering diceritakan lewat perang, perundingan politik, dan perebutan kekuasaan. Namun di baliknya ada suara sunyi yang kerap dibungkam, yaitu suara para perempuan pribumi yang harus bertahan hidup di tengah ketimpangan sosial dan pilihan yang amat terbatas. Luka sejarah inilah yang dibongkar Dido Michielsen dalam novelnya, Lebih Putih Dariku (Marjin Kiri, 2022). Lewat Isah, perempuan Jawa yang menjadi nyai bagi lelaki Belanda, kita diajak melihat sisi kelam Hindia Belanda dari sudut pandang yang sangat personal. Nyai adalah sebutan bagi perempuan pribumi yang hidup bersama lelaki Belanda tanpa ikatan pernikahan yang sah.
Bayangkan kamu mempertaruhkan nyawa melahirkan dan merawat dua anak perempuan, tetapi ketika mereka tumbuh, mereka justru memanggilmu “babu”. Pengalaman Isah hadir seperti tamparan halus: tidak berteriak, tetapi perlahan membuat dada sesak. Novel ini mengingatkan bahwa sejarah bukan hanya milik mereka yang memegang kekuasaan, melainkan juga milik mereka yang dipaksa mengalah, kehilangan, dan terus berjuang demi diakui. Kisah ini menjadi cermin yang memaksa kita memikirkan kembali identitas, ketidakadilan, dan posisi perempuan yang masih relevan hingga hari ini.
Antara Tuntutan Adat dan Pilihan Sendiri
Isah lahir dengan nama Piranti, anak seorang pembatik keraton Yogyakarta. Ia tumbuh di antara dua dunia: dekat dengan istana, tetapi tidak pernah diakui sebagai bagian darinya. Sejak kecil ia belajar bahwa tidak semua orang punya kesempatan yang sama. Kesadaran itu terekam dalam kalimat berikut.
“Mereka memiliki lebih banyak hak dibandingkan yang lainnya. Hak mereka lebih tinggi dari kamu karena kamu bukan putri sultan.”
Isah selalu diminta mengalah. Pada usia enam belas tahun ia dipaksa menikah dengan lelaki yang jauh lebih tua demi masa depan yang dianggap lebih terjamin. Isah menolak dan memilih pergi meninggalkan ibunya. Ia lalu berkenalan dengan Gey van Pittius, seorang kapten tentara Belanda. Hubungan mereka bermula dari percakapan sederhana di beranda rumah Gey, dan Isah akhirnya tinggal bersamanya sebagai nyai sekaligus pengurus rumah tangga.
Nasib yang Tidak Sesuai Harapan
Kehidupan yang dibayangkan Isah sebagai jalan menuju kebebasan justru menjadi penjara baru. Ia melahirkan dua anak perempuan, Pauline dan Louisa, tetapi kedudukannya tetap rendah di mata masyarakat kolonial. Sebuah pertanyaan terus mengganggunya: “Siapa sebetulnya Isah?” Ia bukan lagi Piranti, tetapi juga belum benar-benar nyonya rumah. Di hadapan tamu ia diperlakukan seperti perabot, sampai menganggap dirinya “sebagai bayang-bayang”. Penggambaran ini menjelaskan posisi nyai secara gamblang: dibutuhkan di dalam rumah, tetapi disembunyikan dan tak diakui di ruang publik.
Semua runtuh ketika Gey memutuskan kembali ke Belanda untuk menikahi perempuan yang telah menunggunya bertahun-tahun. Isah tahu apa yang bisa diberikan perempuan itu, yaitu nama baik, wajah, dan kulit putih, sedangkan ia hanya punya kesetiaan yang tidak pernah dihitung. Anak-anaknya diasuh keluarga Belanda lain, sementara Isah tetap tinggal di sana sebagai pembantu. Ia belajar bahwa cinta seorang ibu kadang harus disembunyikan demi keselamatan anak-anaknya. Bagian ini penting karena menunjukkan bahwa ketidakadilan kolonial tidak hanya hadir dalam pemerintahan dan ekonomi, tetapi juga masuk ke ruang pribadi dan rumah tangga. Seseorang bisa sangat dekat dengan kelompok berkuasa, tetapi tetap tidak mendapat hak dan pengakuan yang sama.
Hidup Setelah Ditinggalkan
Lewat perjalanan Isah dari Yogya ke Purwokerto, lalu ke Batavia, pembaca diajak melihat sisi gelap kehidupan perempuan pribumi di bawah kolonialisme. Ini bukan sekadar cerita pribadi, tetapi potret kolektif tentang perempuan yang melahirkan generasi baru, namun dihapus dari silsilah, rumah, dan kenangan keluarganya.
Bagi Isah, kehilangan menjadi bagian hidup yang harus dijalani bertahun-tahun. Ia tidak hanya kehilangan orang yang dicintai, tetapi juga kedekatan dengan kedua anaknya. Ia bahkan mendatangi rumah Gey untuk melihat kehidupan barunya, dan justru menyadari bahwa dirinya tidak lagi punya tempat di sana. Gey bisa melanjutkan hidup dengan status sosial yang tetap terjaga, sedangkan Isah hanya menerima kenyataan pahit bahwa hubungan itu tidak memberinya perlindungan maupun kedudukan setara. Ia kemudian menjadi pelayan di rumah keluarga Van Boekhout, tempat Lot, istri Arnold, kerap merendahkan dan memperlakukannya dengan kasar.
Pengorbanan Nyai dan Hilangnya Peran Ibu
Konflik makin menyakitkan ketika Pauline dan Louisa beranjak dewasa. Isah sadar kedua anaknya akan memasuki pendidikan dan pernikahan tanpa mengenal asal-usul mereka. Ia memperingatkan mereka tentang bahaya hubungan yang tidak setara, terutama risiko menjadi nyai. Namun ia tidak punya kendali atas masa depan mereka. Pauline dikirim belajar ke Weltevreden, kawasan di Batavia, lalu Louisa menyusul. Lot kemudian mengusir Isah dan memisahkannya dari mereka.
Ini salah satu bagian paling getir. Isah mengorbankan banyak hal agar anak-anaknya hidup lebih baik, tetapi pengorbanan itu justru memisahkannya dari mereka. Ironisnya, kehidupan yang dianggap lebih terhormat bagi kedua anak itu dibangun dengan menghapus ibu kandung mereka. Persoalannya bukan sekadar cinta yang gagal, melainkan sistem kolonial yang memberi laki-laki dan keluarga berstatus tinggi kuasa menentukan nasib perempuan pribumi, termasuk hak mereka untuk tetap bersama anak-anaknya.
Canting, Batik, dan Lilin yang Menemani Hidup
Bagian yang paling saya suka adalah batik sebagai lambang. Alat bernama canting dipakai untuk menggoreskan lilin pada kain. Tokoh Canting bekerja serupa: ia menuliskan cerita Isah sedikit demi sedikit sampai coraknya terlihat, seperti kain yang baru tampak indah setelah dicelup. Menurut saya, perumpamaan ini membuat menulis terasa seperti kerja tangan yang sabar dan penuh hormat. Batik juga menandai siapa yang berkuasa, karena ada corak yang hanya boleh dipakai keluarga keraton. Penulis seakan ingin menunjukkan bahwa kekuasaan bisa menyelinap ke hal-hal yang tampak indah.
Warna indigo menjadi lambang paling kuat. Saat bekerja sebagai pencelup kain, Isah melihat kain putih berubah menjadi kuning, hijau, lalu biru tua, dan menganggapnya cermin hidupnya: dari awal yang bersih, melewati kematian, lalu lahir kembali. “Warna indigo memberiku harapan,” katanya.
Kisah Isah tidak berhenti pada dirinya sendiri. Setelah hidup yang panjang dan penuh kehilangan, ceritanya diteruskan oleh Canting, yang sadar bahwa banyak perempuan pribumi bernasib sama: menjadi nyai, melahirkan anak dari lelaki Belanda, lalu kehilangan hak diakui sebagai ibu. Ia memutuskan menerbitkan kisah Isah agar keturunannya mengenal sejarah keluarga mereka dan agar kisah itu menjadi suara bagi perempuan yang dihapus dari catatan resmi.
Kisah yang Menggugat Cara Kita Memandang Sejarah
Kekuatan novel ini terletak pada kemampuannya menghubungkan persoalan pribadi dengan ketidakadilan sosial. Penderitaan Isah bukan sekadar nasib buruk, melainkan akibat struktur kolonial yang menjadikan warna kulit, status, dan asal-usul sebagai penentu nilai seseorang. Cerita yang dituturkan dari sudut pandang Isah membuat konflik terasa dekat, mulai dari kerinduan, kemarahan, dan rasa bersalah hingga kelelahan yang membuatnya berhenti mencari. Simbol canting dan indigo memperkaya makna tentang ingatan, perubahan, dan usaha bertahan.
Meski begitu, perjalanan Isah yang dipenuhi kesedihan dan penantian bisa terasa berat bagi sebagian pembaca, apalagi karena konfliknya berlangsung lama. Namun hal itu menunjukkan bahwa dampak ketidakadilan tidak selalu selesai dalam satu peristiwa. Terkadang luka terus terbawa hingga usia senja.
Pada akhirnya, Lebih Putih Dariku bukan hanya novel tentang ibu yang kehilangan anak-anaknya. Novel ini mengingatkan bahwa di balik sejarah kolonial ada kehidupan orang-orang yang tidak mendapat tempat dalam catatan resmi. Melalui Isah dan Canting, kita diajak mempertanyakan siapa yang berhak dikenang, siapa yang dilupakan, dan mengapa warna kulit serta status sosial menentukan apakah seseorang layak diakui. Novel ini layak dibaca siapa pun yang ingin memahami sejarah kolonial dari sisi yang jarang dibicarakan.
