Konten dari Pengguna

Pengaruh Rendahnya Kemampuan Literasi karena Kurangnya Minat terhadap Sastra

Nurhasanah

Nurhasanah

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurhasanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Literasi. Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Literasi. Sumber: Pixabay

Pada zaman seperti sekarang ini, pendidikan di Indonesia memiliki peringkat yang masih terbilang rendah dibandingkan dengan negara lain dalam aspek sistem pendidikan. Ada beberapa penyebab pendidikan di Indonesia masih rendah dibanding dengan negara-negara lainnya. Salah satunya yaitu pengaruh kurangnya literasi atau minat baca pada siswa maupun mahasiswa serta kemampuan dalam berpikir kritis (critical thinking) yang masih rendah.

Pembelajaran sastra di sekolah tidak berdiri sendiri sebagai suatu mata pelajaran yang mandiri, tetapi menjadi bagian dari mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Sebagai mata pelajaran yang bersifat teoritis dan keterampilan praktik, pembelajaran sastra sering mengalami hambatan dalam proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.

Cakupan pelajaran sastra Indonesia berbeda pada setiap jenjang pendidikan. Pada tingkat pendidikan dasar, pelajaran sastra meliputi membaca dan memahami karya sastra. Pada tingkat pendidikan menengah, pelajaran sastra meliputi apresiasi sastra, membaca, dan menulis karangan sederhana. Di perguruan tinggi, pelajaran sastra Indonesia meliputi teori sastra, kritik sastra, sejarah sastra, sastra perbandingan, dan apresiasi sastra. Berdasarkan uraian tersebut, tersirat tujuan pembelajaran sastra bahwa selain memberikan pengetahuan kepada siswa tentang sastra, juga menumbuhkan kesenangan terhadap karya sastra yang bermuara pada apresiasi sastra.

Pada hakikatnya, membaca merupakan gudang ilmu atau jendela dunia. Karena dengan banyak membaca, kita dapat mengetahui banyak hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Semakin kita rajin membaca, maka dapat dipastikan kita akan semakin banyak tahu dan banyak bisa. Ini artinya, jika seseorang memiliki banyak pengetahuan, maka pengetahuan itu secara tidak sadar akan membantu dirinya dalam melakukan banyak hal yang sebelumnya bahkan belum dikuasai. Pengaruh rendahnya minat baca atau literasi yang terjadi Indonesia ini juga disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor pertama, belum ada kebiasaan membaca sejak dini. Kedua, fasilitas pendidikan yang masih minim. Dan yang terakhir adalah karena masih kurangnya produksi buku di Indonesia.

Adapun salah satu permasalahan yang sedang dihadapi dalam dunia pendidikan khususnya di sekolah yang ada di Indonesia ini adalah rendahnya tingkat kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran kegiatan membaca yang ada di sekolah. Terdapat rendahnya tingkat kemampuan berpikir kritis pada siswa biasanya terjadi disebabkan karena pada saat proses dilakukannya suatu pembelajaran dalam sehari-hari dinilai kurang cukup efektif dalam mengembangkan sebuah minat, bakat, dan potensi yang ada di dalam diri para siswa. Menurut Sanjaya (2006: 3) mengatakan bahwa “seorang guru memiliki pengaruh yang besar di dalam sebuah proses pendidikan”. hal tersebut saling berkaitan dengan betapa berartinya menjadi seorang guru yang merupakan kunci dari keberhasilan di dalam sebuah pendidikan.

Minat merupakan salah satu aspek yang memiliki peran penting di dalam kehidupan seseorang, khususnya dalam kehidupan belajar siswa. Dengan Minat kita dapat menentukan arah belajar siswa yang berimplikasi kepada hasil belajar. Yang di mana minat merupakan sesuatu keadaan mental dengan menghasilkannya sebuah respons yang terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu seperti hal yang menyenangkan dan memberi kepuasan kepadanya (satisfied) (Conny Semiawan, 1982: 48). Hal ini dapat menunjukkan bahwasanya minat memiliki fungsi motivasi atau daya penggerak yang mengarahkan seseorang melakukan kegiatan tertentu dan spesifik.

Kurangnya minat membaca yang dimiliki siswa juga masyarakat di Indonesia ini pada akhirnya akan mempengaruhi mereka dalam kemampuan berpikir kritis. Seperti yang telah kita ketahui, berpikir kritis merupakan sebuah peningkatan kemampuan yang kita miliki dalam menganalisis serta mengekspresikan suatu ide-ide yang kita punya. Masih rendahnya kemampuan dalam berpikir kritis ini dapat kita buktikan dengan masih banyaknya masyarakat Indonesia yang sering mempercayai informasi-informasi hoaks atau palsu yang diterima tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu.

Pembelajaran sastra dalam kegiatan belajar-mengajar dimasukkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, seyogyanya harus betul-betul memosisikan sastra sesuai dengan porsinya. Hal ini penting, mengingat selama ini pembelajaran sastra hanya dijadikan sebagai elemen pelengkap atau tambahan dalam muatan mata pelajaran Bahasa Indonesia, sehingga pemahaman peserta didik terhadap sastra tidak maksimal. Akibatnya, sastra yang semestinya dapat mendorong dunia literasi sekolah tidak berjalan dengan baik.

Sekolah harus selalu melakukan kajian dan inovasi berkelanjutan agar dapat menjadi wadah/tempat yang baik bagi upaya menghidupkan sastra melalui budaya literasi. Keberhasilan sekolah dalam hal ini akan membawa perubahan bagi perkembangan pengetahuan peserta didik, termasuk juga guru. Membimbing siswa dalam dunia sastra melalui budaya literasi tidak ubahnya seperti membawa mereka memasuki taman bunga, terasa nyaman dan menyenangkan. Pembelajaran sastra melalui budaya literasi dapat menyenangkan apabila guru dan sekolah mampu menyajikannya secara menyenangkan pula.

Damono (2007:19-20) berpendapat bahwa, kenyataan cukup memprihatinkan mengenai pengajaran sastra di sekolah, bukan karena porsinya yang hanya seperenam dari seluruh materi bahasa Indonesia, melainkan juga karena strategi pengajarnya yang mengkhianati sastra itu sendiri.

Tidaklah keliru jika Suharianto (dalam Jamaluddin:89) mengatakan dengan nada pesimis bahwa bila evaluasi yang diberikan tetap sama setiap tahun, tujuan pembinaan apresiasi peserta didik tetap hanya akan merupakan impian belaka.

Pembelajaran sastra penting bagi peserta didik karena berhubungan erat dengan perasaan. Sastra dapat menimbulkan rasa haru, keindahan, moral, keagamaan, khidmat, dan cinta. Selain memberikan keindahan dan kenikmatan, sastra juga memberikan keagungan pada siswa (Broto, 1982:67).

Beranjak dari berbagai pendapat di atas, ada beberapa hal yang perlu dicermati ulang dalam pembelajaran sastra di sekolah dengan menggunakan acuan kurikulum yang berlaku. Dalam kurikulum yang berlakukan di sekolah-sekolah disebutkan bahwa pengajaran sastra diarahkan pada penumbuhan apresiasi sastra para peserta didik sesuai dengan tingkat kematangan emosionalnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran sastra idealnya diarahkan pada penumbuhan apresiasi pada peserta didik.

Pengajaran sastra harus diarahkan pada kegiatan membaca karya sastra, peserta didik akrab dan menghargai karya sastra, sehingga mereka benar-benar mengalami dan masuk ke dalam ranah sastra. Tidak hanya berfokus pada peserta didik, kegiatan ini juga bertujuan agar guru memiliki kemampuan dan kapabilitas yang memadai untuk mendampingi peserta didik mengalami sastra.

Kurikulum tidak menuntut pemberlakuan satu metode tertentu dalam pembelajaran sastra. Kurikulum malah memberikan kesempatan pada guru untuk menggunakan berbagai metode secara bervariasi dalam penyajian materi tertentu, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai. Karenanya, orientasi pada pengajaran konsep teori sastra dan sejarah sastra tampaknya sudah saatnya dikurangi. Yang lebih dipentingkan saat ini tampaknya adalah pengakraban peserta didik dengan karya sastra, sehingga mereka menemukan kesenangan personal dalam membaca, mengkritik, dan mengkreasikan teks sastra.

Sastra harus terus dihidupkan dalam kegiatan pembelajaran di kelas, dipadukan dengan budaya literasi. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta melalui kegiatan membaca sastra, berupa cerpen dan novel yang sesuai untuk peserta didik. Dengan cara

ini, diharapkan mampu memotivasi peserta didik untuk membaca secara langsung karya sastra melalui kegiatan membaca terpandu, membaca mandiri, dan diskusi. Orientasi pembelajaran berfokus pada peserta didik, sehingga mereka dapat mengembangkan kepribadiannya sesuai dengan perkembangan emosional mereka yang didukung oleh kehalusan bahasa pada karya sastra.

Menghidupkan sastra melalui budaya literasi dapat juga dilakukan di luar kelas. Banyak cara dan bentuk kegiatan yang dapat dilakukan, salah satunya dengan menyediakan ruang sastra pada media-media pendidikan, seperti majalah dinding, buletin atau majalah sekolah. Peserta didik akan termotivasi untuk menulis dan mengelola sastra di lingkungan intern sekolah. Selain itu, dapat juga dengan menyelenggarakan bengkel-bengkel sastra. Kegiatan bengkel sastra ditujukan kepada peserta didik termasuk guru yang berminat belajar menulis dan mengapresiasi sastra. Hasil dari kegiatan ini adalah para peserta dapat menuangkan gagasan atau pikiran dalam bentuk tulisan-tulisan sastra kemudian mempresentasikan dan mengapresiasikannya, misalnya dalam bentuk diskusi sastra.

Sebagai representasi dari kegiatan bengkel sastra, dapat diagendakan dengan mengundang sastrawan, baik sastrawan lokal maupun sastrawan nasional, untuk turut memberikan pelatihan dan pendampingan dalam pengelolaan sastra di sekolah. Dari kegiatan ini, hasil karya para peserta dimuat dan diterbitkan pada media-media di luar media pendidikan, seperti dalam bunga rampai atau buku-buku kumpulan puisi, kumpulan cerpen dan jurnal sastra.

Daftar Pustaka

Anisa, Azmi Rizky. Dkk, 2021, Pengaruh Kurangnya Literasi serta Kemampuan dalam Berpikir Kritis yang Masih Rendah dalam Pendidikan di Indonesia, e jurnal.upi.edu, Vol. 01 N0.1.

Damir, Juliati. 2016, Problematika Pembelajaran Sastra Indonesia Kelas VIII SMP Negeri 4 Mallusetasi Kabupaten Barru, Makassar: Universitas Negeri Makassar.

Washadi. 2018, Upaya Menghidupkan Satra Melalui Budaya Literasi di SMP Negeri 8 Kota Tangerang Selatan, Jurnal Proceding Universitas Pamulang, Vol 1, No. 1.