Balada Terang yang Temaram di Perkebunan Salak di Kembang, Wonokerto

Menulis tentang budaya, identitas, dan keresahan sehari-hari. Alumnus prodi Sastra Inggris Universitas Negeri Yogyakarta.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Antonia Nesa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akses jalan yang kecil serta penerangan yang minim, menjadi saksi bisu dari peluh yang menetes bukti kerja keras para petani salak. Di hamparan perkebunan sawah, ada asa dan cita-cita yang tertoreh untuk dicapai. Namun, bagaimana dengan fasilitas infrastruktur yang kurang memadai bagi mereka? Jalanan di sepanjang perkebunan salak yang berlubang dan tidak rata, menyatu dengan lampu yang temaram di kanan dan kirinya. Kondisi ini banyak dijumpai di daerah Sleman, Yogyakarta. Salah satunya terjadi di Dusun Kembang, Wonokerto, Turi. Wilayah yang terletak di lereng barat daya Gunung Merapi ini memiliki potensi salak yang berlimpah. Bahkan hasil perkebunan ini telah diekspor ke negara-negara di Asia Tenggara seperti Kamboja. Mulai dari varietas salak pondoh, salak madu, hingga salak gading dengan kualitas terbaik, diminati oleh banyak konsumen dari berbagai daerah.
Ironisnya, hasil yang berlimpah tidak menjamin fasilitas umum yang ada. Naas, ketika melewati jalan di sepanjang perkebunan ini saat petang tiba harus ekstra hati-hati. Siapa saja yang lewat kala senja tiba, harus menyipitkan mata agar tidak terperosok oleh lubang. Sungai sebagai irigasi perkebunan salak—yang juga acap kali digunakan sebagai spot memancing warga juga membuat mereka yang lewat makin was-was. Padahal, jalan di sekitar perkebunan salak ini menjadi salah satu jalan utama bagi warga yang berlalu-lalang. Tak lupa pula dengan letaknya yang mengelilingi bumi perkemahan yang acap kali disambangi oleh rombongan anak-anak.
Hal ini yang mendasari Adhella Putri Elviera, mahasiswi KKN Non Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta ini mencanangkan pemasangan reflektor sederhana berbahan dasar bambu. Pemasangan ini ditujukan untuk menyiasati kurangnya penerangan lampu di sepanjang jalan area perkebunan salak di Dusun Kembang, Wonokerto, Turi. Bambu-bambu dengan reflektor merah terang ini berdiri sepanjang SDN Banyuurip 2 hingga Gedung Serbaguna Dusun Kembang bak penjaga yang siap melindungi masyarakat yang lewat dari risiko kecelakaan saat berkendara di malam hari akibat minimnya pencahayaan.
Pemasangan reflektor sederhana ini juga didukung pula oleh perangkat dusun seperti kepala dusun (dukuh), ketua RW, serta ketua RT di Dusun Kembang. Ani, Ibu Dukuh Dusun Kembang memaparkan bahwa salah satu permasalahan di Dusun Kembang, khususnya di area perkebunan salak adalah minimnya penerangan jalan serta jalan yang tidak rata dan mulai berlubang. Pun kebanyakan jalan di sekitar perkebunan salak di Kabupaten Sleman memang tidak rata, bahkan berlubang. Jalan yang tampak rata sekalipun, nyatanya sering kali membuat roda kendaraan bergulir tak teratur. Kurangnya fasilitas jalan yang memadai inilah yang meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan. Apalagi dengan penerangan jalan yang temaram, memperkuat faktor terjadinya kecelakaan—pun juga kejahatan. Bahkan di beberapa wilayah, hanya mengandalkan penerangan dari lampu motor dan lampu samar-samar yang berpendar dari rumah-rumah warga.
Oleh karena itu, perbaikan jalan serta penambahan fasilitas penerangan jalan sangat diperlukan sebagai penunjang efektivitas dan keselamatan warga dalam menunaikan aktivitas mereka. Bahkan penerangan dari alat dan bahan sederhana sekalipun sangat membantu dalam meningkatkan kenyamanan saat berkendara. Ini juga disampaikan oleh Ani saat ditanyai mengenai efektivitas pemasangan reflektor bambu sebagai salah satu program kerja KKNM--26218 di Dusun Kembang. “Saat malam hari, jalan jadi terlihat. Sebelumnya takut kalau terlalu ke pinggir (bisa) jatuh karena ada sungai.” ujar Ani. Ani juga berharap agar penerangan bisa sampai ke ujung area Kembang oleh karena bagian Selatan dusun yang lebih gelap dan minim pencahayaan. Masyarakat juga tak berharap banyak, mereka hanya menginginkan setidaknya penanda jalan di kiri kanan area perkebunan salak agar tidak terperosok ke sungai dan perkebunan yang penuh dengan duri tajam.
