Konten dari Pengguna

Menilik Fenomena Berkurangnya Pengguna Bahasa Daerah Seiring Perkembangan Zaman

Antonia Nesa

Antonia Nesa

Menulis tentang budaya, identitas, dan keresahan sehari-hari. Alumnus prodi Sastra Inggris Universitas Negeri Yogyakarta.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Antonia Nesa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mempelajari bahasa (Sumber: Annika Gordon dari Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mempelajari bahasa (Sumber: Annika Gordon dari Unsplash)

Era revolusi industri 4.0 telah membawa dampak besar terhadap pola perkembangan teknologi komunikasi dan informasi digital. Perubahan ini pada akhirnya menimbulkan berbagai perubahan tatanan masyarakat. Di Indonesia sendiri, salah satu hal yang cukup mengkhawatirkan adalah penurunan penggunaan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari. Kini banyak dijumpai anak-anak dan generasi muda yang tidak menggunakan bahasa daerah meski berdomisili di daerah tersebut. Mereka cenderung menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi. Bahkan tidak jarang penggunaan bahasa Indonesia ini dicampur dengan penggunaan bahasa asing, bahasa Inggris misalnya.

Lunturnya bahasa daerah oleh karena tergerus zaman serta penggunaan bahasa-bahasa lain; bahasa nasional maupun bahasa asing, tidak terjadi secara spontan. Sebaliknya, proses ini berlangsung dengan lambat dan sedikit demi sedikit. Dalam kepunahan suatu bahasa, pastilah terdapat proses yang secara perlahan dan dalam jangka waktu yang lama. Kepunahan bahasa pada akhirnya akan berakibat pada hilangnya identitas dan jati diri suatu daerah itu sendiri.

Realitas Penggunaan Bahasa di Masyarakat

Bahasa, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai suatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Dilansir dari dataindonesia.id, Indonesia dengan keberagamannya memiliki sekitar 718 bahasa daerah. Sayangnya, seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan bahasa daerah mulai luntur. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penggunanya yang semakin berkurang. Padahal keberlangsungan suatu bahasa tergantung oleh seberapa banyak penutur aslinya. Tanpa adanya penutur asli, orang asing yang berniat untuk mempelajari bahasa tersebut tidak akan berjalan dengan maksimal.

Secara nyata, fenomena berkurangnya penutur bahasa daerah dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini, cukup banyak orang tua muda yang tidak mengajarkan penggunaan bahasa daerah kepada anak-anaknya. Pun penggunaan bahasa Indonesia mulai dicampur dengan bahasa asing. Oleh karena itu, penggunaan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah yang baik dan benar juga berkurang. Hal ini sangat disayangkan karena secara sadar maupun tidak sadar dapat mengakibatkan punahnya bahasa itu sendiri. Bahasa daerah yang seharusnya menjadi keunikan bagi tiap-tiap wilayah di Indonesia, perlahan-lahan mulai tergerus. Bukan tidak mungkin bahwa satu per satu bahasa daerah akan punah jika tidak dilestarikan sedini mungkin.

Meski bahasa daerah masih menjadi bagian mata pelajaran di sekolah-sekolah, pun bila tidak dikenalkan sejak masa prasekolah, tentu akan membuat anak-anak merasa asing dan kebingungan. Terlebih dengan adanya bentuk tulisan atau aksara yang berbeda serta adanya tingkatan-tingkatan dalam penggunaan beberapa bahasa daerah. Tanpa adanya perkenalan terhadap bahasa itu sendiri, anak-anak akan cenderung enggan menggunakan bahasa daerah tersebut. Hal ini tentu akan menimbulkan menurunnya persentase penutur bahasa daerah itu. Apalagi bahasa bukanlah sekadar teori semata. Untuk dapat memahaminya, seseorang perlu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, bahasa harus digunakan secara aktif untuk berkomunikasi agar dapat melestarikannya.

Faktor Penyebab Lunturnya Bahasa Daerah

Dikutip dari laman unpad.ac.id, menurut Cece Sobarna, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, terdapat beberapa aspek yang dapat menyebabkan suatu bahasa terancam punah. Salah satunya, yaitu adanya persaingan bahasa daerah dengan bahasa nasional dan bahasa asing. Pendapat bahwa penggunaan bahasa daerah merupakan simbol keterbelakangan dan kemiskinan juga menjadi faktor suatu bahasa mulai ditinggalkan oleh penuturnya. Selain itu, Cece Sobarna berpendapat bahwa adanya anggapan kemajuan pendidikan seorang anak dapat terhambat oleh karena mengenal lebih dari satu bahasa juga mempengaruhi berkurangnya penutur bahasa daerah.

Faktor lain yang dapat menyebabkan adanya kemerosotan penutur bahasa daerah adalah munculnya bahasa gaul atau slang yang berkembang pesat dan digunakan oleh masyarakat secara luas. Dengan adanya bahasa gaul ini, orang cenderung menggunakannya karena ingin mengikuti perubahan zaman dan dianggap sebagai seseorang yang up to date. Hal ini didukung pula oleh fakta bahwa bahasa gaul maupun bahasa asing kerap kali digunakan dalam bermedia sosial. Sementara itu, informasi yang tersebar di media khususnya internet dapat menjangkau berbagai kalangan yang berbeda latar belakang sekalipun. Dengan kata lain, media juga berperan terhadap lunturnya penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Tidak dapat disangkal, penggunaan media tanpa melakukan filter dapat menggerus nilai-nilai bahasa dan budaya yang ada dalam masyarakat Indonesia yang multikultural. Apalagi saat ini banyak sekali pilihan konten-konten yang dapat ditonton. Dampak terbesarnya yaitu kepada anak-anak yang cenderung meniru apapun yang mereka lihat maupun dengar. Sebagai contoh, anak-anak usia prasekolah lebih fasih dalam berbahasa Inggris dibanding dengan bahasa daerah mereka karena konten yang sering mereka lihat. Fenomena ini cukup memprihatinkan mengingat mereka adalah calon penerus bangsa yang diharapkan dapat memajukan serta melestarikan kebudayaan Indonesia.

Padahal penggunaan bahasa daerah telah tertuang dalam peraturan perundang-undangan yang sah. Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi, "Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya," menjadi salah satu landasan bahwa bahasa dan budaya daerah harus dilestarikan. Berkaitan dengan pemeliharaan bahasa daerah juga tertuang dalam pasal yang sama, menyatakan bahwa, "Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional."

Upaya Mempertahankan Bahasa Daerah

Bahasa daerah memang dikatakan sebagai bahasa pengantar, akan tetapi dalam kaitannya sebagai warisan dan kekayaan budaya Indonesia, bahasa daerah harus dilestarikan. Dalam mengupayakan pelestarian bahasa daerah, yang dapat dilakukan, tidak lain dan tidak bukan adalah menggunakan bahasa itu sendiri. Penggunaan bahasa daerah sebaiknya diajarkan sedini mungkin, sehingga dengan begitu bahasa daerah tidak punah. Kita tidak dapat hanya mengandalkan pada jam mata pelajaran bahasa daerah di sekolah. Dalam setiap minggunya, mata pelajaran bahasa daerah setidaknya hanya memiliki waktu dua jam pelajaran atau tidak lebih dari 90 menit waktu tatap muka. Dengan itu, dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran bahasa daerah saja kurang efektif untuk melestarikan bahasa daerah, keberadaannya lebih condong sebagai penunjang dan pelengkap dalam situasi formal. Meski begitu, mata pelajaran bahasa daerah sudah sepatutnya tetap ada dalam kurikulum.

Menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kelangsungan bahasa daerah harus ditanamkan pada setiap masyarakat. Hal ini juga dapat dilakukan dengan program penggunaan bahasa daerah dan pakaian adat di setiap bulannya. Diadakannya pentas seni berbahasa daerah dan lomba-lomba yang berkaitan dengan bahasa daerah juga dapat dilakukan. Contohnya dengan diadakan pagelaran wayang dan perlombaan pidato bahasa daerah. Meski tidak akan seefektif ketika suatu bahasa diaplikasikan secara langsung dalam berkomunikasi, cara-cara yang telah disebutkan setidaknya dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa daerah.

Bukan Berarti Tidak Boleh Mempelajari Bahasa Asing

Menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari tidak dapat diartikan sebagai penghambat ketika mempelajari bahasa lain. Faktanya, bahasa nasional dan bahasa internasional banyak digunakan dalam konten-konten di media yang tentunya dapat memudahkan dalam proses mempelajarinya. Bahasa nasional dan bahasa asing kini lebih mudah dipelajari dengan mengakses video maupun aplikasi pembelajaran bahasa secara gratis. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa nasional juga digunakan secara luas, baik di lingkup masyarakat sendiri hingga dalam lingkungan pendidikan. Sementara itu, bahasa Inggris sebagai bahasa internasional maupun bahasa asing lainnya dapat dipelajari seiring berjalannya waktu. Bahkan ada baiknya kita mengenal dan mengerti bahasa sendiri terlebih dahulu sebelum mempelajari bahasa asing. Dengan begitu, kemampuan ini dapat membantu dalam mempelajari bahasa asing melalui tukar bahasa dengan penutur asli bahasa tersebut.