Menjaga Lingkungan, Menjaga Nilai Rupiah

Spesialis Teknik - Departemen Pengelolaan Aset Perumahan dan Non Perkantoran Bank Indonesia
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Nugraha Eka Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama bertahun-tahun, kita terbiasa memandang lingkungan dan ekonomi sebagai dua dunia yang berbeda. Lingkungan identik dengan hutan, sungai, emisi karbon, dan satwa liar. Sementara ekonomi identik dengan inflasi, suku bunga, nilai tukar, investasi, dan pertumbuhan. Seolah-olah keduanya berjalan di jalur masing-masing.
Padahal, di era perubahan iklim seperti sekarang, batas antara keduanya semakin tipis. Kemarau panjang yang menyebabkan gagal panen dapat menaikkan harga pangan. Banjir yang memutus jalur distribusi meningkatkan biaya logistik. Cuaca ekstrem mengganggu produksi energi dan bahan baku. Persoalan yang awalnya tampak sebagai isu lingkungan perlahan berubah menjadi persoalan ekonomi.
Dan ketika ekonomi mulai terganggu, stabilitas harga ikut terpengaruh. Pada titik itulah, lingkungan tidak lagi hanya menjadi urusan para pemerhati alam. Lingkungan menjadi bagian dari fondasi stabilitas ekonomi yang harus dijaga bersama.
Ketika Alam Menggerakkan Ekonomi
Bayangkan sebuah rumah yang atapnya mulai bocor. Setiap kali hujan turun, lantainya basah. Kita dapat terus mengepel lantai setiap hari. Namun selama atapnya tidak diperbaiki, air akan terus masuk dan pekerjaan itu tidak akan pernah selesai.
Dalam konteks ekonomi, inflasi dapat diibaratkan sebagai lantai yang basah. Bank sentral memiliki berbagai instrumen untuk mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas moneter. Namun apabila sumber gangguannya berasal dari cuaca ekstrem, gagal panen, atau kerusakan lingkungan yang menghambat produksi dan distribusi, maka persoalannya tidak cukup diselesaikan dari sisi moneter saja.
Atap yang bocor juga harus diperbaiki. Analogi ini menjelaskan bahwa menjaga stabilitas ekonomi tidak cukup hanya melalui kebijakan moneter. Ketahanan lingkungan juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga stabilitas tersebut.
Indonesia merupakan negara yang sangat bergantung pada sumber daya alam dan sektor pertanian. Karena itu, perubahan iklim memiliki dampak yang nyata terhadap kehidupan ekonomi.
Fenomena El Niño, misalnya, meningkatkan risiko terganggunya produksi berbagai komoditas pangan. Ketika produksi menurun sementara permintaan tetap tinggi, harga pangan naik. Inflasi meningkat. Daya beli masyarakat tertekan. Dunia usaha menghadapi kenaikan biaya produksi.
Pada Juli 2026, inflasi Indonesia tercatat sekitar 2,88 persen (year-on-year), masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5–3,5 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa stabilitas harga tetap terjaga di tengah berbagai tantangan global. Namun di balik angka tersebut terdapat kerja panjang berbagai pihak dalam menjaga pasokan pangan, mengelola ekspektasi inflasi, dan memperkuat koordinasi kebijakan.
Angka inflasi bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan bagaimana alam, produksi, distribusi, kebijakan, dan perilaku ekonomi saling terhubung.
Ketika Risiko Iklim Menjadi Risiko Moneter
Di sinilah peran bank sentral mengalami perkembangan. Dahulu, tugas bank sentral identik dengan menjaga inflasi dan nilai mata uang. Mandat tersebut tetap sama hingga hari ini. Namun tantangan yang dihadapi semakin kompleks.
Perubahan iklim menghadirkan risiko baru yang dapat memengaruhi stabilitas harga, stabilitas sistem keuangan, bahkan keputusan investasi.
Ketika cuaca ekstrem menyebabkan hasil panen menurun, harga pangan meningkat. Ketika banjir mengganggu rantai pasok, biaya produksi ikut naik. Ketika transisi menuju energi bersih mengubah struktur industri, sektor keuangan juga menghadapi risiko pembiayaan yang berbeda dibandingkan sebelumnya.
Artinya, perubahan iklim tidak lagi berhenti sebagai isu lingkungan. Ia telah menjadi bagian dari risiko makroekonomi.
Karena itulah banyak bank sentral di dunia mulai memasukkan risiko iklim ke dalam analisis stabilitas keuangan dan kebijakan makroekonomi. Bank Indonesia pun mengambil langkah melalui pengembangan pembiayaan berkelanjutan, pendalaman pasar keuangan hijau, serta penguatan koordinasi dengan pemerintah, OJK, industri keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Bukan karena Bank Indonesia berubah menjadi lembaga lingkungan hidup. Melainkan karena menjaga stabilitas moneter pada masa kini tidak dapat dilepaskan dari kemampuan ekonomi menghadapi risiko iklim.
Bank sentral memang tidak menanam pohon. Namun ketika perubahan iklim memicu inflasi, mengganggu rantai pasok, atau meningkatkan risiko sektor keuangan, bank sentral ikut merasakan dampaknya melalui mandat yang diembannya.
Menjaga Lingkungan untuk Masa Depan Ekonomi
Sering kali ekonomi hijau dipahami hanya sebagai upaya mengurangi emisi karbon atau menanam lebih banyak pohon. Padahal maknanya jauh lebih luas.
Ekonomi hijau adalah membangun sistem ekonomi yang tetap mampu tumbuh tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Artinya, pembangunan tidak lagi hanya mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut efisien dalam menggunakan sumber daya, tahan terhadap berbagai guncangan, dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Investasi pada energi terbarukan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang rentan terhadap gejolak harga. Pertanian yang lebih adaptif menjaga pasokan pangan ketika cuaca berubah. Bangunan hemat energi menekan konsumsi listrik dan biaya operasional. Transportasi yang lebih efisien memperkuat konektivitas sekaligus mengurangi emisi.
Semua itu terlihat sebagai kebijakan sektoral. Namun jika dirangkai, semuanya bermuara pada satu tujuan yang sama: menciptakan ekonomi yang lebih tangguh. Dan ekonomi yang tangguh merupakan fondasi bagi stabilitas moneter.
Pandangan tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang menempatkan pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan sosial sebagai tujuan yang saling melengkapi. Ekonomi hijau mendukung SDG 13 (Climate Action), memperkuat SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui pertumbuhan yang berkualitas, mendorong SDG 7 (Affordable and Clean Energy) lewat transisi energi, memperkuat SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui inovasi berkelanjutan, serta mendukung SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui pembangunan kota dan bangunan yang lebih efisien.
Dalam kerangka tersebut, Bank Indonesia bukanlah pelaksana seluruh agenda SDGs. Namun mandatnya menjaga stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan kelancaran sistem pembayaran merupakan fondasi penting agar pembangunan berkelanjutan dapat berlangsung dengan baik.
Tanpa stabilitas harga, dunia usaha akan menunda investasi. Tanpa sistem keuangan yang sehat, pembiayaan proyek hijau menjadi lebih mahal. Tanpa kepercayaan terhadap perekonomian, transisi menuju ekonomi rendah karbon akan menghadapi hambatan yang jauh lebih besar.
Mungkin selama ini kita terlalu sering memisahkan lingkungan dan ekonomi. Padahal keduanya saling menopang.
Lingkungan yang sehat menjaga produktivitas pertanian. Produktivitas yang terjaga membantu mengendalikan inflasi. Inflasi yang stabil meningkatkan kepastian dunia usaha. Kepastian mendorong investasi. Investasi menciptakan lapangan kerja. Lapangan kerja meningkatkan kesejahteraan. Dan kesejahteraan yang berkelanjutan merupakan tujuan utama pembangunan.
Di situlah lingkungan, nilai rupiah, dan pembangunan berkelanjutan bertemu. Bukan karena pohon dapat menguatkan kurs mata uang secara langsung, melainkan karena lingkungan yang lestari membantu menciptakan perekonomian yang lebih stabil, lebih produktif, dan lebih tangguh menghadapi berbagai guncangan.
Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya tentang melindungi hutan, sungai, atau udara yang kita hirup. Ia juga tentang menjaga sawah tetap produktif, rantai pasok tetap berjalan, harga tetap stabil, investasi terus tumbuh, dan perekonomian tetap tangguh menghadapi berbagai tantangan.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang masa depan rupiah, sesungguhnya kita juga sedang berbicara tentang masa depan lingkungan. Sebab nilai sebuah mata uang tidak hanya dibangun oleh angka-angka di pasar keuangan, tetapi juga oleh kekuatan fondasi ekonomi yang menopangnya. Dan salah satu fondasi terpenting itu adalah lingkungan yang kita jaga bersama.
