Konten dari Pengguna

Scrolling Tanpa Henti, Diam-Diam Melukai: Fenomena Doomscrolling pada Gen Z

Nur Afifah

Nur Afifah

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nur Afifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber :  https://www.pexels.com/id-id/foto/smartphone-hitam-2447046/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : https://www.pexels.com/id-id/foto/smartphone-hitam-2447046/

Di era digital yang terus berkembang, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, khususnya bagi Generasi Z. Kemudahan akses informasi yang ditawarkan platform seperti TikTok, Instagram, dan Twitter membawa berbagai manfaat, namun di sisi lain juga memunculkan pola konsumsi konten dan fenomena yang mengkhawatirkan. Salah satu fenomena yang kini semakin mendapat perhatian para peneliti adalah fenoena doomscrolling, yaitu kebiasaan menelusuri konten negatif secara terus-menerus di media sosial meski individu menyadari bahwa hal tersebut berdampak buruk bagi kondisi psikologisnya.

Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan sepele. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa doomscrolling memiliki kaitan erat dengan meningkatnya kecemasan, stres, dan gangguan tidur, terutama pada kelompok usia muda. Di Indonesia, kondisi ini semakin relevan mengingat tingginya penetrasi internet dan besarnya populasi Gen Z yang aktif di ruang digital. Artikel ini membahas apa itu doomscrolling, mengapa generasi Z paling rentan, serta langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk melindungi kesehatan mental di tengah derasnya arus informasi digital.

Apa Itu Doomscrolling?

Doomscrolling adalah kebiasaan menelusuri konten negatif secara berulang-ulang di media sosial atau platform berita, bahkan ketika kita sadar bahwa itu membuat kita merasa buruk. Istilah ini bukan hanya tren internet, ia kini semakin sering dikaji secara serius dalam dunia psikologi.

Secara psikologis, doomscrolling muncul dari mekanisme yang sangat manusiawi: ketidakpastian. Saat dunia terasa tidak terkendali, ekonomi goyang, situasi politik panas, atau sekadar takut ketinggalan informasi, otak kita secara naluriah mencari rasa aman melalui informasi. Logikanya sederhana: kalau aku tahu apa yang terjadi, aku bisa bersiap. Namun ironisnya, riset menunjukkan justru sebaliknya terjadi: semakin banyak berita negatif yang dikonsumsi, semakin tinggi pula tingkat stres dan kecemasan yang dirasakan (Shabahang et al., 2024). Alih-alih merasa lebih siap, otak justru terus berada dalam kondisi siaga dan mendorong kita untuk terus mencari pembaruan berikutnya.

Platform media sosial dengan fitur infinite scroll, layar yang tidak pernah habis, memperkuat pola ini. Tidak ada sinyal alami untuk berhenti. Algoritma dirancang untuk terus menyajikan konten yang memancing reaksi emosional kita, karena reaksi emosional berarti lebih lama di aplikasi, dan itu berarti lebih banyak iklan terjual.

Angka yang Mengkhawatirkan

Masalah ini bukan sekadar keresahan antar-teman. Data berbicara lebih keras. Menurut Universitas Airlangga, lebih dari 31 juta penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental, dengan 19 juta di antaranya mengalami gangguan emosional dan 12 juta menderita depresi (Wahyu Waseso & Wibowo, 2026). Kondisi ini memperlihatkan betapa seriusnya ancaman kesehatan mental di negeri kita.

Survei Nielsen Youth Report 2025 menemukan bahwa 64 persen anak muda Indonesia berusia 18 hingga 25 tahun tidak memiliki kejelasan arah hidup, meski mereka aktif di dunia digital dan sedang menempuh pendidikan tinggi. Di saat yang sama, lebih dari 38 persen tenaga kerja profesional di Indonesia mengaku mengalami stres berat atau kelelahan emosional , sebuah kondisi yang kini dikenal dengan istilah burnout.

Penelitian dari Universitas Negeri Semarang memperlihatkan hubungan yang signifikan antara waktu yang dihabiskan untuk doomscrolling dan meningkatnya kecemasan. Mahasiswa yang lebih sering melakukan kebiasaan ini melaporkan tingkat kecemasan yang jauh lebih tinggi. Sebuah studi dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (2024) juga menemukan bahwa doomscrolling mempengaruhi kesejahteraan psikologis secara negatif, dimediasi oleh distres psikologis yang menumpuk seiring waktu (Firmansyah & Ardelia, 2026).

Gen Z: Paling Terbuka, Paling Rentan

Ada paradoks menarik di sini. Generasi Z, mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012, adalah generasi yang paling terbuka membicarakan kesehatan mental. Mereka yang ramai membuat konten soal anxiety, berbagi pengalaman terapi di media sosial, dan membangun komunitas dukungan online. Namun berbagai studi menunjukkan bahwa Gen Z justru mengalami tingkat stres dan kecemasan tertinggi dibanding generasi sebelumnya (Nirmalawati & Qurniyawati, 2025).

Faktor penyebabnya berlapis. Ada tekanan akademik yang tidak pernah benar-benar lepas. Ada ketidakpastian karier di tengah pasar kerja yang makin kompetitif. Ada fenomena quarter-life crisis, yaitu masa kecemasan yang dirasakan saat seseorang berada di ujung kuliah dan awal dewasa, bingung antara ekspektasi diri sendiri dan realita yang ada. Dan di atas semua itu, ada media sosial yang tanpa henti menyajikan gambaran kehidupan orang lain yang terlihat sempurna.

Fenomena ini disebut comparison culture, budaya membandingkan. Kita melihat teman yang baru lulus dan langsung kerja di perusahaan bergengsi. Kita melihat orang yang umurnya sama sudah keliling Eropa. Semuanya tersaji dalam satu layar, dalam hitungan detik. Dan tanpa sadar, kita mulai bertanya: kenapa hidupku tidak seperti itu?

Lingkaran Setan yang Sulit Diputus

Yang membuat doomscrolling berbahaya bukan hanya kontennya, tapi mekanisme psikologisnya. Para peneliti menyebutnya digital fatigue theory dan uses and gratifications theory, pada dasarnya, kita menggunakan media sosial untuk memenuhi kebutuhan emosional, tapi justru semakin kelelahan secara mental.

Penelitian yang melibatkan 78 responden Gen Z berusia 18 hingga 25 tahun menemukan bahwa mayoritas peserta berada pada kategori doomscrolling sedang hingga tinggi. Dorongan utamanya adalah rasa ingin tahu, kebutuhan untuk selalu update, dan ketertarikan emosional terhadap konten negatif. Dampaknya nyata: meningkatnya kecemasan dan stres, kelelahan mental, serta gangguan tidur yang serius.

Ada juga yang disebut FOMO, atau Fear of Missing Out, rasa takut ketinggalan. Penelitian terbaru tahun 2025–2026 menunjukkan bahwa FOMO, yang diperkuat oleh algoritma scroll cepat di TikTok, mendorong perilaku kompulsif seperti doomscrolling dan memperparah tekanan emosional (Firmansyah & Ardelia, 2026).

Brain Rot: Ketika Otak Belajar Malas Berpikir

Ada istilah lain yang mulai ramai dibahas: brain rot. Berbeda dari doomscrolling yang soal konten negatif, brain rot lebih bicara soal kualitas konten yang dikonsumsi secara masif. Video 15 detik, reels lucu, meme, konten receh yang tidak membutuhkan pemikiran. Semuanya menyenangkan, tapi lama-lama melemahkan kemampuan otak untuk fokus pada hal yang lebih panjang dan mendalam.

Algoritma media sosial memicu perulangan konsumsi tanpa henti yang didorong oleh dopamin , zat kimia di otak yang memberi rasa senang sesaat. Otak menjadi kecanduan pada kepuasan instan dari notifikasi dan konten baru. Akibatnya, membaca satu artikel panjang terasa berat. Duduk diam selama sepuluh menit tanpa ponsel terasa hampir mustahil.

Tapi Ada Kabar Baik

Di tengah semua gambaran suram ini, ada alasan untuk tidak putus asa. Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di Indonesia sedang naik signifikan. Empat dari sepuluh anak muda kini mengaku pernah berkonsultasi ke psikolog atau mengikuti kegiatan self-care dalam setahun terakhir , sebuah perubahan budaya yang luar biasa jika dibandingkan satu dekade lalu.

Platform digital seperti Riliv, Mindtera, dan Bicarakan.id kini menyediakan layanan konseling online dengan harga terjangkau. Sebagian bahkan bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Gerakan seperti Into The Light Indonesia aktif mendorong literasi kesehatan mental di kalangan muda.

Langkah Kecil yang Bisa Dimulai Hari Ini

Para ahli psikologi menyarankan beberapa langkah praktis untuk mulai memutus siklus doomscrolling dan merawat kesehatan mental di era digital.

Pertama, latih kesadaran diri. Sadari apa yang kamu rasakan saat mengakses media sosial. Apakah kamu merasa lebih baik atau lebih buruk setelah 30 menit scrolling? Kesadaran adalah langkah pertama sebelum perubahan bisa terjadi.

Kedua, coba pagi rendah dopamin. Hindari layar ponsel setidaknya 30 menit setelah bangun tidur. Otak yang diawali dengan ketenangan akan lebih siap menghadapi hari.

Ketiga, batasi penggunaan aplikasi. Gunakan fitur screen time di ponsel dan patuhi batas waktu harian untuk media sosial.

Keempat, pilah informasi yang dikonsumsi. Pilih sumber berita yang terpercaya, baca secara mendalam daripada sekadar headline, dan berani untuk unfollow atau mute akun yang konsisten membuat kamu merasa buruk.

Kelima, jangan takut mencari bantuan. Berbicara dengan psikolog bukan tanda kelemahan. Itu tanda kamu cukup kuat untuk mengakui bahwa kamu manusia biasa yang butuh dukungan.

Penutup

Kita hidup di era di mana dunia ada di genggaman tangan, dan itu luar biasa. Tapi kita juga hidup di era di mana dunia bisa menekan masuk ke dalam kepala kita kapan saja, siang atau malam, tanpa izin. Doomscrolling adalah salah satu cara paling diam-diam untuk membiarkan hal itu terjadi.

Perubahan besar sering kali dimulai dari langkah yang sangat kecil. Dalam hal ini, sesederhana meletakkan ponsel dan memilih untuk beristirahat, bukan dari dunia, tapi dari kebisingannya.

oleh Nur Afifah, Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog.