Dosen UM Surabaya Kembangkan Aplikasi Hipertensi Bagi Lansia Berbasis Digital

Bidan homecare baby massage, perawatan ibu nifas Serta BBL dan Tenaga Kependidikan Laboran di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari nur aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tim dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) mengembangkan aplikasi berbasis Digital Health bernama ‘Lansia Sehat’ untuk membantu keluarga memantau tekanan darah anggota keluarga lanjut usia secara mandiri dari rumah. Aplikasi ini merupakan hasil program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Posyandu Lansia Harapan Sehat, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya.
Program tersebut dijalankan dengan dukungan Hibah Riset Muhammadiyah (RisetMu) Batch IX Tahun 2025/2026 yang diselenggarakan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Tim pelaksana diketuai Pipit Festy Wiliyanarti, dengan anggota Erie Kresna Andana dan Uswatun Hasanah, serta dua mahasiswa, Valencia Bilqis Mawilos dan Muhammad Dodik Prayogi.
Ketua tim pengabdian, Pipit Festy Wiliyanarti, mengatakan, hipertensi menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada kelompok lanjut usia. Di Jawa Timur, prevalensi hipertensi tercatat 36,3%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
”Hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena gejalanya tidak selalu tampak, tetapi dampaknya bisa fatal, mulai dari stroke, gagal jantung, hingga kerusakan ginjal. Pemantauan tekanan darah yang berkelanjutan menjadi kunci pencegahan,” kata Pipit, akhir pekan lalu.
Berdasarkan analisis situasi yang dilakukan tim, sistem pemantauan kesehatan lansia di Posyandu Harapan Sehat selama ini masih bergantung pada kegiatan rutin bulanan yang dilakukan kader. Kondisi itu menyebabkan celah pemantauan yang cukup lebar karena perubahan tekanan darah lansia di rumah tidak terdokumentasi. Pencatatan manual melalui buku Kartu Menuju Sehat juga kerap tidak efektif akibat risiko hilang atau rusak.
Persoalan itu diperberat oleh rendahnya literasi kesehatan sebagian besar caregiver atau anggota keluarga yang mendampingi lansia di rumah. Banyak dari mereka belum memahami makna angka sistolik dan diastolik pada tensimeter, meski umumnya sudah memiliki perangkat telepon pintar. ”Hasil kuesioner awal menunjukkan, keluarga selama ini kebanyakan hanya berperan sebagai pengingat minum obat, tanpa memahami pentingnya jadwal pemeriksaan yang presisi,” ujar Pipit.
Fitur peringatan dini
Aplikasi Lansia Sehat dirancang dengan sejumlah fitur, antara lain pencatatan tekanan darah harian, grafik tren tekanan darah selama tujuh dan 30 hari, klasifikasi tekanan darah mengacu pada standar Joint National Committee 7 (JNC-7), serta sistem peringatan dini berbasis kode warna yang mudah dipahami masyarakat awam.
”Dengan kode warna, keluarga tidak perlu lagi kesulitan menafsirkan angka tekanan darah. Mereka cukup melihat kategori warnanya untuk mengetahui apakah kondisi tersebut normal atau perlu segera mendapat penanganan tenaga kesehatan,” kata Pipit.
Dalam pelaksanaannya, tim menemukan tantangan berupa kecemasan sebagian caregiver terhadap teknologi digital, sehingga pendampingan dilakukan lebih personal dan berulang dibandingkan rencana awal. Variasi spesifikasi perangkat milik warga juga menuntut penyesuaian teknis agar aplikasi tetap stabil digunakan.
Kader Posyandu Harapan Sehat berperan aktif dalam pelaksanaan program, mulai dari sosialisasi, mobilisasi peserta, hingga memberi masukan terkait desain antarmuka aplikasi. Sejumlah kader juga bersedia dilatih menjadi admin lokal untuk mengelola sistem pemantauan tersebut secara mandiri.
Ke depan, tim akan melanjutkan pendampingan intensif selama dua bulan agar keluarga terbiasa mencatat tekanan darah harian dan merespons notifikasi pengingat minum obat. Evaluasi dampak program akan dilakukan melalui kuesioner dan diskusi kelompok terarah bersama kader dan caregiver.
