Konten dari Pengguna

"Hubungan Mengejutkan Antara Anxiety dan Penyakit Asam Lambung"

nur aini

nur aini

Bidan homecare baby massage, perawatan ibu nifas Serta BBL dan Tenaga Kependidikan Laboran di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari nur aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi gerd dan anxiety. foto by: freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi gerd dan anxiety. foto by: freepik.com

Di era modern yang serba cepat ini, keluhan lambung dan gangguan kecemasan seolah menjadi dua patner yang sulit dipisahkan. Banyak orang datang ke dokter penyakit dalam dengan keluhan dada terbakar dan sesak napas, namun setelah diperiksa secara fisik, kondisi lambungnya tidak separah sensasi yang dirasakan. Di sisi lain, banyak orang juga sedang berjuang dengan gangguan kecemasan (anxiety) yang tiba-tiba merasakan perutnya melilit atau mual yang hebat.

Kondisi ini bukanlah kebetulan, hubungan antara Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dan Anxiety adalah salah satu manifestasi paling nyata dari konsep medis yang disebut sebagai Gut-Brain Axis atau poros otak-lambung. Memahami hubungan ini bukan hanya soal mengobati fisik, tapi juga tentang bagaimana kita berdamai dengan pikiran.

Apa Itu Lingkaran Setan GERD-Anxiety?

Secara medis, GERD terjadi ketika katup antara kerongkongan dan lambung melemah atau rileks secara tidak tepat, sehingga asam lambung naik ke kerongkongan. Gejala fisiknya nyata yaitu nyeri dada (heartburn), rasa pahit di mulut, hingga sesak napas.

Namun, mengapa kecemasan bisa terjadi? Ketika seseorang mengalami anxiety, otak mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh tubuh. Hal ini mengaktifkan sistem saraf simpatik yang memicu respons fight-or-flight. Dalam kondisi ini, tubuh secara otomatis mengalihkan energi dari sistem pencernaan ke otot dan jantung. Akibatnya, proses pencernaan terganggu, produksi asam lambung bisa meningkat, dan otot-otot di sekitar perut menegang.

Inilah yang disebut "Lingkaran Setan":

1. Seseorang mengalami gejala GERD, misalnya sesak napas.

2. Pikiran menginterpretasikan sesak napas ini sebagai ancaman nyawa, misalnya takut serangan jantung.

3. Ketakutan ini memicu kecemasan (anxiety).

4. Anxiety meningkatkan sensitivitas saraf dan memperburuk kerja lambung.

5. Gejala GERD semakin parah, dan siklus pun berulang.

Peran Neurotransmitter dan Hipersensitivitas Viseral

Salah satu alasan mengapa penderita anxiety merasakan gejala GERD lebih menyakitkan. Dalam kondisi cemas, ambang batas nyeri seseorang menurun. Artinya, jika pada orang normal kenaikan sedikit asam lambung tidak terasa apa-apa, pada orang dengan kecemasan, hal tersebut bisa terasa seperti luka bakar yang hebat di dada.

Hal ini berkaitan dengan zat kimia di otak dan usus kita. Tahukah Anda bahwa sekitar 90% serotonin yaitu hormon "bahagia" dan pengatur suasana hati, sebenarnya diproduksi di saluran pencernaan? Jika keseimbangan kimiawi di perut terganggu oleh GERD, sinyal ke otak pun akan kacau, yang kemudian memicu perasaan cemas atau depresi.

Gejala yang Sering Menipu

Penting bagi kita untuk mengenali bahwa gejala GERD dan Panic Attack (serangan panik) seringkali tumpang tindih. Keduanya bisa menyebabkan:

a. Detak jantung cepat (palpitasi).

b. Sesak napas atau rasa tercekik.

c. Nyeri dada yang tajam.

d. Keringat dingin dan pusing.

Banyak pasien yang sudah melakukan EKG (rekam jantung) berkali-kali dan hasilnya normal, namun tetap merasa ketakutan. Di sinilah diagnosis yang tepat menjadi kunci. Jika pengobatan lambung konvensional tidak kunjung menyembuhkan gejala, maka faktor psikologis wajib diperiksa.

Strategi Pemulihan Holistik

Untuk memutus lingkaran setan ini, pendekatan yang dilakukan tidak boleh hanya satu arah. Berikut adalah langkah-langkah yang disarankan:

1. Manajemen Diet dan Gaya Hidup

Tetap menjadi pilar utama yaitu menghindari makanan pemicu seperti pedas, asam, kafein berlebih yang bisa membantu mengurangi beban fisik pada lambung.

2. Psikoterapi Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

Therapy yang sangat efektif untuk melatih otak agar tidak langsung panik saat merasakan sensasi fisik di lambung. Pasien diajarkan bahwa "sesak karena lambung tidak akan membuat saya berhenti bernapas."

3. Teknik Relaksasi dan Pernapasan

Latihan pernapasan diafragma tidak hanya menenangkan pikiran, tetapi juga secara fisik membantu memperkuat otot sfingter di bawah kerongkongan.

4. Farmakoterapi Jika Diperlukan

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan antidepresan dosis rendah atau anti-kecemasan bukan untuk mengobati gangguan jiwa, melainkan untuk "menenangkan" saraf-saraf di saluran pencernaan.

Tips Praktis 5 Menit: Menghadapi GERD-Anxiety

Jika kamu tiba-tiba merasakan sensasi terbakar yang disertai rasa panik, coba lakukan langkah darurat ini:

1. Pernapasan Kotak (Box Breathing):

Tarik napas 4 detik, tahan 4 detik, buang 4 detik, tahan 4 detik. Ini mengirim sinyal ke otak bahwa "kita aman."

2. Posisi Tubuh

Berdiri atau duduk tegak. Jangan berbaring karena akan memudahkan asam lambung naik lebih tinggi.

3. Alihkan Perhatian (Teknik 5-4-3-2-1):

Sebutkan 5 benda yang kamu lihat, 4 suara yang kamu dengar, 3 tekstur yang bisa diraba, 2 bau yang tercium, dan 1 rasa di lidah. Ini memutus fokus otak dari rasa cemas.

GERD dan Anxiety adalah pengingat bahwa tubuh kita bukanlah sekumpulan organ yang terpisah-pisah. Apa yang terjadi di pikiran akan bergema di lambung, dan apa yang dirasakan lambung akan memengaruhi ketenangan pikiran. Dengan menangani keduanya secara bersamaan, kita tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.