Candi Borobudur, Jejak Sejarah dengan Makna di Setiap Bagian Bangunannya

Saya Nur Anisa Febrianti Mahasiswi Universitas Pamulang Jurusan Ilmu Komunikasi. Tertarik pada dunia media, komunikasi, dan fenomena sosial di era digital.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nur Anisa Febrianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Candi Borobudur merupakan salah satu peninggalan sejarah yang menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia. Berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, candi ini dikenal melalui bentuk bangunannya yang bertingkat, relief yang menghiasi dinding, serta deretan stupa yang berada di bagian atas.
Ketika melihat Candi Borobudur dari kejauhan, bangunannya tampak seperti susunan teras yang semakin mengecil ke arah atas. Bagian bawah berbentuk persegi, sedangkan bagian atas memiliki pelataran berbentuk lingkaran. Di bagian paling tinggi terdapat sebuah stupa utama yang dikelilingi oleh sejumlah stupa lainnya.
Bentuk tersebut membuat Candi Borobudur memiliki ciri khas tersendiri. Namun, susunan bangunan tersebut bukan hanya berkaitan dengan keindahan arsitektur. Setiap bagian memiliki makna yang berkaitan dengan perjalanan kehidupan dan spiritual dalam ajaran Buddha.
Candi Borobudur diperkirakan dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi pada masa Dinasti Syailendra. Pembangunannya berkaitan dengan perkembangan agama Buddha Mahayana di Jawa pada masa Mataram Kuno.
Tidak banyak catatan yang menjelaskan secara lengkap mengenai proses pembangunan Borobudur. Namun, berdasarkan penelitian terhadap bangunan dan berbagai peninggalan yang terdapat di dalamnya, candi ini diperkirakan dibangun secara bertahap menggunakan batu andesit yang disusun hingga membentuk bangunan bertingkat.
Dalam perjalanan sejarahnya, Borobudur sempat mengalami masa ketika keberadaannya tidak lagi mendapat perhatian dan bangunannya tertutup oleh tanah serta tumbuhan. Pada awal abad ke-19, keberadaan candi kembali mendapat perhatian setelah ditemukan kembali pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles.
Setelah ditemukan kembali, berbagai upaya dilakukan untuk membersihkan, meneliti, dan menjaga kondisi bangunan. Proses pemugaran kemudian dilakukan secara bertahap agar Candi Borobudur tetap dapat dipertahankan sebagai salah satu peninggalan sejarah.
Jika diperhatikan lebih dekat, bentuk bangunan Candi Borobudur terdiri dari beberapa tingkatan. Bagian bawah hingga tengah memiliki teras berbentuk persegi dengan dinding yang dipenuhi relief. Sementara pada bagian atas terdapat tiga pelataran berbentuk lingkaran yang dihiasi stupa.
Perubahan bentuk dari bagian bawah menuju bagian atas tersebut menjadi salah satu hal yang menarik dari Borobudur. Bagian bawah terlihat lebih padat dengan dinding dan relief, sedangkan bagian atas terlihat lebih terbuka dengan susunan stupa yang mengelilingi stupa utama.
Secara simbolis, bangunan Candi Borobudur terbagi menjadi tiga bagian yang dikenal sebagai Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Ketiganya menggambarkan tingkatan kehidupan manusia dalam konsep kosmologi Buddha.
Kamadhatu merupakan bagian paling bawah yang menggambarkan kehidupan manusia yang masih dipengaruhi oleh keinginan dan nafsu duniawi. Pada bagian ini terdapat relief Karmawibhangga yang menggambarkan berbagai perbuatan manusia beserta akibat yang ditimbulkannya.
Setelah melewati bagian bawah, terdapat Rupadhatu yang menjadi bagian tengah Candi Borobudur. Bagian ini terdiri atas teras-teras berbentuk persegi yang dihiasi relief dan arca Buddha.
Relief pada bagian tersebut menggambarkan berbagai cerita yang berkaitan dengan kehidupan Buddha, perjalanan manusia, serta nilai-nilai kehidupan. Bagian ini secara simbolis menggambarkan tahap ketika manusia mulai melepaskan diri dari keterikatan terhadap keinginan duniawi, tetapi masih berada dalam kehidupan yang memiliki bentuk.
Sementara itu, bagian paling atas disebut Arupadhatu. Bentuknya berbeda dari bagian bawah karena tidak lagi dipenuhi oleh relief. Pada bagian ini terdapat tiga pelataran berbentuk lingkaran yang dihiasi stupa terawang.
Arupadhatu menggambarkan alam tanpa bentuk. Secara simbolis, bagian ini berkaitan dengan tahap ketika manusia mulai meninggalkan keterikatan terhadap kehidupan duniawi dan menuju tingkat spiritual yang lebih tinggi.
Selain bentuk bangunannya, relief menjadi bagian penting yang dapat ditemukan di Candi Borobudur. Pahatan pada dinding candi tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga menggambarkan berbagai cerita dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Beberapa relief menggambarkan kisah kehidupan Buddha, cerita Jataka dan Avadana, serta berbagai ajaran yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Relief Karmawibhangga pada bagian bawah juga menggambarkan hubungan antara perbuatan dan akibat yang diterima manusia.
Relief Borobudur juga memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat pada masa lalu. Bentuk rumah, pakaian, kendaraan, tumbuhan, hewan, hingga aktivitas masyarakat dapat ditemukan dalam pahatan yang menghiasi dinding candi.
Keberadaan relief tersebut membuat Candi Borobudur tidak hanya memiliki nilai keagamaan dan seni, tetapi juga memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat pada masa ketika candi tersebut dibangun.
Stupa menjadi salah satu bagian yang paling mudah dikenali dari Candi Borobudur. Pada tiga pelataran berbentuk lingkaran di bagian atas terdapat 72 stupa terawang yang tersusun mengelilingi stupa utama.
Stupa-stupa tersebut memiliki bentuk menyerupai lonceng dengan lubang-lubang pada bagian dindingnya. Di dalam stupa terawang terdapat arca Buddha, sedangkan stupa utama berada di bagian tengah dan memiliki ukuran yang lebih besar.
Susunan stupa tersebut menjadi bagian dari konsep keseluruhan Candi Borobudur. Semakin menuju bagian atas, bentuk bangunan menjadi semakin terbuka dan sederhana dibandingkan dengan bagian bawah yang dipenuhi relief.
Saat berkunjung secara langsung, pengunjung dapat melihat detail bangunan yang mungkin tidak terlihat ketika hanya melihat Candi Borobudur melalui foto. Dari bagian bawah, susunan teras dan relief dapat diamati dengan lebih jelas, sedangkan dari bagian atas deretan stupa terlihat semakin menonjol.
Pemandangan di sekitar kawasan juga menjadi bagian dari pengalaman berkunjung. Dari beberapa bagian candi, pengunjung dapat melihat kawasan sekitar Borobudur serta perbukitan dan pegunungan yang berada di sekitarnya.
Candi Borobudur pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat sebagai sebuah bangunan bersejarah dengan ukuran yang besar. Bentuk bangunan, relief, arca, dan stupa di dalamnya memiliki cerita yang berkaitan dengan sejarah, kebudayaan, seni, serta kehidupan keagamaan masyarakat pada masa lalu.
Dengan memahami makna di balik bentuk dan susunan bangunannya, kunjungan ke Candi Borobudur dapat memberikan pengalaman yang berbeda. Pengunjung tidak hanya melihat kemegahan sebuah peninggalan sejarah, tetapi juga dapat mengenal cerita dan nilai yang tersimpan di balik bangunan yang telah bertahan selama berabad-abad.
