Konten dari Pengguna

Penderita Disleksia Bukanlah Anak Bodoh

NUR ANISAH TASYA UFAIRAH

NUR ANISAH TASYA UFAIRAH

Mahasiswi Fakultas Kedokteran UIN Sarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NUR ANISAH TASYA UFAIRAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : https://cdn.pixabay.com/photo/2017/12/12/08/50/dyslexia-3014152_1280.jpg
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : https://cdn.pixabay.com/photo/2017/12/12/08/50/dyslexia-3014152_1280.jpg

Halo teman-teman, ternyata hingga saat ini masih banyak loh yang beranggapan bahwa kecerdasan seseorang didasari oleh seberapa tinggi nilai akademik yang dimilikinya, semakin tinggi nilainya maka semakin pintar orangnya. Tapi apakah anak yang memiliki nilai akademik rendah merupakan anak yang bodoh?

Fakta nya tidak semua anak memiliki nilai yang sama loh. Ada yang memiliki nilai akademik tinggi ada juga yang memiliki nilai akademik rendah. Masih banyak loh orang tua yang beranggapan bahwa anaknya bodoh hanya karena anaknya tidak memiliki nilai akademik tinggi tanpa tahu alasan mengapa anaknya memiliki nilai akademik rendah.

Tahukah kamu bahwa di dunia ini terdapat kelainan yang bisa menyebabkan seorang anak sulit dalam mengingat huruf, membaca, berhitung, bahkan berbicara?

Kelainan ini dinamakan disleksia. Disleksia adalah gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan, dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat. Banyak orang yang berpikir bahwa penderita disleksia merupakan anak yang malas dan bodoh karena tidak dapat membaca menulis ataupun mengeja dengan benar.

Kalian tahu enggak banyak loh penderita disleksia yang tidak menyadari dirinya mengidap disleksia hingga usianya beranjak dewasa. Wajar saja jika hal itu terjadi karena penderita disleksia sulit dideteksi pada anak yang belum bersekolah karena disleksia tidak memberikan dampak pada fisik.

Tahukah kamu bahwa tanda dan gejala dari disleksia dapat berupa kesulitan dalam mengingat serta memahami huruf, sering terbalik mengucapkan kata kata, sulit dalam berbicara, bingung membedakan kanan dan kiri, tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu, dan masih banyak lagi.

Walaupun disleksia merupakan kelainan yang tidak dapat disembuhkan, terapi dan penanganan dini terbukti efektif loh dalam meningkatkan kemampuan membaca penderita disleksia. Salah satu metode yang paling efektif adalah fonik. Metode fonik bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi suara.

Nah, jika kamu menemukan seorang anak yang susah dalam memahami huruf, sulit membaca, atau bahkan susah dalam berbicara sebaiknya harus segera diberi penanganan seperti membawanya ke dokter anak, psikiater anak, atau dokter ahli tumbuh kembang anak. Karena pengobatan akan lebih efektif apabila dilakukan sesegera mungkin.

Jadi teman-teman, penderita disleksia bukanlah anak yang bodoh ya. Walaupun penderita disleksia memerlukan waktu lebih untuk bisa memahami huruf, membaca, dan berbicara dengan lancar bukan berarti penderita disleksia tidak bisa melakukan hal-hal normal seperti anak pada umumnya. Penderita disleksia juga perlu mendapatkan pendidikan yang layak dan kesempatan yang sama dengan anak-anak normal lainnya. Banyak loh anak disleksia yang berhasil hidup sukses seperti Leonardo da Vinci, sang pencipta Mona Lisa dan pelukis The Last Supper. Selain itu ada juga Albert EInstein si penemu teori relativitas ini ternyata juga seorang penderita disleksia loh. Ini membuktikan bahwa penderita disleksia juga bisa sukses dengan cara nya masing-masing.

Referensi

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/?term=dyslexia&filter=simsearch2.ffrft&filter=datesearch.y_5

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dyslexia/symptoms-causes/syc-20353552

https://www.alodokter.com/disleksia

http://repository.upy.ac.id/407/1/artikel%20kristiantini.pdf