Konten dari Pengguna

Investasi untuk Pemula: Sebelum Klik Beli, Pahami Dulu Dasarnya!

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nur Fauziyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi gambar panduan investasi saham dan analisis investasi untuk pemula. (sumber: https://pixabay.com/id/illustrations/keuangan-uang-bisnis-mata-uang-8045002/)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi gambar panduan investasi saham dan analisis investasi untuk pemula. (sumber: https://pixabay.com/id/illustrations/keuangan-uang-bisnis-mata-uang-8045002/)

Memulai investasi untuk pemula bisa menjadi langkah awal yang mendebarkan sekaligus menantang. Sebelum Anda terburu-buru mengeklik tombol beli, sangat penting untuk melakukan analisis investasi dasar secara mandiri. Memahami instrumen populer seperti investasi saham memerlukan bekal pengetahuan yang kuat agar modal yang Anda tanamkan bisa berkembang dengan aman dan optimal.

Buka aplikasi, isi saldo, klik beli. Semudah itu orang sekarang berinvestasi, tapi analisis investasi sering terlewat begitu saja. Kemudahan ini memang bagus karena makin banyak anak muda yang mau belajar mengelola uang. Hanya saja, satu hal masih sering ketinggalan: paham dulu, baru beli.

Di grup chat dan media sosial, obrolan soal "saham yang lagi naik" gampang sekali ditemukan. Banyak orang membeli karena melihat teman untung atau takut ketinggalan. Masalahnya, keputusan yang diambil karena ikut-ikutan biasanya sulit dipertanggungjawabkan ketika harga turun. Di sinilah analisis investasi dibutuhkan, yaitu proses menilai sebuah instrumen dari berbagai informasi sebelum uang kita taruh di sana.

Sebelum menghitung apa pun, tentukan dulu tujuan dan jangka waktunya. Dana untuk uang muka rumah dua tahun lagi tentu tidak bisa diperlakukan sama seperti dana pensiun dua puluh tahun lagi. Uang yang mungkin dibutuhkan dalam waktu dekat sebaiknya tidak ditaruh di instrumen yang harganya naik turun tajam, karena kita bisa terpaksa menjual saat sedang rugi.

Konsep pertama yang perlu dipahami adalah return dan risiko. Return adalah hasil dari investasi, bisa berupa kenaikan harga atau dividen. Misalnya, saham dibeli Rp2.000 lalu dijual Rp2.200, berarti untungnya 10%. Namun angka itu baru separuh cerita. Risiko menunjukkan seberapa besar kemungkinan hasilnya meleset dari perkiraan. Menurut Bodie, Kane, dan Marcus (2018), hasil yang tinggi biasanya datang bersama risiko yang tinggi. Jadi, kalau ada tawaran untung besar tanpa risiko, sebaiknya curiga dulu.

Ada juga nilai waktu uang. Rp10 juta hari ini lebih berharga daripada Rp10 juta tiga tahun lagi, karena uang yang ada sekarang bisa dikembangkan, sementara harga barang cenderung naik dari tahun ke tahun. Karena itu, kita perlu melihat kapan uang keluar dan kapan hasilnya diterima. Keuntungan 5% per tahun juga tidak terlalu terasa kalau inflasinya 3%.

Untuk memilih saham, ada dua pendekatan yang umum dipakai. Analisis fundamental menilai kesehatan perusahaan lewat laporan keuangan, laba, utang, dan prospek industrinya. Mirip seperti mengecek omzet dan utang sebuah warung sebelum kita membelinya. Analisis teknikal membaca pergerakan harga dan volume perdagangan lewat grafik. Menurut saya, keduanya bisa saling melengkapi. Fundamental berguna untuk memilih perusahaan, sedangkan teknikal bisa jadi bahan pertimbangan kapan waktu yang pas untuk membeli. Tetap saja, tidak ada yang bisa memastikan harga esok hari.

Konsep berikutnya adalah diversifikasi, yaitu menyebar dana ke beberapa instrumen. Gampangnya, jangan taruh semua telur dalam satu keranjang. Kalau seluruh uang ada di satu saham dan harganya jatuh, dampaknya langsung besar. Tapi perlu diingat, diversifikasi tidak menghapus risiko. Ia hanya mengurangi risiko yang berasal dari satu aset saja, sedangkan risiko pasar tetap ada.

Coba bayangkan seorang mahasiswa yang punya uang Rp5 juta. Ia tidak langsung membeli saham yang direkomendasikan di media sosial. Ia menentukan tujuan dulu, menyisihkan dana cadangan, lalu mempelajari beberapa perusahaan. Setelah itu, ia membeli secara bertahap dan tidak menaruh semuanya di satu tempat. Langkahnya sederhana, tapi keputusannya jadi punya alasan.

Pada akhirnya, tidak ada metode yang menjamin untung. Meski begitu, orang yang paham dasarnya akan lebih tenang saat harga turun dan tidak gampang terbawa rumor. Jadi, sebelum klik beli, coba tanya diri sendiri: uang ini untuk apa, dan apakah saya bisa menjelaskan alasan membelinya dengan kata-kata sendiri?

Anisa fasa Aulia, Bintang Anggoro kasih, Dina Rahmadania, Nur Fauziyah, Risma Armita Chindi Betmaya. Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang