Mahasiswa UM BBM Turut Lestarikan Tradisi Totta'an Dherah di Desa Ranuagung

Mahasiswa S1 Biologi Universitas Negeri Malang.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nur Intan Permata Hati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Probolinggo – Kepakan sayap burung merpati memenuhi langit Desa Ranuagung, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, pada Minggu (12/7). Sekitar 1.000 ekor merpati terlatih diterbangkan secara serentak dalam tradisi Totta'an Dherah, menghadirkan pemandangan yang memukau sekaligus menjadi simbol kebersamaan masyarakat yang terus menjaga warisan budaya lokal.

Tradisi Totta'an Dherah telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Desa Ranuagung. Selain menjadi budaya, tradisi ini juga hiburan yang dinantikan warga, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi bagi komunitas pecinta merpati dari berbagai desa. Tahun ini, sebanyak 20 peserta mengikuti kegiatan dengan membawa masing-masing satu sangkar berisi sekitar 50 ekor merpati, sehingga total burung yang diterbangkan mencapai sekitar 1.000 ekor.
Berbeda dengan pelepasan burung pada umumnya, merpati yang digunakan dalam Totta'an Dherah merupakan merpati terlatih. Burung-burung tersebut memiliki kemampuan mengenali arah pulang menuju kandang asalnya. Setelah terbang mengitari langit, setiap merpati akan kembali ke rumah pemiliknya masing-masing, meskipun berasal dari desa yang berbeda. Kemampuan tersebut diperoleh melalui latihan dan perawatan yang dilakukan secara rutin oleh para penghobi.
Sejak pagi, masyarakat dari berbagai kalangan telah memadati lokasi kegiatan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua tampak antusias menyaksikan proses pelepasan. Saat pintu-pintu sangkar dibuka secara bersamaan, ribuan merpati langsung membumbung tinggi, membentuk formasi yang menghiasi langit Desa Ranuagung. Sorak kagum dan tepuk tangan masyarakat mengiringi momen tersebut, sementara banyak warga mengabadikannya melalui kamera ponsel.
Lebih dari sekadar pertunjukan, Totta'an Dherah menjadi wadah mempererat hubungan antarpenghobi merpati. Para peserta memanfaatkan kesempatan ini untuk saling bertukar pengalaman mengenai cara merawat, melatih, hingga menjaga kualitas merpati peliharaan mereka. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap hidup berkat peran aktif masyarakat yang terus melestarikannya.
Kegiatan Totta'an Dherah tahun ini juga mendapat perhatian dari Tim Universitas Negeri Malang (UM) Belajar Bersama Masyarakat (BBM) Desa Ranuagung. Kehadiran mahasiswa tidak hanya untuk mendokumentasikan jalannya kegiatan, tetapi juga membantu memperkenalkan salah satu kekayaan budaya Desa Ranuagung melalui publikasi digital agar dapat dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Sebagai bentuk apresiasi kepada para peserta, panitia penyelenggara, kepala desa, dan tim UM BBM Desa Ranuagung Totta'an Dherah juga membagikan berbagai doorprize melalui undian. Momen tersebut disambut antusias oleh para peserta dan masyarakat yang masih memadati lokasi hingga acara berakhir. Suasana penuh keakraban semakin terasa ketika peserta saling memberikan ucapan selamat kepada para pemenang.
Bagi Tim UM BBM Desa Ranuagung, tradisi seperti Totta'an Dherah menjadi potensi budaya yang penting untuk didokumentasikan dan dipublikasikan. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi media pelestarian sekaligus memperkenalkan identitas budaya Desa Ranuagung kepada generasi muda.
Di balik ribuan merpati yang kembali menuju kandang masing-masing, Totta'an Dherah menyimpan makna tentang kebersamaan, kesetiaan, dan semangat menjaga tradisi. Kolaborasi antara panitia, komunitas pecinta merpati, masyarakat, serta Tim UM BBM Desa Ranuagung menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan tradisi, tetapi juga melalui dokumentasi dan publikasi agar nilai-nilai budaya lokal tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
