‘Aku 98 Tahun dan Menolak Mengemis’


Engkong Sariah

Engkong Sariah, pengemudi bajaj berusia 98 tahun. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
Matahari terasa panas kala itu. Bak berjarak hanya satu jengkal dari ujung kepala. Asap polusi kendaraan yang berlalu-lalang mengepul di pangkalan bajaj Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat. 
Di sudut pangkalan, Engkong masih setia menanti calon penumpangnya. Menunggu dan menunggu. Sesekali melambaikan tangannya menawarkan tumpangan ke orang-orang yang melintas. Dari kejauhan saya menghampiri sosok renta ini.
"Keliling Jakarta yuk Kong," sahut saya seraya mendekat. 
Wajahnya yang muram langsung tersenyum lebar. Dirinya sontak bersemangat menganggukkan kepala ketika saya hendak menggunakan jasanya. Tanpa berpikir panjang saya pun naik ke dalam bajaj yang menjadi tambatan hidupnya.

Engkong Sariah

Engkong Sariah mengemudi bajaj tanpa lelah. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
Nama Engkong rupanya sudah melekat sejak lama dalam diri pria yang sudah memasuki usia senja itu. Saat saya tanya nama aslinya, tak begitu jelas dia menyebutkan, "Sariah, kurang lebih begitulah diejanya," ujarnya. 
Nama Engkong didapatkan dari teman-teman sesama pengemudi bajaj yang kemudian menuakan dirinya yang kini berusia genap 98 tahun. 
Tak memiliki siapa-siapa lagi di Jakarta, Engkong hanya menumpang di tempat sang empunya bajaj di daerah Pulogadung, Jakarta Timur. Istrinya telah berpulang enam tahun silam.
Engkong hanya mengharapkan kebaikan sang majikan, pemilik bajaj yang memberikannya tempat berlindung dari panas, hujan, dan sekedar untuk beristirahat usai berkeliling ibu kota seharian penuh.
"Sedih saya, anak udah nggak sayang sama orang tua, saya kalau ingat itu kadang-kadang suka nangis sendiri," ucap Engkong sambil menyeka air mata.
Memasuki usia senja, Engkong hanya tinggal seorang diri. Dia menceritakan, keempat anaknya di kampung tak bersedia mengurus Engkong yang sudah renta. Mereka tak peduli lagi dengan nasib ayahnya.
"Dulu saya ngurusin anak cucu, giliran saya udah tua mereka enggak mau ngurusin," katanya dengan suara bergetar.
Saat Engkong sakit, dirinya hanya bisa pulang kampung untuk menemui salah satu dari 12 cucunya yang setia merawatnya.

Engkong Sariah

Engkong Sariah, fokus mengemudikan bajajnya. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
Bersama Engkong, saya mengelilingi ibukota. Pelan sekali dirinya mengemudi. Tak ayal sesekali kendaraan di belakang kami membunyikan klakson karena bajaj Engkong melaju begitu lambat. Tangan kirinya sudah tak kuat lagi menarik tuas kopling dan persneling. Engkong membutuhkan kedua tangannya hanya untuk menarik satu kopling untuk memindahkan persneling.
Matanya pun terkadang terasa perih. Tak henti-hentinya dia mengusap kedua matanya ketika asap Metro Mini dan Kopaja mengepul di sepanjang jalan yang dilalui. Engkong terpaksa harus bersahabat dengan polusi udara ibukota setiap hari.

Engkong Sariah

Engkong Sariah mengusap peluh di dahinya. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
Engkong masih ingat betul, semua berawal sejak perantauannya ke Jakarta tahun 1953 dulu. Jakarta masih asri dan sejuk. Dari beternak bebek di kampung hingga pergi ke Jakarta, dirinya mengaku pernah menarik becak saat perantauannya tahun 70-an.
"Masih banyak delman dan becak. Beda dengan sekarang, jalanannya semakin macet," ujar pria kelahiran tahun 1919 silam ini. 
Di usia senjanya, Engkong memilih menarik bajaj ketimbang mengemis di pinggir jalan. Sehari dia bisa mendapatkan Rp 50-70 ribu hasil kerja kerasnya mengantarkan penumpang sampai tujuan. Jika dihitung, satu hari Engkong bisa mendapatkan 3-8 penumpang. Kadang kala, Engkong tak mendapatkan pelanggan satu pun. Hanya sedih yang bisa dirasakan saat rezeki enggan mendekat.

Aku 98 tahun dan tidak mau mengemis. Nggak sampai hati mau ke situ (mengemis) masih ada perasaan malu kalau ngemis

- Engkong Sariah

Tak terasa kami telah bercakap cakap setengah jam tanpa henti. Mulai dari Stasiun Gambir, Gereja Katedral, Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, hingga hampir sampailah perjalanan kami ke tujuan awal, Stasiun Gondangdia. 
Berangkat dengan semangat untuk mencari penghidupan inilah yang membuat Engkong memilih tetap mengemudikan bajajnya di tengah teriknya ibukota.  "Ya sedih, untuk makan hari itu uangnya nggak ada, kalau nggak narik bagaimana bisa makan?" ucapnya.
Engkong memilih tak mengemis. Tak tega dengan dirinya sendiri bila harus meminta belas kasihan orang lain. Pria yang sebentar lagi memasuki usia 100 tahun itu lebih rela tak mendapatkan satu penumpang pun asal tak mengemis di pinggir jalan. Bisa bertahan hidup dengan jerih payah sendiri, sudah cukup bagi Engkong.
Di usianya yang sudah senja, Engkong tetap memiliki keinginan terpendam. Sesekali dia bernostalgia, ingin kembali ke masa mudanya ketika masih memiliki tenaga yang kuat untuk bekerja sehari-hari. Satu keinginan terbesarnya saat ini, yakni tak ingin merepotkan banyak orang, Engkong masih ingin mengumpulkan uang untuk hidupnya dan biaya saat sewaktu-waktu jatuh sakit.

Engkong Sariah

Senyum Engkong Sariah pengemudi bajaj. (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)


NewsInspirasiMenolak MengemisBajajEngkong

Comment

Jadi inget sama tokoh Brooks di Shawshank Redemption. Menghabiskan waktu 50 tahun lebih di penjara dan baru bebas setelah usia renta. Brooks kemudian mendapat pekerjaan sebagai kasir swalayan. Tapi Brooks telah kelewat tua, tangannya tak lagi cekatan. Kota yang kian padat dan kendaraan yang seliweran melaju cepat, Brooks tak lagi tahan. Di penjara, ia adalah orang terhormat: penjaga perpustakaan dan tahanan lain mendengarkan pendapatnya. Di luar tembok itu, Brooks hanyalah sampah. Suatu hari, ia betul-betul tak lagi tahan. Brooks kemudian memilih gantung diri. Kata Red, salah seorang karibnya di penjara yang diperankan dengan apik oleh Morgan Freeman, Brooks telah 'terinstitusionalisasi' kehidupan penjara. Apapun itu, Brooks telah pergi sesuai dengan kehendaknya. Semoga demikian pula dengan Engkong!


|

    Engkong kereen luar biasa... semangat kerjamu kong... bak cahaya yg tak pernah pudar. Sangat memotivasi...👍👍


    |

      Hormatku padamu, Engkong! Engkong luar biasa!


      |

        luar biasa sekali ini kakek, semoga berkah kek...


        |

          Semangat Engkong... Sedih dengar cerita anak Engkong yang ga mau ngerawat :(


          |

            semngt engkong sangat luar biasa. prihatin krn anak2nya enggan nerawat.


            |

              Sedih bgt sih di usia senja harusnya kakek tua ini sudah bisa beristirahat di rumah tidak perlu lagi bekerja tapi ia masih menarik bajaj demi kelangsungan hidup. Tega sekali anak cucunya tidak ada satupun yg memperdulikan beliau. Ya Tuhan kiranya kakek tua ini kau permudah rezekinya😢


              |

                Teharu banget pas baca cerita dari Engkong. Di usia senjanya, ia tidak merasakan kehidupan tenang seperti kakek pada umurnya. Ia harus mencari uang, hidup sebatang kara, dan merasakan teriknya Ibu Kota. Tetapi Anaknya kok tega ya membiarkan Engkok berjuang sendirian?


                |

                  senmpat terasa sakit hati pas bacanya sedih entah mengapa masih ada orang seusianya yang terus bekerja mencari uang demi makan sehari hari, dimana balas kasih seorang anak kepada orangtuanya, diusianya yang sudah senja ,kulit yang semakin keriput, mata yang mungkin sudah tidak lagi awas, dan tenaga yang kian lama terus berkurang seharusnya dia menikmati masa tuanya dengan bahagia dan menikmati hidup bersama para cucunya. semoga semangatmu menjadi berkah dan terus bisa memperpanjang umurmu kong, sehat selalu dan terus semangat menjalani kerasnya kehidupan di ibukota ini😇🙏


                  |
                  • Melanie Saskia

                    @zafran abis baca story ini gw terharu banget sih. mungkin harus jadi motivasi baru buat kita2 generasi muda, kalo kerja itu gak ada batesan umur. gw malah bukan berpikir "harusnya engkong di rumah nikmatin waktu sama keluarga bahagia dll", tapi sisi positifnya adalah sehat dan gak pikun karena masih berinteraksi dengan banyak orang. saluteee!


                    |

                  ya ampun, gue sering ngeliat beliau di deket stasiun gondangdia


                  |

                    Related Stories

                    Recommendations

                    Giri Marhara, Hidup Berkubang Sampah
                    18 13
                    Wiji Thukul: Melawan dan Menghilang
                    14 1
                    INSIDE: Denyut Penjara Perempuan Tangerang
                    5 0
                    Jejak Habib di Indonesia
                    5 6
                    Penyambung Lidah Para Presiden
                    9 8
                    Kritik dan Aplaus untuk Klub-klub Sepak Bola yang Berganti Logo
                    5 6
                    Perdagangan Film Biru di Kawasan Glodok: Keping DVD dan Flashdisk
                    4 1
                    VIDEO: Mengenang Wiji Thukul
                    9 1
                    Habib Rizieq Mengaku Hanya Melakukan Koreksi Soal Logo Palu Arit
                    0 0
                    Mantan Wamen Nyupir, Why Not?
                    27 19