Kumparan Logo

Wabah Campak di Bangladesh Tewaskan 999 Anak

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang anak yang menderita campak menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Dhaka, Bangladesh, Senin (7/9/2026). Foto: Stringer/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang anak yang menderita campak menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Dhaka, Bangladesh, Senin (7/9/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Bangladesh tengah menghadapi wabah campak terburuk sepanjang sejarah negara itu. Sejak Maret 2026, tercatat 999 kematian akibat campak yang terkonfirmasi maupun diduga kuat terkait penyakit ini, sementara rumah sakit kewalahan menampung pasien anak yang terus berdatangan.

Padahal, Moms, dulu Bangladesh sempat berada di ambang eliminasi campak. Menurut data Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), Bangladesh kini bahkan menjadi negara dengan wabah campak terbesar di dunia.

Bagaimana Wabah Ini Bisa Terjadi?

Seorang anak yang menderita campak menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Dhaka, Bangladesh, Senin (7/9/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Reuters melansir, para ahli kesehatan menyebut penyebab utamanya adalah gangguan program imunisasi rutin pada 2024-2025, saat Bangladesh dilanda gejolak politik pascapenggulingan Perdana Menteri Sheikh Hasina. Perubahan kebijakan pengadaan vaksin di bawah pemerintahan sementara turut memicu kelangkaan stok, sementara program vaksinasi campak-rubella nasional yang sedianya berjalan pada 2024 sempat ditunda, dan kampanye lanjutannya pada 2025 dibatalkan.

Akibatnya, banyak anak—terutama bayi di bawah usia sembilan bulan yang secara medis belum cukup umur untuk mendapat vaksin rutin—menjadi rentan tertular.

Data Kementerian Kesehatan Bangladesh mencatat lebih dari 166.000 kasus dugaan campak sejak Maret, dengan 19.835 di antaranya terkonfirmasi lewat pemeriksaan laboratorium. Lebih dari 146.000 pasien harus dirawat inap. Menariknya, kelompok balita menyumbang sekitar 80 persen kasus pada masa-masa awal penyebaran wabah.

Seorang epidemiolog sekaligus mantan direktur Institute of Epidemiology, Disease Control and Research, Profesor Mahmudur Rahman, mengungkapkan bahwa sepanjang pengetahuannya, belum pernah ada begitu banyak anak Bangladesh yang meninggal akibat campak dalam satu tahun. Ia menyebut situasi ini sangat memprihatinkan karena para korban adalah anak-anak.

Rumah Sakit Kelebihan Kapasitas

Seorang anak yang menderita campak menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Dhaka, Bangladesh, Senin (7/9/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Kondisi makin berat karena wabah campak ini berbarengan dengan lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD). Tahun ini, lebih dari 45.000 orang dirawat karena DBD, dengan sembilan kematian dan 1.571 kasus rawat inap baru tercatat dalam satu hari pada awal September—angka tertinggi tahun ini.

Salah satu rumah sakit rujukan di Dhaka bahkan merawat pasien hingga hampir dua kali lipat dari kapasitas normalnya. Banyak pasien anak terpaksa dirawat di lantai karena kekurangan tempat tidur, ditambah lagi kelangkaan cairan infus (saline) untuk anak yang memperparah keadaan.

Curhat para Orang Tua yang Anaknya Positif Campak

Seorang anak yang menderita campak menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Dhaka, Bangladesh, Senin (7/9/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Di balik data-data ini, ada kisah nyata para orang tua yang berjuang mencari pertolongan untuk anak mereka. Seorang ibu bernama Nasima Begum (35) menceritakan anak bungsunya yang berusia 13 bulan tertular campak sekitar dua bulan lalu. Ia sempat ditolak di empat rumah sakit karena penuh, sebelum akhirnya mendapat perawatan selama 10 hari—namun hingga kini sang anak masih sering demam berulang.

Begum bercerita, anaknya sempat melewatkan jadwal vaksinasi karena sedang sakit. Saat kembali ke posyandu untuk vaksinasi susulan, ia justru diberi tahu stok vaksin habis. Padahal keempat kakak si bayi semuanya mendapat imunisasi lengkap sesuai jadwal.

Orang tua lain, Mohammad Ripon, menuturkan putrinya yang berusia delapan bulan mengalami ruam dan gejala mirip campak tak lama usai keluar dari rumah sakit karena penyakit lain, memaksa keluarganya berpindah-pindah fasilitas kesehatan demi mendapat jawaban yang jelas.

Upaya Penanggulangan

Seorang anak yang menderita campak menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Dhaka, Bangladesh, Senin (7/9/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Pemerintah Bangladesh telah meluncurkan kampanye vaksinasi darurat sejak April 2026, menyasar sekitar 18 juta anak usia 6 bulan hingga di bawah 5 tahun. Hingga kini, lebih dari 19,7 juta anak sudah divaksinasi. Meski begitu, para ahli menegaskan penguatan imunisasi rutin dan program kejar vaksinasi masih sangat dibutuhkan untuk benar-benar menutup celah kekebalan di masyarakat.