Tradisi Ogoh-Ogoh Dalam Menciptakan Kerukunan Hindu Islam Desa Linggoasri

Mahasiswa UIN KH. ABDURRAHMAN WAHID PEKALONGAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
Tulisan dari Nurlailati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ogoh-ogoh menjadi suatu hal yang mewujudkan kerukunan antara umat Hindu dan Islam yang ada di desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Tradisi ini biasa dilakukan saat menjelang hari suci nyepi yang kemudian ogoh-ogoh akan diarak beramai-beramai mengelilingi desa saat akan menjelang senja atau biasanya setelah maghrib. Di desa Linggo pertunjukan ogoh-ogoh mulai dilaksanakan pada tahun 1980-an yang pada saat itu masyarakatnya masih memeluk agama Hindu.

Ogoh-ogoh yang terbuat dari bahan kayu serta bahan lainnya yang dirangkai menyerupai patung yang berukuran besar dan menakutkan atau bisa disebut raksasa dan menjadi simbol unsur negatif, sifat buruk, dan kejahatan yang ada di lingkungan sekitar. Tujuannya untuk membersihkan atau mensucikan lingkungan setempat. Pada saat ogoh-ogoh diarak ditujukan pada roh-roh jahat yang ada diarea lingkungan dapat disucikan dengan dibakar pada saat ogoh-ogoh selesai diarak.
Di desa Linggo terdapat banyak agama khusus nya agama Hindu dan agama Islam. Dan desa Linggo juga menjadi desa moderasi beragama karena memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Pada saat hari suci nyepi dan tedapat tradisi-tradisi sakral pada agama Hindu khususnya tradisi ogoh-ogoh sikap yang ditunjukan oleh masyarakat desa Linggo yang beragama Islam menanggapinya dengan positif dan menyikapinya dengan baik bahwa pertunjukan ogoh-ogoh dijadikan sebagai pelengkap ibadah yang umat Hindu jalani, serta mengekspresikan bahwa ogoh-ogoh menjadi warisan budaya yang memiliki nilai-nilai sosial.
Dengan adanya pertunjukan ogoh-ogoh seluruh masyarakat desa Linggo baik yang beragama Hindu sendiri maupun yang beragama Islam dapat berbaur menjadi satu dan hal itu dapat menciptakan kerukunan antara umat yang berbeda agamanya. Tidak hanya itu Masyarakat desa Linggo yang beragama Islam juga ikut andil seperti menyumbang kertas bekas untuk pembuatan ogoh-ogoh, menyumbang makanan atau minuman, serta menyumbang dana untuk pembuatan ogoh-ogoh sampai pada membantu jalannya pertunjukan ogoh-ogoh. Dan seluruh masyarakat desa Linggo pun merasa senang dan terhibur dengan adanya tradisi tersebut karena desa Linggo menjadi ramai juga desa Linggo sendiri juga termasuk daerah yang dikelilingi oleh hutan rimbun dan pepohonan serta jauh dari kota. Masyarakat desa Linggo sendiri juga menganggap bahwa dengan adanya pertunjukan ogoh-ogoh ini mendatangkan suatu daya tarik tersendiri pada wisatawan dan media-media yang meliput jalannya pertunjukan.
Nurlailati, mahasiswa Sarjana Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan.
