Darurat Literasi Berbahasa Inggris: Tantangan SDM Menuju Indonesia Emas 2045

Saat ini saya adalah seorang mahasiswa program studi Psikologi S1 di Universitas Pembangunan Jaya.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Nur Muhammad Adnan Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu dari visi 4 pilar Indonesia emas 2045 yang ingin ditetapkan oleh presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo selama masa jabatannya yaitu salah satunya adalah "pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi" (Jamilah et al., 2024). Namun, untuk mencapai keberhasilan pembangunan bangsa tentunya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia itu sendiri.
Kemampuan bahasa inggris merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seberapa berkualitasnya sumber daya manusia (SDM). Literasi berbahasa inggris adalah salah satu indikator penting dalam mengukur kemampuan sumber daya manusia (SDM) suatu negara untuk bersaing di kancah global, terutama negara-negara ASEAN yang dimana bahasa Inggris merupakan bukan bahasa utama mereka.
Pada era globalisasi ini, menguasai bahasa inggris bukan hanya suatu nilai tambahan, tetapi juga kebutuhan dasar untuk bersaing terhadap persaingan internasional. Sebagaimana pernyataan Society for Human Resource Management (SHRM) dalam Larasati (2022), yang dimana terdapat perwakilan sekitar 258,000 anggota dari 165 negara, sumber daya manusia (SDM) saat ini memiliki salah satu tantangan utama, yaitu pertumbuhan atau persaingan talenta.
Rendahnya Literasi Bahasa Inggris di Indonesia
Tantangan yang harus dihadapai oleh negara Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 salah satunya adalah kemampuan berbahasa Inggris dari kebanyakan masyarakat yang ada di Indonesia bisa dikatakan cukup memprihatinkan. Hal ini menimbulkan dampak signifikan terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia, terutama dalam aspek daya saing, inovasi, dan adaptabilitas di pasar kerja global.
Berdasarkan English Proficiency Index (EPI) tahun 2025 yang di ambil dari EF Education First (2025) menunjukkan bahwa tingkat kemampuan bahasa Inggris di Indonesia cenderung rendah di kategori "low proficiency", yaitu Indonesia merupakan peringkat ke-80 dari 123 negara dalam kemahiran berbahasa inggris. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia secara umum masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing di tingkat global.
Jika melihat negara tetangga lainnya (ASEAN), yang dimana bahasa Inggris bukanlah bahasa utama ataupun terdapat bahasa lokal lainnya yang digunakan oleh negara tersebut seperti Malaysia dan Filipina, mereka memiliki suatu kondisi lingkungan yang disebut sebagai "lingua franca", hal ini merupakan bentuk contoh dimana bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa keseharian dan sebagai bahasa komunikasi antar etnis di dalam negara yang memiliki banyak bahasa lokal lainnya (additional language) (Kirkpatrick, 2015). Oleh karena itu, kedua negara tersebut masih memiliki kemahiran berbahasa Inggris yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara Indonesia, dengan tingkat english proficiency index pada negara Filipina menunjukkan peringkat ke-28, dan negara Malaysia berada di peringkat ke-24 dari 123 negara (EF Education First, 2025).
Dampak Negatif Rendahnya Literasi Bahasa Inggris
Penguasaan bahasa Inggris dapat mempengaruhi kemampuan individu dalam mengakses peluang kerja, melibatkan diri dalam pelatihan internasional, dan berkolaborasi dengan rekan kerja dari berbagai negara. Dalam konteks sumber daya manusia (SDM) di Indonesia, rendahnya kemampuan berbahasa Inggris ini dapat menghambat daya saing tenaga kerja di pasar global.
Rendahnya tingkat literasi bahasa Inggris berdampak negatif pada kemampuan masyarakat untuk mengakses informasi ilmiah dan teknologi terkini yang sebagian besar tersedia dalam bahasa inggris. Misalnya, jurnal-jurnal akademik internasional serta publikasi di bidang sains dan teknologi umumnya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama (Crystal, 2003). Ketidakmampuan mengakses informasi ini memperlambat inovasi dan pengembangan SDM di sektor-sektor strategis.
