IPK Tinggi, Etika Rendah: Cerminan Krisis Akhlak di Dunia Kampus?

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nur Sujannah Munandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Dia memang pintar, IPK-nya juga tinggi, tapi sayang akhlaknya kurang.”
Pernah denger ucapan seperti itu? Atau mungkin kamu punya temen yang seperti itu? Otaknya encer, tapi sayangnya adabnya sangat minim. Astaghfirullah.
Sebagian mahasiswa terlalu terobsesi dengan nilai dan IPK tinggi, ingin tampil aktif di depan dosen dan menjadi lulusan terbaik. Tapi sayangnya kerap melupakan pentingnya etika, yang sejatinya jauh lebih berharga daripada sekedar nilai mata kuliah.
Sejak kecil, pasti kita telah diajarkan nilai sopan santun baik oleh orang tua maupun guru. Dibimbing untuk saling menghargai, menghormati, dan tata cara bertutur kata yang baik. Tapi, apakah kamu menyadari bahwa di era modern ini krisis akhlak justru semakin terlihat, terutama di kalangan mahasiswa?.
Mahasiswa seharusnya menjadi golongan yang lebih sadar dan peduli akan pentingnya akhlak dan adab. Tapi faktanya, tak sedikit yang meremahkannya. Contoh sederhananya yakni memotong penjelasan dosen, berbicara dengan nada tinggi atau bahkan cuek saat dosen sedang berbicara. Ini semua tanda bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu sejalan dengan kecerdasan emosional dan moral.
Kita sering denger ungkapan “ al-adabu fauqol ‘ilmi” yang artinya, adab itu diatas ilmu. Tak heran jika banyak dosen yang lebih menghargai mahasiswa yang berakhlak mulia meski belum terlalu pintar, daripada yang pintar tapi kurang ajar. Artikel ini akan membahas beberapa faktor yang menyebabkan hilangnya akhlak mahasiswa, serta etika dasar yang seharusnya diterapkan dalam berinteraksi dengan dosen.
Mengapa Akhlak Mahasiswa Bisa Hilang?
Menurut Ahmad Muntaha dalam artikelnya “Pentingnya Akhlak dalam Pendidikan”, penyebab utama merosotnya akhlak adalah faktor internal mahasiswa itu sendiri. Mereka mungkin menganggap akhlak tidak penting, sehingga meremehkannya.
Selain itu, beberapa faktor eksternal juga turut berperan diantaranya yakni:
1. Lingkungan Pertemanan
Lingkungan sangat berpengaruh bagi pembentukan moral mahasiswa. Jika dikelilingi dengan teman-teman toxic, tidak mengedepankan akhlak dan hobi meremehkan orang. Maka tak lama ia akan terbawa arus buruk. Maka dari itu, penting memilih teman yang baik agar tidak ikut terjerumus dalam perilaku negatif.
2. Latar Belakang Keluarga
Tidak semua mahasiswa datang dari lingkungan keluarga yang harmonis. Ada yang membawa luka batin akibat perceraian, kekerasan verbal, atau trauma lainnya yang tanpa sadar dilampiaskan dalam bentuk perilaku kasar di lingkungan kampus.
3. Pengaruh Media Sosial
Media sosial menjadi salah satu dampak dari perkembangan teknologi yang bisa menginspirasi atau bahkan menyesatkan penggunanya. Banyaknya konten yang berseliweran tanpa filter dapat mengikis akhlak, terlebih jika mahasiswa tidak punya benteng nilai yang kuat.
Etika Mahasiswa terhadap Dosen: Mengacu pada KH. Hasyim Asy’ari
Dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya K.H. Hasyim Asy’ari, terdapat beberapa adab murid terhadap guru yang sangat relevan diterapkan mahasiswa terhadap dosen:
1. Mengucapkan salam terlebih dahulu
Selain mendapat pahala. Mengucapkan salam adalah bentuk doa keselamatan dan penghormatan terhadap dosen.
2. Tidak Banyak Berbicara di Depan Dosen
Terlalu banyak menyela atau berbicara saat dosen menjelaskan tentu bisa dianggap tidak sopan. Bahkan bisa membuat dosen kecewa dan merasa tidak dihargai. Hal ini bisa menjadi faktor ketidakberkahan ilmu seseorang karena terhalang dengan ridha dosennya.
3. Tidak Mengobrol dengan Teman saat Dosen Mengajar
Salah satu kewajiban mahasiswa adalah menyimak dan mendengarkan dengan seksama penjelasan dosen. Akan tetapi, sebagian mahasiswa lebih sibuk dengan ponselnya atau malah ngobrol dengan teman sebelahnya. Ini adalah bentuk ketidakhormatan yang harus dihindari.
Mahasiswa Hebat adalah yang Berakhlak
Sebagai mahasiswa, seharusnya kita paham bahwa akhlak adalah pondasi penting, bukan hanya pelengkap. Jangan sekali-kali menganggap atau memperlakuka dosen seperti teman sebaya, karena di balik ilmu yang mereka berikan, ada tanggung jawab dan keberkahan yang bisa hilang bila kita bersikap seenaknya.
Krisis akhlak bukan sekedar isu, tapi realitas yang nyata disekitar kita. Jika kamu tidak mulai menanamkan dan menguatkan nilai-nilai moral dalam dirimu sendiri, maka bersiaplah menghadapi dunia yang penuh kekacauan ini.
Saaatnya kita menjadi mahaasiswa yang tak hanya unggul secara intelektual, tapi juga Tangguh secara moral. Bukan hanya cerdas pikirannya tapi juga mulia akhlaknya. Karena sejatinya, gelar tak akan berarti tanpa akhlak yang memuliakan pemiliknya.
