Generasi Fobia Politik

Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Program Studi Ilmu Komunikasi. Fokus pada Broadcasting. Suka membaca dan menulis. Usia 20 tahun berasal dari Masamba ,Sulawesi Selatan
Tulisan dari Nur Rahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Berbicara mengenai politik sebagian orang ada yang meringis dan tidak mempedulikannya sama sekali. Politik kerapkali dipandang sebagai pekerjaan yang kotor atau bahkan sebagian orang menganggap politik sebagai tempat para pejabat memanfaatkan kekuasaan untuk memperkaya diri. Akibat timbulnya perspektif ini partisipasi anak muda terhadap politik mulai menurun. Jika ada isu-isu yang berkaitan dengan masalah politik, kebanyakan dari mereka memilih untuk diam ketimbang menyuarakan aspirasi.
Sebelum lebih jauh membahas pentingnya partisipasi anak muda dalam berpolitik, terlebih dahulu kita pahami apa yang dimaksud dengan politik. Menurut Aristoteles politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama, sedangkan menurut Prof. Miriam Budiarjo politik didefenisikan sebagai bermacam-macam kegiatan yang menyangkut penentuan tujuan-tujuan dan pelaksanaan tujuan itu.

Pandangan anak muda terkait politik yang buruk dan licik memang sulit untuk dihindari di negeri ini. Hal tersebut dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan para penguasa yang menduduki jabatan. Bagaimana tidak setiap tahun bahkan setiap pergantian periode ada saja kasus yang membuat kita geleng-geleng kepala atau bahkan muak terhadap pejabat negeri. Kasus korupsi sampai saat ini belum mendapatkan titik terang akan keadilan, hukum yang dinilai tumpul ke atas, namun tajam ke bawah, istilah inilah yang digunakan untuk mengungkapkan kekecewaan akan keadilan di negeri sendiri. Selain kasus korupsi yang membuat geram seruntutan kasus-kasus lainnya juga turut menjadi problem. Lihatlah di media hari ini banyak sekali memberitakan seputar pemerintahan, seperti kasus suap, nepotisme, mafia, bisnis PCR di tengah pandemi, korupsi bansos, belum lagi wacana Pilpers dan lain sebagainya. Inilah realitas politik, tidak heran jika sebagian masyarakat mulai lelah dengan drama-drama yang dihadirkan.
Kejadian lain yang membuat anak muda menjadi enggan untuk berpartisipasi terhadap politik yaitu ketika mendekati Pemilu banyak politikus yang mengumbar janji palsu, banyak calon anggota legislatif yang mencoba meraih hati rakyat dengan berpura-pura berempati, tak jarang orang dari kelas ekonomi menengah bawah yang menjadi sasaran empuk melakukan politik money. Selain itu para politikus juga gencar mendekati para ulama untuk meraih hati masyarakat Indonesia, seperti yang kita tahu mayoritas penduduk Indonesia menganut agama Islam. Meski tidak semua politikus berbuat hal yang demikian, namun sejumlah oknum telah mengubah perspektif anak muda akan politik menjadi sangat negatif.
Melihat dari sudut pandang yang positif, setiap negara membutuhkan politik untuk menjalankan roda kehidupan. Sesungguhnya politik tidak seburuk itu, kemungkinan hanya oknum yang tidak bertanggung jawab tega memainkan politik untuk kepentingannya sendiri.
Sebagai anak muda yang akan menjadi penerus bangsa, pemikiran politik yang buruk harus kita ubah. Jika anak muda sudah enggan untuk berpolitik maka yang akan menduduki jabatan di pemerintahan adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Selain itu pemahaman politik yang masih terkesan kabur perlu adanya penjelasan untuk menghindari salah tafsir. Negara yang menganut sistem demokrasi memegang konsep kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat, “Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat,” demikian ungkapan Abraham Lincoln mengenai negara demokrasi. Jika kekuasaan negara ada di tangan rakyat, namun anak mudanya sudah tidak mempedulikan, siapa yang akan membenahi masalah politik yang masih timpang tindih?
Reference
Jurnal: Anisa Nasih, dkk, (2019). Peningkatan kesadaran politik di kalangan anak muda.
Prof. Mriam Budiarjo, (2008). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Gramedia. Jakarta.
