Konten dari Pengguna

Konstruksi Film 365 Days Bersadarkan Teori Mulvey

Nur Rahma

Nur Rahma

Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Program Studi Ilmu Komunikasi. Fokus pada Broadcasting. Suka membaca dan menulis. Usia 20 tahun berasal dari Masamba ,Sulawesi Selatan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nur Rahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Representasi pada konteks media dapat berupa bahasa, komunikasi, kata, gambar, sekuen, cerita dan lain-lain yang mewakili ide, emosi dan fakta lainnya (Hertley, 2010). Dalam sebuah film representasi dan gender tidak bisa dipisahkan, keduanya selalu berkaitan. Film 365 Days menjadi film dengan jumlah penonton terbanyak, kurang dari 24 jam film tersebut telah berhasil menduduki posisi pencarian teratas dan kategori film terfavorit. Film ini berhasil meraih penonton terbanyak lantaran cerita yang diangkat berkaitan dengan kepuasaan seksual. Namun, yang menjadi masalah adalah banyaknya adegan yang sebenarnya sedang meredahkan perempuan. Tampilan dan alur cerita yang nyaris sempurna sehingga masyarakat awam tidak akan menyadari adanya ketimpangan dalam film. Dengan menggunakan teori kritis Mulvey, memudahkan penulis untuk menemukan masalah pada film 365 Days.

Konstruksi gender dalam film 365 Days dimulai dari menampilkan perempuan cantik, putih dan seksi yang diperanka oleh Laura. Alur cerita film tampak sempurna dan berhasil membawa penonton untuk masuk ke dalam cerita menikmati adegan seksual yang diperankan oleh kedua tokoh. Selain penempatan angle kamera, shoot juga sangat memengaruhi emosi yang dihasilkan dari setiap adegan. Misalnya kamera yang menyerot seluruh tubuh tokoh wanita mulai dari ekstrem close up pada wajah Laura, memperlihatkan bibir berwarna cerah, selanjutnya menyorot bagian payudara hingga turun ke bagian pinggang yang ramping dan putih bersih. Selain itu film ini juga cenderung membenarkan kekerasan seksual. Demikian konstruksi yang ditampilkan oleh film 365 Days yang tayang di Netflix.

Sumber gambar shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar shutterstock

Berdasarkan penjelasan konstruksi film 365 Days sebelumnya, penulis menggunakan teori Laura Mulvey untuk mengungkapkan kejahatan media terhadap perempuan. Teori yang pertama adalah Male Gaze atau teori tatapan pria, dalam adegan ketika Laura berhadapan dengan Massimo, kemudian Laura membuka baju, kamera menyorot dari belakang, bidikan gambar mengenai bokong Laura kemudian dari arah depan Massimo menatap objek tersebut, selanjutnya adegan lauran mengangkat kedua kaki ke atas kursi, Laura berbalik memperlihatkan kembali bokongnya ke arah Massimo, kamera menyorot ekspresi wajah Massimo yang sangat menikmati, kemudian Laura naik ke atas ranjang melakukan adegan seksual dengan menggunakan alat-alat tertentu, masih dengan posisi yang sama kamera menyorot Massimo yang kembali mengamati aksi Laura. Secara tidak langsung Massimo telah mewakili tatapan pria yang menonton adegan saat itu. Adegan selanjutnya siapa yang bisa melupakan ketika Laura dan Massimo bermain golf, dengan gaya yang sangat seksual Laura beraksi dengan duduk di padang rumput, membuka lebar kedua pahanya, kamera menshoot dari arah depan lalu Massimo memasukkan bola kekedua paha Laura. Sekilas jika kita perhatikan permainan golf tidak berhubungan dengan gaya seksual, adegan ini hanyalah cara pembuat film membangkitkan hasrat seksual laki-laki yang melihatnya.

Analisis teori yang kedua yaitu Female Chracter atau penggunaan kostum yang bermasalah. Hampir keseluruhan film memperlihatkan perempuan menggunakan pakaian yang mini dan sangat terbuka. Tujuan pemilihan kostum tentu saja untuk mendukung adegan seksual para pemain. Masih terbayang jelas dibenak penonton adegan Laura yang menggunakan pakaian seksi, naik ke atas meja menghamipiri Massimo yang sedang berdiri mengamati, kemudian Massimo membuka seluruh pakaian Laura, sangat tampak bagian payudara didukung dengan pengambilan gambar yang mewakili mata penonton. Adegan selanjutnya adalah Laura dan Nacho yang berenang di pantai. Dalam film, pantai selalu indentik dengan perempuan berbaju seksi, seperti halnya film 365 Days, Laura menggunakan pakaian berwarna putih yang di mana pakaian itu akan tembus pandang ketika digunakan untuk berenang, nampaknya pemilihan baju bertujuan untuk memperlihatkan payudara Laura meski tidak membuka busana secara keseluruhan, penonton masih bisa menikmati lekukan tubuh Laura.

Kesimpulan dari analisis film 365 Days, perempuan hanya dijadikan objek pengamatan laki-laki dalam film. Seakan-akan objek kepuasaan seksual adalah bagian intim perempuan. Tidak bisa kita pungkiri hal tersebut juga dipengaruhi oleh orang yang terlibat dalam produksi film yang didominasi oleh laki-laki, maka film yang dihasilkan sebenarnya mewakili mata mereka.

References:

Jurnal: Ganjar Wibowo. 2019 “Representasi Perempuan dalam Film Siti