Konten dari Pengguna

Maladaptive Daydreaming: Pelarian atau Mekanisme Pertahanan Diri?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nura Rahmaniatul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi orang melamun. Dok: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi orang melamun. Dok: pixabay

Lamunan menjadi hal lumrah karena hampir dirasakan oleh setiap orang. Meski tidak jarang, mereka yang terlihat sering melamun dianggap sebagai sosok yang tidak produktif, malas, dan tidak kompeten. Melamun juga sering dianggap sebagai liburan sementara dari realita hidup yang murah dan tidak berbahaya. Namun, bagi sebagian orang perilaku ini berubah menjadi candu – bukan sekadar jeda, ia menjelma menjadi dunia baru. Tempat di mana pikiran manusia beralih fungsi dari tempat bernaung menjadi penjara tidak terlihat.

Kondisi ini disebut Maladaptive Daydreaming. Suatu kondisi di saat seseorang terlalu sering jatuh pada lamunan yang sangat hidup dan detail, hingga mengalami kecacatan pada tingkah laku maupun

kehidupan pribadinya. Hal yang seringkali disalahpahami, bahwa kemampuan “membayangkan cerita dengan detail” tidak melulu bisa disebut sebagai “imajinasi” melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) dari situasi yang tidak memuaskan.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa realita tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana yang sudah di tetapkan oleh manusia. Kegagalan, penolakan, dan ketidakpastian yang terjadi hampir dari seluruh bagian kehidupan. Membuat sebagian dari kita menerima tekanan berlebih dari standar yang sudah ditetapkan masyarakat, dan kehilangan kendali untuk mempertahankan kewarasan.

Di dunia baru yang diciptakan oleh sang pelamun, dirinya adalah sutradara yang bisa mengatur segala sesuatu agar sesuai dengan keinginannya, tidak ada lagi kekecewaan dan ratapan. Bahkan dalam beberapa kasus, penderita Maladaptive Daydreaming membuat dunia baru dengan versi ideal diri yang sangat jauh berbeda dengan realita kehidupannya. Perilaku itu menjadi kompensasi dari rasa inferior, ketidakberberdayaan, serta ketidakmampuan yang dialami oleh pelaku, untuk keluar dari situasi yang menghimpitnya di kehidupan nyata.

Fenomena ini diperkuat dengan era digital. Kemudahan yang diperoleh akibat dampak dari teknologi modern, menjadikan manusia lebih nyaman dengan kesendirian. Belum lagi, sajian konten yang berlebihan di media sosial (seperti tren/buku/film), menjadi pemicu utama seseorang untuk lebih memilih “hidup” di dalam pikiran mereka.

Budaya yang dibawa oleh era modern, secara tidak langsung juga menciptakan lingkungan yang masif untuk perkembangan Maladaptive Daydreaming, karena standardisasi masyarakat menjadi lebih tinggi (terkait dengan pernikahan, kesuksesan, dll). Hal ini memicu pertumbuhan kecemasan (Anxiety), dan mengisolasi individu secara emosional.

Tanpa disadari, penderita Maladaptive Daydreaming membayar harga yang sangat mahal di dunia nyata. Seperti tugas-tugas yang terbengkalai, insomnia, overthinking, hingga kerenggangan hubungan dengan orang-orang sekitar karena karakter fiksi dianggap lebih “sempurna” dari segala aspek.

Berdasarkan hal itu, kita perlu menyadari untuk lebih aware terhadap diri kita sendiri. Sebagai langkah pertama untuk berdamai dengan kondisi yang kita alami. Mulai dari memperbaiki apa saja yang sudah kita rusak saat terjebak dalam posisi tersebut, misalnya mengatasi kecemasan sosial, meminta bantuan profesional, dan belajar mengelola emosi.

Pada akhirnya, Maladaptive Daydreaming mengajarkan kita satu hal: betapa berharga dan dirindukannya rasa aman dan kendali di dunia yang serba tidak pasti ini. Tidak ada yang salah dengan melamun, sebab imajinasi merupakan tempat rehat sejenak yang sah bagi jiwa yang lelah.

Namun, membiarkan panggung fantasi mengambil alih kendali sampai melupakan peran utama kita di dunia nyata juga bukan sebuah solusi. Sebab cerita indah dalam hidup tidak pernah dapat diraih dalam lamunan yang sunyi, melainkan di perjuangkan lewat langkah-langkah kecil di dunia yang fana ini.