Perahu Kertas dan Cinta yang Datang Tak Tepat Waktu

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nur Anisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada pertemuan yang terasa begitu tepat, tetapi terjadi ketika hidup belum memberi ruang bagi dua orang untuk bersama. Ada pula mimpi yang harus disimpan lebih dulu karena kenyataan meminta seseorang menempuh jalan berbeda. Perasaan itulah yang mengiringi perjalanan Kugy dan Keenan dalam novel Perahu Kertas karya Dee Lestari.
Novel ini menghadirkan kisah dua anak muda dengan dunia yang berbeda, tetapi sama-sama menyimpan keinginan besar. Kugy mencintai dongeng dan ingin menjadi penulis, sedangkan Keenan memiliki bakat melukis yang membuatnya ingin menempuh jalan hidupnya sendiri. Pertemuan keduanya menumbuhkan kedekatan yang perlahan berkembang menjadi perasaan, meski tidak semua hal berjalan sesuai harapan.
Yang membuat cerita ini menarik bukan semata-mata pertanyaan apakah Kugy dan Keenan akan bersama. Dee Lestari justru membawa pembaca melihat bagaimana perasaan bisa tumbuh di tengah persahabatan, pilihan hidup, dan tuntutan yang datang dari lingkungan sekitar.
Ketika mimpi tak mudah diperjuangkan
Kugy bukan tokoh yang mudah dilepaskan dari dunia imajinasinya. Kebiasaannya membuat perahu kertas dan mengirimkannya kepada Dewa Neptunus memperlihatkan sisi dirinya yang unik. Di balik kebiasaan itu, ada cara Kugy menjaga hubungan dengan dunia dongeng yang ia cintai.
Sementara itu, Keenan berhadapan dengan persoalan yang berbeda. Kemampuannya melukis tidak serta-merta membuatnya bebas menentukan masa depan. Ada harapan keluarga yang harus dihadapi, juga pilihan yang membuatnya perlu mempertimbangkan kembali jalan yang ingin ditempuh.
Dari dua tokoh ini, pembaca dapat melihat bahwa memiliki bakat dan cita-cita tidak selalu berarti seseorang bisa langsung menjalani hidup sesuai keinginannya. Terkadang, mimpi harus berhadapan dengan keadaan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Menurut saya, bagian ini menjadi salah satu kekuatan Perahu Kertas. Persoalan Kugy dan Keenan terasa dekat dengan kehidupan anak muda yang sedang berusaha menemukan arah. Ada keinginan untuk melakukan sesuatu yang dicintai, tetapi ada pula tanggung jawab, tuntutan keluarga, dan ketakutan akan masa depan.
Novel ini tidak menggambarkan perjuangan meraih mimpi sebagai sesuatu yang selalu indah. Ada kebimbangan dan perubahan arah yang membuat seseorang harus kembali memahami apa yang sebenarnya ingin diperjuangkan.
Cinta yang tidak sesederhana pertemuan
Hubungan Kugy dan Keenan menjadi daya tarik tersendiri karena kedekatan mereka tidak langsung berakhir dalam kisah cinta yang sederhana. Ada perasaan yang tumbuh, keadaan yang berubah, serta pilihan yang membuat hubungan keduanya tidak selalu berjalan searah.
Bagi saya, bagian paling menarik dari kisah ini adalah kenyataan bahwa menyayangi seseorang tidak otomatis membuat kita tahu bagaimana harus bersikap. Ada kalanya perasaan sulit diungkapkan. Ada pula saat seseorang harus menerima bahwa orang yang disayanginya memiliki perjalanan dan keputusan sendiri.
Di sinilah novel ini terasa lebih dari sekadar cerita romantis. Cinta hadir bersama persoalan tentang kedewasaan, keberanian, dan kemampuan memahami diri sendiri. Pembaca tidak hanya diajak menunggu akhir hubungan Kugy dan Keenan, tetapi juga mengikuti perubahan yang mereka alami sepanjang perjalanan.
Kugy dan Keenan mengingatkan kita bahwa hubungan manusia tidak selalu berlangsung pada waktu yang tepat. Dua orang bisa saling berarti, tetapi tetap harus melewati proses masing-masing sebelum memahami apa yang sebenarnya mereka inginkan.
Perahu kertas sebagai simbol harapan
Perahu kertas dalam novel ini bukan sekadar benda yang menjadi bagian dari kebiasaan Kugy. Benda sederhana tersebut dapat dimaknai sebagai simbol harapan, imajinasi, dan pesan yang dilepaskan tanpa kepastian akan sampai ke mana.
Menurut saya, simbol ini membuat judul novel terasa dekat dengan keseluruhan cerita. Perahu kertas dapat dibuat dengan tangan sendiri, tetapi setelah dilepaskan ke air, arahnya tidak sepenuhnya berada dalam kendali pembuatnya. Begitu pula dengan kehidupan: seseorang dapat memiliki rencana, tetapi tidak semua hal akan berjalan sesuai keinginan.
Dee Lestari juga mempertemukan dunia dongeng dan lukisan sebagai bagian dari perjalanan tokohnya. Keduanya menjadi cara untuk memahami perasaan dan menjaga hubungan dengan hal-hal yang dianggap penting. Seni tidak hanya hadir sebagai latar, tetapi juga berkaitan dengan pencarian jati diri.
Bagi saya, inilah yang membuat Perahu Kertas layak dibaca oleh mereka yang sedang menghadapi persimpangan hidup. Novel ini mengingatkan bahwa perubahan arah bukan selalu tanda kegagalan. Terkadang, seseorang justru membutuhkan perjalanan panjang untuk mengenali tujuan yang benar-benar ingin dicapai.
Bukan cuma soal siapa yang bersama
Kekuatan Perahu Kertas terletak pada perpaduan kisah cinta, persahabatan, kreativitas, dan perjuangan menemukan diri sendiri. Kugy dan Keenan tidak hanya hadir sebagai pasangan yang membuat pembaca penasaran, tetapi juga sebagai individu yang memiliki persoalan dan impian masing-masing.
Memang, perjalanan cerita yang melibatkan banyak perubahan hubungan dan pilihan hidup membutuhkan perhatian pembaca. Namun, bagian-bagian itulah yang memberi ruang bagi perkembangan karakter dan membuat persoalan mereka terasa lebih manusiawi.
Pada akhirnya, saya melihat Perahu Kertas sebagai cerita tentang keberanian untuk tetap mengenali diri sendiri di tengah berbagai tuntutan. Cinta memang menjadi bagian penting dalam perjalanan Kugy dan Keenan, tetapi cita-cita dan pilihan hidup mereka juga memiliki tempat yang sama pentingnya.
Mungkin itu sebabnya kisah ini terasa dekat dengan banyak pembaca. Kita tidak selalu bisa memilih kapan bertemu seseorang, kapan menemukan keberanian untuk mengejar mimpi, atau kapan harus mengubah rencana. Namun, kita tetap bisa belajar dari setiap perjalanan yang membawa kita lebih dekat pada pemahaman tentang diri sendiri.
Sebab, tidak semua perahu kertas akan sampai ke tempat yang kita bayangkan. Namun, bukan berarti perjalanan yang ditempuhnya menjadi sia-sia.
