Konten dari Pengguna

Diskon Bukan Berarti Hemat: Cara Anak Muda Belanja Bijak

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurapni Oktavia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Growtika di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Growtika di Unsplash

Pernah membeli barang hanya karena sedang diskon, padahal sebelumnya tidak berencana membelinya? Situasi seperti ini sering dianggap sebagai kesempatan untuk berhemat. Namun, jika barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan, apakah pembelian itu benar-benar menguntungkan? Di sinilah literasi keuangan berperan penting dalam membantu anak muda mengambil keputusan belanja yang lebih bijak.

Di tengah banyaknya promo belanja, potongan harga, dan penawaran gratis ongkir, konsumen semakin mudah tergoda untuk membeli sesuatu secara spontan. Kemudahan berbelanja memang memberikan keuntungan, tetapi tanpa perencanaan yang baik, promo justru dapat membuat pengeluaran bertambah.

Persoalannya bukan terletak pada diskon itu sendiri, melainkan pada cara seseorang menentukan prioritas sebelum mengeluarkan uang. Karena itu, memahami literasi keuangan menjadi salah satu bekal penting bagi anak muda yang mulai mengelola uang saku atau penghasilannya sendiri.

Diskon Murah Belum Tentu Menguntungkan

Diskon sering kali membuat seseorang merasa sedang mendapatkan keuntungan. Misalnya, sebuah barang yang awalnya dijual seharga Rp200.000 mendapat potongan harga menjadi Rp150.000. Pembeli mungkin merasa telah menghemat Rp50.000.

Namun, jika barang tersebut tidak dibutuhkan dan tidak pernah masuk dalam rencana pengeluaran, pembeli tetap mengeluarkan uang Rp150.000 untuk sesuatu yang sebenarnya bisa ditunda atau tidak dibeli sama sekali.

Sebaliknya, jika barang tersebut memang dibutuhkan dan sudah direncanakan untuk dibeli, diskon dapat membantu mengurangi pengeluaran. Dengan demikian, hemat bukan hanya tentang mendapatkan harga murah, tetapi juga menggunakan uang sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.

Literasi Keuangan Membantu Menentukan Prioritas

Literasi keuangan bukan hanya tentang menabung atau mengenal produk keuangan. Literasi keuangan juga mencakup kemampuan memahami informasi, mempertimbangkan risiko, menyusun anggaran, dan mengambil keputusan yang sesuai dengan kondisi keuangan.

Bagi anak muda, kemampuan ini dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mencatat pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mempertimbangkan manfaat barang sebelum membelinya.

Sebagai contoh, membeli perlengkapan kuliah yang diperlukan tentu berbeda dengan membeli barang baru hanya karena sedang tren. Keduanya boleh saja dilakukan, tetapi kebutuhan utama dan kemampuan keuangan sebaiknya menjadi pertimbangan terlebih dahulu.

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diselenggarakan OJK bersama BPS menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia sebesar 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Kedua angka tersebut mengukur aspek yang berbeda, yaitu pemahaman keuangan dan akses terhadap produk serta layanan keuangan.

Data tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya pemahaman keuangan di masyarakat. Namun, angka tersebut tidak secara khusus menunjukkan kebiasaan belanja anak muda atau kemampuan mereka membedakan kebutuhan dan keinginan.

Mengapa Promo Bisa Membuat Pengeluaran Bertambah?

Salah satu tantangan dalam mengelola keuangan adalah keinginan membeli barang secara spontan. Penawaran seperti diskon terbatas, gratis ongkir, dan potongan harga dengan minimum transaksi dapat mendorong konsumen membeli barang di luar rencana.

Misalnya, seseorang awalnya hanya ingin membeli satu barang. Namun, karena ada promo dengan minimum transaksi tertentu, ia menambahkan beberapa produk ke keranjang belanja agar mendapatkan potongan harga. Akibatnya, jumlah uang yang dikeluarkan justru lebih besar daripada anggaran awal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa promo tidak selalu merugikan, tetapi perlu dipertimbangkan secara cermat. Konsumen perlu melihat total pengeluaran, bukan hanya besarnya potongan harga yang ditawarkan.

Cara Anak Muda Mengelola Keuangan dengan Bijak

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membangun kebiasaan keuangan yang lebih sehat.

Pertama, buat daftar kebutuhan sebelum berbelanja. Daftar ini membantu menentukan barang yang memang diperlukan sehingga keputusan pembelian tidak mudah dipengaruhi oleh promo.

Kedua, bandingkan harga dan manfaat barang. Jangan hanya melihat besarnya diskon, tetapi perhatikan harga akhir, kualitas, dan kegunaannya.

Ketiga, bedakan kebutuhan dan keinginan. Jika suatu barang tidak mendesak, berikan waktu untuk mempertimbangkan apakah pembelian tersebut benar-benar diperlukan.

Keempat, tetapkan batas pengeluaran. Anggaran belanja perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan setelah kebutuhan utama dan kewajiban lainnya diperhitungkan.

Terakhir, jangan merasa harus membeli barang hanya karena promonya akan segera berakhir. Tidak mendapatkan diskon bukan berarti mengalami kerugian, terutama jika barang tersebut memang tidak dibutuhkan.

Bijak Berbelanja Dimulai dari Kebiasaan

Mengelola keuangan dengan bijak bukan berarti harus menghindari semua promo atau berhenti membeli barang yang disukai. Anak muda tetap dapat menikmati hasil uangnya selama pengeluaran dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan finansial.

Literasi keuangan dapat diterapkan melalui keputusan sehari-hari, termasuk saat menghadapi berbagai penawaran belanja. Dengan memahami prioritas, menyusun anggaran, dan mengendalikan pembelian spontan, uang dapat digunakan secara lebih efektif.

Sebelum membeli barang karena diskon, cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah barang ini memang dibutuhkan, atau hanya menarik karena harganya sedang turun?

Pada akhirnya, keputusan finansial yang bijak bukan ditentukan oleh seberapa banyak diskon yang berhasil didapatkan, melainkan oleh seberapa baik uang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan keuangan.

Nama : Nurapni Oktavia

Dosen Pengampu: Whina Ratnawati S.E., M.M.