Ketika Jalan Baru Hanya Menjadi Jalur Lewat

Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Andalas kampus Payakumbuh dan Mahasiswi doktoral Ilmu Ekonomi Universitas Sumatera Utara
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nur Ari Sufiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Riset di Sumatera Utara menunjukkan jalan baru tidak selalu menggerakkan ekonomi daerah
Jalan baru sering dianggap sebagai tanda kemajuan.
Ketika jalan dibangun, masyarakat berharap ekonomi ikut bergerak. Usaha tumbuh, investasi datang, dan lapangan kerja terbuka.
Namun di banyak daerah, yang terjadi justru berbeda.
Jalan memang semakin bagus. Truk semakin ramai melintas. Distribusi makin cepat. Tetapi ekonomi lokal tidak benar-benar berubah.
Daerah hanya menjadi tempat lewat, bukan tempat tumbuh. Barang terus melintas, tetapi ekonomi warga tidak banyak berubah.
Fenomena ini muncul dalam riset yang saya lakukan pada 33 kabupaten/kota di Sumatera Utara selama 2020–2025.
Secara umum, pembangunan jalan dan infrastruktur lainnya belum otomatis mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Faktor yang paling konsisten memengaruhi pertumbuhan justru kapasitas ekonomi awal daerah itu sendiri.
Artinya, daerah yang sejak awal sudah kuat cenderung tetap tumbuh lebih cepat.
Namun ketika dilihat lebih dalam antarwilayah, hasilnya ternyata jauh lebih kompleks.
Dalam model penelitian, dampak jalan ternyata berbeda sangat jauh antarwilayah.
Di beberapa daerah efeknya positif, tetapi di daerah lain justru negatif. Koefisiennya bahkan bergerak dari -0,28 hingga 0,31. Artinya, jalan yang sama bisa memberi dampak ekonomi yang sangat berbeda di tiap daerah.
Temuan utama riset:
• Dampak jalan berbeda di tiap daerah
• Infrastruktur tidak otomatis menciptakan pertumbuhan
• Daerah yang sudah kuat tumbuh lebih cepat
• Sejumlah wilayah membentuk kantong ketertinggalan
Temuan ini menunjukkan satu hal penting: infrastruktur tidak bekerja dengan cara yang sama di setiap daerah.
Mengapa bisa begitu?
Karena setiap daerah memiliki kondisi yang berbeda.
Ada daerah yang sudah memiliki basis industri, pasar, tenaga kerja, dan aktivitas ekonomi yang cukup kuat. Ketika jalan dibangun, ekonomi langsung bergerak.
Namun ada juga daerah yang belum memiliki kesiapan tersebut. Akibatnya, jalan hanya mempercepat arus keluar barang tanpa menciptakan aktivitas ekonomi baru.
Dalam kondisi seperti itu, jalan memang semakin ramai, tetapi ekonomi lokal tetap tertinggal.
Ekonom pembangunan sudah lama mengingatkan bahwa infrastruktur tidak otomatis menciptakan pemerataan. Daerah yang sejak awal sudah kuat biasanya lebih cepat menikmati manfaat konektivitas dibanding daerah yang kapasitas ekonominya masih lemah.
Karena itu, pembangunan infrastruktur tidak selalu menghasilkan pemerataan. Dalam beberapa kasus, ia justru memperkuat konsentrasi ekonomi yang sudah ada.
Pola tersebut juga terlihat dalam hasil penelitian ini.
Beberapa wilayah dengan pertumbuhan rendah cenderung saling berdekatan dan membentuk klaster tersendiri. Ini menunjukkan adanya konsentrasi ketertinggalan secara spasial.
Sebaliknya, belum terlihat pusat pertumbuhan baru yang benar-benar kuat.
Artinya, konektivitas saja belum cukup untuk menghidupkan ekonomi daerah.
Peta Ketertinggalan Ekonomi Antarwilayah di Sumatera Utara:
Peta menunjukkan beberapa wilayah dengan pertumbuhan rendah saling berdekatan.
Pola ini membentuk kantong ketertinggalan ekonomi antarwilayah.
Temuan ini penting bagi kebijakan publik.
Selama ini, pembangunan sering menggunakan pendekatan yang seragam. Infrastruktur dibangun dengan asumsi bahwa manfaatnya otomatis dirasakan semua daerah.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Daerah yang sudah kuat lebih mudah memanfaatkan jalan baru untuk menarik investasi, memperbesar usaha, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi mereka.
Sementara daerah yang belum siap sering kali hanya menjadi jalur distribusi.
Dalam situasi tertentu, konektivitas justru mempercepat keluarnya sumber daya ekonomi menuju wilayah yang lebih maju.
Karena itu, pembangunan infrastruktur tidak bisa berdiri sendiri.
Jalan hanyalah alat. Dampaknya sangat bergantung pada kesiapan daerah dalam memanfaatkannya.
Tanpa industri lokal, kualitas SDM yang memadai, dan institusi yang kuat, infrastruktur sulit menghasilkan perubahan ekonomi yang besar.
Di sinilah tantangan pembangunan daerah hari ini.
Keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari panjang jalan atau jumlah proyek yang selesai. Yang lebih penting adalah apakah pembangunan benar-benar menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat.
Sebab pada akhirnya, jalan bisa saja menghubungkan daerah ke mana-mana. Tanpa kesiapan ekonomi lokal, jalan baru hanya membuat daerah lebih mudah dilewati, bukan lebih mudah berkembang.
