Konten dari Pengguna

Dystopia Modern di Balik Konten Selebritas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nur Hidayani Aulia Wati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang yang sedang menggunakan laptop dan gawai untuk mengakses media sosial. Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang sedang menggunakan laptop dan gawai untuk mengakses media sosial. Sumber: Pixabay

Ada sesuatu yang menarik dari cara kita menikmati media sosial hari ini. Kita dapat membuka ponsel dalam hitungan detik, lalu melihat seseorang makan di restoran mahal, berlibur ke luar negeri, membeli mobil baru, mengenakan barang bermerek, atau sekadar memperlihatkan bagian rumah yang tampak begitu sempurna. Semuanya hadir dalam layar yang sama dengan konten tentang kehidupan sehari-hari kita sendiri. Kemewahan tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh. Ia begitu dekat secara visual, meskipun belum tentu dekat secara material.

Di Indonesia, kedekatan semacam ini terjadi dalam skala yang sangat besar. Kementerian Komunikasi dan Digital, mengutip data APJII 2025, menyebut penetrasi internet Indonesia telah mencapai 80,66 persen atau sekitar 229,4 juta orang. Lebih dari 140 juta di antaranya merupakan pengguna internet yang aktif berinteraksi di media sosial. Artinya, kehidupan yang ditampilkan melalui layar bukan lagi sekadar tontonan bagi kelompok kecil. Ia telah menjadi bagian dari ruang sosial sehari-hari jutaan orang.

Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana: sebenarnya apa yang sedang kita konsumsi ketika melihat konten kemewahan para selebritas? Apakah kita hanya sedang melihat gaya hidup orang lain atau tanpa sadar sedang belajar menjadikan gaya hidup tersebut sebagai ukuran tentang seperti apa kehidupan yang dianggap berhasil?

Ketika Kemewahan Menjadi Pertunjukan

Konten flexing sering kali dipahami sebagai persoalan individual. Seorang selebritas dianggap sedang memamerkan kekayaan, sementara penonton tinggal memilih apakah ingin menyukai, mengomentari, atau melewati konten tersebut. Cara pandang ini memang tidak sepenuhnya salah, tetapi terlalu sederhana untuk menjelaskan fenomena yang jauh lebih besar.

Lebih dari satu abad lalu, ekonom dan sosiolog Thorstein Veblen memperkenalkan konsep conspicuous consumption dalam The Theory of the Leisure Class (1899). Bagi Veblen, konsumsi tidak selalu dilakukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan. Barang dan gaya hidup juga dapat digunakan untuk menunjukkan posisi sosial, kekayaan, dan prestise kepada orang lain. Dengan kata lain, nilai sebuah barang tidak berhenti pada fungsi praktisnya. Ia juga dapat memiliki nilai simbolik karena menunjukkan “siapa kita” di mata orang lain.

Dalam konteks media sosial, gagasan tersebut mendapatkan bentuk baru. Dulu, seseorang mungkin menunjukkan status sosial melalui pakaian, kendaraan, rumah, atau pesta yang dapat dilihat oleh lingkungan sosialnya. Kini, semua itu dapat dikemas menjadi konten, direkam, diedit, diberi musik, lalu disebarkan kepada jutaan orang. Konsumsi bukan hanya dilakukan untuk dinikmati, tetapi juga dapat diproduksi kembali sebagai pertunjukan.

Di sinilah konten flexing menjadi menarik secara sosiologis. Sebuah tas mahal tidak lagi hanya menjadi tas. Mobil mewah tidak lagi hanya menjadi alat transportasi. Liburan ke luar negeri tidak hanya menjadi pengalaman personal. Ketika semuanya ditampilkan kepada publik, barang dan pengalaman tersebut dapat berubah menjadi simbol status. Bahkan, penelitian eksperimental mengenai conspicuous consumption menunjukkan bahwa visibilitas suatu barang dapat meningkatkan kecenderungan konsumsi ketika pembelian tersebut berkaitan dengan status sosial.

Persoalannya, media sosial membuat pertunjukan tersebut tidak memiliki batas geografis yang jelas. Dulu, seseorang mungkin membandingkan dirinya dengan tetangga, teman sekolah, atau rekan kerja. Sekarang, ia dapat membandingkan kehidupannya dengan selebritas yang bahkan tidak pernah ditemuinya. Standar sosial menjadi semakin luas, sementara kemampuan material setiap orang tentu tidak bergerak dengan kecepatan yang sama.

Dari Keinginan Menjadi Mesin Ekonomi

Di sinilah kita perlu berhenti melihat konten selebritas hanya sebagai persoalan “pamer atau tidak pamer”. Ada sistem ekonomi yang membuat jenis konten semacam itu memiliki nilai. Media sosial bekerja dengan perhatian. Konten yang menarik perhatian memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan tayangan, komentar, bagikan, dan bentuk interaksi lainnya. Perhatian tersebut kemudian dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi melalui iklan, kerja sama merek, penjualan produk, afiliasi, hingga berbagai bentuk monetisasi lainnya. Dalam sistem seperti ini, kehidupan pribadi dapat berubah menjadi aset ekonomi. Maka, kemewahan bukan hanya sesuatu yang ditampilkan. Ia dapat menjadi bagian dari produksi konten itu sendiri.

Seorang selebritas memperlihatkan perjalanan, produk, kendaraan, pakaian, atau tempat makan. Penonton memberikan perhatian. Platform membaca respons tersebut. Merek melihat adanya audiens. Kerja sama komersial kemudian terbentuk. Setelah itu, lebih banyak konten serupa diproduksi karena terbukti mampu menarik perhatian. Siklus tersebut terus berputar.

Yang menarik, Indonesia sendiri sedang mengalami pertumbuhan pesat dalam aktivitas ekonomi digital. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 4,66 miliar transaksi pada November 2025, tumbuh 41,12 persen secara tahunan. Transaksi QRIS bahkan tumbuh 143,64 persen pada periode yang sama. Pada April 2026, volume transaksi pembayaran digital tercatat mencapai 5,15 miliar transaksi dan tumbuh 42,86 persen secara tahunan.

Tentu saja, data tersebut tidak berarti bahwa meningkatnya transaksi digital disebabkan oleh konten flexing. Hubungan kausal seperti itu tidak dapat disimpulkan dari data tersebut. Namun, angka ini menunjukkan satu hal yang relevan: masyarakat Indonesia semakin terhubung dengan ekosistem ekonomi digital. Di dalam ekosistem yang sama, konsumsi, hiburan, iklan, transaksi, dan representasi gaya hidup semakin mudah bertemu dalam satu layar. Karena itu, yang dijual oleh konten kemewahan sebenarnya bukan hanya barang mewah. Yang dijual juga adalah aspirasi.

Kita tidak hanya diperlihatkan sebuah tas. Kita diperlihatkan gambaran tentang kehidupan yang dianggap menarik ketika seseorang memiliki tas tersebut. Kita tidak hanya melihat hotel. Kita diperlihatkan sebuah kehidupan yang terlihat menyenangkan ketika seseorang mampu mengakses hotel tersebut. Kita tidak hanya melihat mobil. Kita diperlihatkan simbol keberhasilan yang melekat pada kepemilikan mobil itu. Pada titik tertentu, batas antara “melihat” dan “menginginkan” menjadi semakin tipis.

Dystopia yang Terlihat Seperti Utopia

Di sinilah istilah dystopia modern menjadi relevan. Dystopia biasanya dibayangkan sebagai dunia yang gelap, penuh kontrol, kemiskinan, atau kekerasan. Namun, dystopia modern tidak selalu harus hadir dalam bentuk tersebut. Ia bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih menyenangkan: layar yang penuh warna, kehidupan yang tampak sempurna, kebebasan memilih, dan berbagai kemungkinan untuk menjadi siapa saja. Masalahnya muncul ketika semua itu secara terus-menerus membentuk standar tentang kehidupan ideal.

Data BPS menunjukkan bahwa pada September 2025, persentase penduduk miskin Indonesia masih berada di angka 8,25 persen atau sekitar 23,36 juta orang. Pada periode yang sama, gini ratio Indonesia tercatat 0,363. Kelompok 40 persen penduduk dengan pengeluaran terbawah menyumbang 19,28 persen dari total distribusi pengeluaran. Angka-angka tersebut tentu tidak berarti bahwa masyarakat Indonesia secara keseluruhan hidup dalam kemiskinan. Justru sebaliknya, data tersebut perlu dibaca sebagai pengingat bahwa kemampuan ekonomi masyarakat sangat beragam.

Di satu sisi, ada kelompok yang memiliki kemampuan membeli barang dan pengalaman bernilai sangat tinggi. Di sisi lain, masih ada jutaan orang yang berhadapan dengan keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Di antara keduanya, media sosial menghadirkan satu ruang yang tampak egaliter: semua orang dapat melihat konten yang sama. Namun, kesamaan akses terhadap tontonan tidak berarti kesamaan kemampuan untuk memiliki apa yang ditonton.

Inilah salah satu paradoks media sosial. Kemewahan menjadi semakin mudah dilihat, tetapi tidak otomatis semakin mudah dicapai. Kehidupan orang lain dapat hadir di layar kita setiap hari, bahkan setiap jam, tetapi kondisi ekonomi yang memungkinkan kehidupan tersebut tetap berada di luar jangkauan sebagian besar penonton. Akibatnya, standar tentang “hidup yang baik” dapat bergeser. Rumah tidak hanya harus nyaman, tetapi harus terlihat estetik. Liburan tidak cukup hanya menyenangkan, tetapi seolah harus layak diunggah. Barang tidak hanya dinilai berdasarkan fungsi, tetapi juga berdasarkan bagaimana ia terlihat di mata orang lain.

Dalam situasi seperti ini, masalahnya bukan semata-mata bahwa seseorang menjadi iri kepada selebritas. Persoalan yang lebih besar adalah ketika rasa “belum cukup” terus diproduksi dan menjadi sesuatu yang bernilai secara ekonomi. Seseorang yang merasa hidupnya belum cukup dapat menjadi konsumen yang lebih aktif. Ia dapat membeli barang yang sebelumnya tidak direncanakan, mengikuti tren yang sebenarnya tidak dibutuhkan, atau terus mengejar simbol status baru karena standar tersebut terus berubah. Ketika satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan berikutnya.

Dystopia modern mungkin bukan dunia tempat manusia dilarang bermimpi. Bisa jadi justru dunia tempat manusia terus-menerus diberi mimpi, kemudian dibuat merasa tidak pernah cukup dekat dengan mimpi tersebut. Tentu, tidak semua konten kemewahan memiliki dampak negatif dan tidak semua penonton akan meresponsnya dengan cara yang sama. Bagi sebagian orang, konten tersebut mungkin hanya hiburan. Bagi sebagian lainnya, ia bisa menjadi inspirasi atau informasi mengenai produk dan gaya hidup. Karena itu, persoalannya bukan terletak pada larangan untuk menampilkan kemewahan, apalagi menyalahkan setiap selebritas yang memiliki kehidupan mapan. Yang perlu dipertanyakan adalah sistem yang membuat kehidupan seseorang dapat terus-menerus dikemas sebagai standar aspirasi, sementara perhatian kita menjadi bahan bakar ekonominya.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah siapa selebritas yang paling sering melakukan flexing atau siapa yang memiliki kehidupan paling mewah. Pertanyaannya adalah: siapa yang mendapatkan keuntungan ketika kita terus merasa belum cukup? Sebab di era media sosial, kita tidak hanya sedang menonton kemewahan. Kita sedang hidup di dalam sebuah sistem yang mampu mengubah kemewahan menjadi tontonan, tontonan menjadi perhatian, perhatian menjadi konsumsi, dan konsumsi kembali menjadi keuntungan.

Dystopia modern mungkin justru terletak di sana: bukan ketika kita tidak memiliki pilihan, melainkan ketika kita merasa bebas memilih, sementara pilihan tentang apa yang harus kita inginkan sudah lebih dulu dibentuk oleh sistem. Kita tidak hanya sedang belajar melihat kehidupan orang lain. Kita mungkin sedang belajar bagaimana cara menginginkannya.